Memacu Kreativitas Anak dengan Permainan Tradisional

METROSEMARANG.COM – Riuh tawa sekelompok anak terdengar di sudut Jalan Pahlawan, Semarang, Minggu (5/3) pagi. Anak-anak berlarian untuk bermain lompat tali, dan beberapa orang lainnya mencoba bermain egrang.

Sejumlah anak menjajal permainan lompat tali yang diperkenalkan Komunitas Kampoeng Hompimpa di Jalan Pahlawan Semarang, Minggu (5/3). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Permainan tradisional yang ada di situ diinsiasi oleh para aktivis Kampoeng Hompimpa. Saat hari bebas berkendara, mereka sengaja memboyong seperangkat alat permainan tradisional untuk diperkenalkan kembali kepada khalayak ramai.

Selain lompat tali yang sangat familier pada dekade 90-an, egrang, dakon, otok-otok, engklek dan ragam mainan lainnya pun ditampilkan di lokasi itu.

Menurut Anita Safitri, seorang aktivis Kampoeng Hompimpa, ragam permainan tradisional ia tunjukkan kepada anak agar mampu mengubah perilaku yang kini cenderung individualistik. Jelas hal ini membuatnya terenyuh apalagi jika tiap anak sudah kecanduan gadget.

“Biar anak mau keluar rumah dan bermain dg teman-temannya, maka saya perkenalkan lagi bermacam-macam permainan tradisional. Supaya mereka tahu apa itu egrang, seperti apa lompat tali dan lain sebagainya sehingga dapat meningkatkan kreativitas mereka,” kata mahasiswi PGSD Unnes Semester VIII itu kepada metrosemarang.com.

Kampoeng Hompimpa sendiri merupakan komunitas permainan tradisional yang telah eksis di sejumlah daerah. Berawal dari Tangerang, komunitas ini telah merambah ke Pontianak dan Semarang.

Beberapa anak yang tengah berolahraga di lokasi bebas kendaraan pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjajal permainan tradisional. Nagita, misalnya. Pelajar SMP asal Ngaliyan tersebut mengaku senang saat mencoba egrang.

Baginya egrang jarang ia temui di lingkungan rumahnya. “Kalau di rumah sering main gadget jadi enggak tahu kalau ada mainan kayak gini,” akunya.

Sudah tiga kali Kampoeng Hompimpa menggelar acara di pusat kota. Anita bilang komunitasnya akan terus mengedukasi masyarakat untuk mengurangi pemakaian gadget dan beralih memperkenalkan permainan tradisional lagi.

Saat ini, 30 anggotanya rutin berkeliling untuk mengadakan seminar-seminar maupun sosialisasi di tiap daerah. Ia berharap anak-anak tak lagi sibuk bermain gadget dan mau berbaur dengan lingkungan sekitarnya. (far)

You might also like

Comments are closed.