Memanggul Salib-salib Raksasa untuk Menghayati Pengorbanan Kristus

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 700 umat Katolik berjalan melambat di sepanjang ruas Jalan Susteran, Banyumanik, Semarang, pada Jumat pagi (14/4). Tiap orang bergantian memanggul kayu-kayu salib raksasa pada pundaknya. Tak ada rasa lelah, walaupun jarak tempuh untuk prosesi jalan salib terbilang cukup jauh.

Prosesi jalan salib di Banyumanik, Jumat (14/4). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Rute jalan salibnya dari Susteran lalu masuk dekat makam kemudian melewati kompleks perumahan dan kembali lagi ke Gereja Santa Maria Fatima. Itu sama saja dengan sejauh 2,1 kilometer,” kata Rafael Sunarto, Ketua Wilayah Gereja Paroki Santa Maria Fatima kepada metrosemarang.com di sela prosesi acara.

Ia mengatakan jalan salib berlangsung guyub dan damai. Semua orang muda Katolik yang terlibat dalam acaranya bahu-membahu membantu para peserta saat kelelahan memanggul salib.

“Setiap berhenti, mereka dikasih minum, lalu bergantian memanggul salibnya. Begitu seterusnya sampai tiba di gereja lagi,” ungkap Rafael.

Ribuan peserta jalan salib itu terbagi 14 kelompok sesuai wilayah masing-masing. Tiap iring-iringan yang memanggul salib, terdapat setidaknya 30-50 orang.

“Ini ada 15 salib terbuat dari kayu yang mereka boyong sampai ke pelataran gereja. Sungguh khidmat prosesinya. Inilah wujud pengorbanan Kristus yang sebenarnya,” tambahnya.

Ia memaknai ibadah Paskah tahun ini sebagai perayaan yang nyaman bagi umat Katolik. Dalam kondisi keamanan yang terkendali itulah, jemaat Gereja Santa Fatima selalu mendapat energi tambahan untuk dorongan semangar agar makin hidup sebagai pelopor peradaban kasih.

Karena itulah, ia tak terpengaruh pada aksi teror molotov yang sempat mengejutkan umat Katolik di Gereja Santo Yusuf Ambarawa.

“Walaupun saat mendengarnya sempat agak terkejut, namun begitu tahu seperti apa orang sesungguhnya yang mengebom, maka kita semua tenang. Kita nyaman beribadah tanpa gangguan apapun,” jelasnya.

Maria Yolanda, seorang gadis pemanggul salib berharap, Paskah 2017 tetap lancar sekaligus membawa kedamaian bagi umat manusia di muka Bumi.

“Meriah memang, umat juga semakin sadar kalau datangnya Paskah jadi puncak peribadatan yang menyimani hati kepada kristus. Lebih aman dan bermakna,” terangnya. (far)

You might also like

Comments are closed.