Membangun Chemistry bersama Gesekan Cello Alfi Emir Adytia

 

Alvin memainkan cello di tengah kebisingan kota. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Alvin memainkan cello di tengah kebisingan kota. Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Keputusan Alfian Emir Adytia dalam menggelar solo cello keliling di sejumlah kota di Jawa memang bukan tanpa sebab. Pasalnya, musisi muda berbakat asal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini ingin mempresentasikan instrument cello karyanya tersebut.

Pada Jumat (10/4) malam, konser mini digelar oleh ORArT ORET Art Space di Café Tanduk Sampangan, Semarang sebagai ruang presentasi karya pria asal Ngawi Jawa Timur itu. Semarang merupakan tempat keempatnya bersinggah, yang sebelumnya sempat mampir di Art Music Today Yogyakarta pada Januari, di Universitas Negeri Yogyakarta pada Februari, dan Maret lalu di Pertemuan Musik Surabaya.

Dengan mengusung tajuk ‘Koling (Kodaly Keliling)’, pria yang akrab dipanggil Alvin itu memaparkan dalam presentasinya, Kodaly merupakan sang komponis asal Hongaria yang sangat menghargai nilai-nilai kerakyatan. Ia menambahkan, kata bijak dari Kodaly yakni ‘musik adalah milik semua orang’.

“Kodaly menganggap musik adalah alat komunikasi yang ‘terus terang’, tanpa perlu belajar formal tentang ilmu bahasa atau sejenisnya. Memasang telinga lalu menikmatinya sudah cukup untuk membuat satu orang mengerti akan orang lain,” terangnya.

Berdasar pada pemikiran sang komponis asal Hongaria itulah Alvin menggagas presentasi karya musik kelilingnya. Sehingga, Koling sendiri ditujukan bukan hanya bagi wilayah akademi musik saja, melainkan juga untuk ranah umum. Alvin ingin membangun chemistry melalui gesekan cello yang ia mainkan.

Target program Koling kali ini sebenarnya lebih ke institusi musik serta sekolah ataupun komunitas musik, namun tidak menutup kemungkinan juga bagi Koling untuk menjamah pedesaan sampai pedalaman. “Tentunya untuk share pengalaman sekaligus promosi instrument cello ini,” tambahnya.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh pengelola forum diskusi Ruang Rabu dari FHK dan PMLP Unika Soegijopranata Donny Danardono tersebut, Alvin menjelaskan, instrument cello karyanya itu terinspirasi setelah ia menonton film dokumenter berjudul Into The Hound. Film tersebut memperlihatkan suasana hutan tropis di Amazon.

“Setelah itu muncul ide bermain cello tidak di dalam ruangan formal melainkan di alam bebas yang serba hijau, seperti di puncak gunung, tengah hutan, atau yang lainnya. Kemudian ide berkembang menjadi sebuah konsep tour yang bebas dan menyesuaikan kebutuhan tempat,” paparnya.

Konsep tour itu pun ia buktikan dalam pertunjukan solo cello sekitar 30 menit yang digelar sebagai pembuka acara. Dengan kondisi Café Tanduk sendiri yang ramai akan pengunjung dan letaknya tepat di pinggir jalan raya, tentu kebisingan tak dapat dihindari. Namun kebisingan tersebut ia manfaatkan sebagai bumbu dalam instrument cello tunggalnya itu.

“Instrument ini mengalun mengikuti suara alam. Jika di cafe ini ada suara blander ataupun apa ya gak masalah, karena itu yang saya cari. Mungkin kalau pentas di tempat lain akan berbeda lagi, instrument menyesuaikan tempatnya,” jelasnya.

Rencananya pada April ini juga, Koling akan mampir di Universitas Kristen Setya Wacana (UKSW) Salatiga. Kemudian Mei mendatang di Festival Musik Tembi 2015, Juni di Malaysia, dan Juli di Sekolah Musicasa Jakarta. (ans)

 

You might also like

Comments are closed.