Memburu Sarang Piton di Tengah Kota Semarang

sanca-kuning-pekunden
Salah satu ular jenis sanca kuning yang berhasil ditangkap warga Anggrek X.

METROSEMARANG.COM – Sejumlah warga Jalan Anggrek X Kelurahan Pekunden Kota Semarang yang resah terhadap kemunculan ular misterius, akhirnya nekat memburu sarang ular yang ditengarai berada di sekitar rumah mereka.

Perburuan sarang ular mulai hari ini, Sabtu (27/2) pagi. Mereka menyusuri satu persatu lahan kosong yang berada di sekitar Jalan Anggrek. Warga mula-mula berjalan kaki menuju lahan kosong yang mangkrak di ujung gang RT 05/RW V.

Namun sayang, warga bersama pawang ular dari komunitas pecinta ular Semarang dan Semarangker tak mendapati satu ekor pun saat menelisik keberadaan hewan melata di lokasi tersebut. Perburuan dilanjutkan di lingkungan RT 06/RW V. Di lokasi ini, warga nekat membakar ilalang di salah satu lahan kosong.

“Ularnya memang perlu ditangkap karena mengganggu ketenangan anak kosan yang tinggal di rumah saya,” terang Lina Kastati, penjaga rumah kos di RT 06/RW V Jalan Anggrek X Pekunden, kepada metrosemarang.com di lokasi perburuan ular.

Lina, panggilan akrabnya mengaku ular piton sebesar kaki orang dewasa sempat muncul di rumahnya. “Ya kita semua kaget lalu minta tolong sama tetangga sekitar untuk menyingkirkan ular di rumah. Kejadiannya sekitar sebulan terakhir,” kata Lina.

Tak hanya itu saja, lanjut Lina, ular piton berukuran kecil lagi-lagi mengejutannya karena tiba-tiba muncul dari balik sofa. “Kalau yang dua minggu lalu ukurannya kecil dan itu ditemukan oleh anak kos di sofa,” akunya.

Ia mengaku awalnya bingung dari mana asal ular tersebut. Sebab, setahu dia rumahnya selalu tertutup rapat. Tak ada celah untuk hewan melata masuk ke dalam rumahnya. Mendapati temuan itu, ia kemudian melapor kepada ketua RT setempat lalu diteruskan kepada kantor polisi terdekat.

Gara-gara munculnya ular piton di rumahnya, seluruh perempuan penghuni kamar kosnya menjadi was-was. Di rumahnya sendiri, saat ini terdapat 18 kamar yang dihuni anak kos perempuan. “Ularnya biasanya keluar pas hujan deras di malam hari,” bebernya.

Ia pun menduga, terdapat sarang ular di lahan kosong sebelah rumahnya. Hal ini mengingat lahan tersebut sudah mangkrak selama 10 tahun lebih.

Sementara itu, Wakil Ketua Semarangker, Slamet Risma Aji menjelaskan, munculnya ular di rumah warga Pekunden dipicu faktor cuaca. Ini artinya, jika hujan deras mengguyur wilayah Pekunden maka kondisi tanah jadi basah sehingga membuat puluhan ular naik ke permukaan tanah dan merambat ke rumah-rumah warga.

“Kebanyakan yang ditemukan ular piton dan sanca kembang. Memang ular piton ini bisa merambat sampai ke atap rumah karena punya sensorik yang berbeda,” papar Slamet.

Ia mengimbau kepada warga agar tidak panik. Sebisa mungkin kalau mendapati ular piton di rumah bisa ditangani dengan menutup kepala ular memakai kain lalu ditangkap atau melapor ke RT setempat.

Di tempat yang sama, Totok Suharto, anggota Bankom Polrestabes Semarang menyebut, ada belasan personelnya yang bersiaga di Pekunden untuk mencegah munculnya teror ular. “Di Pekunden, saat ini belum aman dari teror ular,” tegasnya.

Ia pun sulit memprediksi apakah itu ular bekas piaraan atau ular habitat lepas. “Itu pasti muncul lagi karena suhu udara di Semarang cenderung ekstrem dan panas. Kalau tikus masih banyak di sarang –sarang, ular pasti muncul lagi,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.