Memprihatinkan! Nama-nama Orang Ini Terancam Punah di Semarang

tren-nama-bayi-2016

Di Indonesia tren nama anak yang baru lahir bisa dikatakan hampir mirip mode busana. Berganti-ganti seiring dengan perkembangan jaman dan budaya populer.  Banyak yang mengadopsi nama-nama dari Eropa maupun dari Jazirah Arab. Pun di Kota Semarang kondisinya tak banyak berbeda.

Orang tua yang baru saja mempunyai anak cenderung mengggunakan nama-nama impor atau mirip-mirip dengan selebritis bahkan pemain sepakbola dunia. Misalnya di Semarang dapat kita temui anak yang memakai nama Ronaldo, Aliando, Rafael, dan sebagainya. Padahal orang tua sang anak adalah orang Jawa tulen dan tidak ada sangkut pautnya dengan negara Brazil atau Spanyol. Tentu hal ini sah-sah saja, sebagai orang tua tentu berharap dengan memberikan nama itu, sang anak bisa tumbuh dan dewasa dengan membawa karakter sesuai nama tersebut.

Tetapi seiring perkembangan tersebut, nama-nama lokal yang diambil dari bahasa Jawa dan telah digunakan ribuan tahun pun terancam punah. Padahal secara filosofi mempunyai makna yang dalam dan mulia.

Apa saja nama-nama Jawa yang sudah sangat jarang digunakan di Semarang?

– Wagiyo

– Suprapto

– Suparno

– Wartono

– Sumarto

– Supriyadi

– Wagiman

– Sutikno

– Paiman

– Sumiyati

– Watini

– Sukini

– Kasiyem

– Hariyanto

– Mulyono

– Kasianto

– Slamet

– Hartono

– Ngatiyem

– Suwarno

– Kamid

– Sumarmo

– Suharto

– Susilo

– Sutrisno

– Joko

– Sukawi

– Sukarno

– Yoyok

– Maryadi

– Pranowo

– Sutarno

– Bejan

– Riyanto

– Takroji

– Eko

– Parwito

– Sudibyo

– Santoso

– Sumaji

– Suryo

– Suwanto

– Jayadi

Sebenarnya masih banyak lagi-lagi, nama-nama Jawa yang terancam punah dan sangat jarang digunakan di generasi sekarang. Dan jangan kaget ketika berkenalan dengan sesorang bernama Rafael Aliando Alvaro dan kita mengira orang tersebut dari Spanyol, ternyata asli kelahiran Lemah Gempal, Semarang Barat Provinsi Jawa Tengah. (hwd)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.