Menapaki Jalan Mimpi Kartunis di Gold Pencil

Sekolah Kartun Pertama di Indonesia

Sistem kaderisasi di dalam masing-masing komunitas yang tidak berjalan begitu baik, membuat gerak perkembangan kartun di Semarang menjadi lambat

REMAJA pria yang tersenyum atas pencapaiannya. Selembar sertifikat prestasi ada di genggamannya. Tampaknya ia didukung oleh dua orang yang melambaikan tangan di belakangnya. Itu merupakan salah satu gambar yang digoreskan dalam kertas putih berukuran A3.

sekolah kartun
Penyerahan kaos oleh pengelola Sekolah Kartun Gold Pencil kepada salah satu siswa, sebagai penanda pembukaan kelas. (foto: metrosemarang/dokumentasi Gold Pencil)

Kertas lain menampilkan gambar seorang anak perempuan yang menggendong tas di punggung. Ia sedang berlari menuju Disney dan Studio Ghibli. Gambar-gambar itu dihasilkan para siswa Sekolah Kartun Gold Pencil, pada hari pertama dibuka, Minggu, 16 Desember 2018. Pelajaran hari itu adalah memvisualisasikan cita-cita dan motivasi mengikuti kelas kartun.

Sekolah Kartun itu memakai ruang di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang, Jalan Nakula II No 5 Pendrikan Kidul. Sekolah ini dirancang oleh Yayasan Gold Pencil Indonesia, sebuah organisasi berbasis di Semarang yang bergerak dalam kajian dan pengembangan kartun.

Pemotongan tumpeng dan penyerahan kaos Gold Pencil kepada para siswa angkatan pertama, menandai pembukaan sekolah tersebut. Penjaringan siswa yang dimulai sejak beberapa bulan lalu, menghasilkan enam siswa dengan rentang usia 12 tahun hingga 18 tahun. Jumlah siswa yang terjaring itu bukan masalah.

“Siswa-siswa ke sini tentu memiliki motivasi dan tujuan. Kami memakai pendekatan pesawat. Tidak masalah berapapun penumpangnya, kami berangkatkan menuju tujuannya,” kata Jitet Koestana saat memberikan sambutan pembukaan Sekolah Kartun Gold Pencil.

Jitet merupakan salah satu kartunis kawakan Indonesia. Ia mendirikan Gold Pencil dan kini didapuk menjadi penasihat di dalamnya. Selain Jitet yang telah puluhan tahun bekerja sebagai pembuat karikatur untuk berbagai media cetak nasional (Kompas, Jawa Pos dll), beberapa kartunis di Semarang tercatat sebagai pengajar Sekolah Kartun Gold Pencil.

Diantaranya Suratno, Djoko Susilo, Darsono, Partono, Boedy HP, Danny Yustiniadi dan Sardi. Beberapa diantara kartunis Gold Pencil itu pernah menyabet penghargaan internasional. Jitet sendiri merupakan pemegang rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk penghargaan kartun internasional terbanyak. Dalam jejaring internasional, Jitet merupakan salah satu pengurus Union of World Cartoonist (UWC), mewakili Indonesia.

 

Pertama di Indonesia

Kurikulum di sekolah ini disusun sejak awal tahun ini. Konsentrasinya adalah pada peningkatan kecakapan menggambar kartun. Siswa bakal mendapat fasilitas menggambar kartun selama kurang lebih lima bulan sejak sekolah dibuka.

“Siswa-siswa ini akan mengikuti program yang telah kami rancang, dalam setidaknya 20 kali pertemuan,” ungkap Manajer Program Sekolah Kartun Gold Pencil, Adi Prehanto.

Menurut Ketua Yayasan Gold Pencil, Abdul Arif, sejauh ini Sekolah Kartun Gold Pencil bisa dikatakan sebagai sekolah kartun pertama di Indonesia. “Bahkan mungkin satu-satunya di Indonesia,” ujar Arif. Pihaknya mendorong siswa Sekolah Kartun Gold Pencil untuk dapat berprestasi di tingkat internasional.

Sekolah Kartun Gold Pencil ini merupakan bagian dari program kaderisasi kartunis di Semarang. Program kaderisasi lain adalah Semarang Cartoon Camp yang digelar Oktober 2018 lalu. Dikatakan Arif, sejauh ini perkembangan kartun di Semarang terbatas pada kantong-kantong komunitas saja.

Sistem kaderisasi di dalam masing-masing komunitas yang tidak berjalan begitu baik, membuat gerak perkembangan kartun di Semarang menjadi lambat. Tidak seperti perkembangan seni kartun di Cina, Turki, Portugal, Brazil, dan Kroasia, negara-negara dimana Gold Pencil menyambungkan jaringan mereka.

Negara-negara itu memiliki kartunis-kartunis belia, hal yang belum muncul dari Indonesia. Suatu kali, seorang kartunis Portugal, Ricardo Ferreira, mengajak Gold Pencil untuk menggelar ekshibisi karya kartunis belia.

Ajakan tersebut tak dapat dipenuhi Gold Pencil, lantaran kala itu belum memiliki cukup karya yang dihasilkan kartunis belia. Itulah salah satu yang mendorong Gold Pencil untuk mewujudkan gagasan pembukaan sekolah kartun.

Reporter: Eka Handriana
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.