Menelisik Perjalanan Kampung Quran di Semarang

Kampung Kauman Semarang yang tak lama lagi akan menjadi Kampung Quran. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Kampung Kauman Semarang yang tak lama lagi akan menjadi Kampung Quran. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

METROSEMARANG.COM – Semarang yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah menyimpan banyak etnis, termasuk Arab di daerah Kauman. Di sana terdapat Masjid Agung Semarang yang bersejarah dan tak lepas dari alun-alun serta pasar tradisional terbesar se-Asia Tenggara, Pasar Johar.

Di kawasan tersebut juga terdapat kampung yang bisa mengakomodasi orang-orang yang ingin menjadi penghafal Alquran. Rata-rata, orang yang belajar menghafal Alquran di sana butuh waktu sekitar tiga hingga empat tahun.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Quran Khammad Ma’sum mengatakan, ada 16 asrama yang tersebar di Kauman. Keseluruhannya adalah Pondok Raudhatul Quran yang dia asuh.

“Ini uniknya, dengan tersebar demikian di penjuru kampung, maka terkesan wilayah ini adalah kampung dimana aktivitasnya sangat lekat dengan kitab suci umat islam,” kata dia, Rabu (3/2) di kediamannya.

Ma’sum menceritakan, dari awal didirikannya pondok menghafal Quran, yaitu pada 1952, sudah lebih dari 400 santri diwisuda dengan predikat Khafizd, atau hafal Alquran yang jumlahnya 30 juz.

Cara menghafalnya pun dilakukan setiap hari. Setiap santri dibebani untuk menghafal satu lembar Alquran kemudian disimak oleh guru, begitu seterusnya. Selain menghafal, santri diminta untuk memahami makna yang terkandung dalam Alquran agar tidak terjadi salah tafsir yang malah merusak ajaran dalam Alquran.

“Kesalahan dalam pemahaman ayat-ayat dalam Alquran ini yang dapat memicu munculnya paham radikal. Ini yang kami tekan. Kami ingin santri memahami secara benar karena sejatinya ajaran dalam Alquran sangat damai,” paparnya.

Setiap dua tahun sekali, Pondok Raudhatul Quran mewisuda santrinya yang sudah hafal 30 juz. Ritual besar-besaran pun digelar untuk memeriahkan acara tersebut dengan kirab dan menutup jalan di perkampungan Kauman.

Alih-alih protes karena jalan akses untuk pembeli ditutup, para pemilik toko di daerah Kauman malah sangat mendukung kegiatan kirab tersebut. Mereka seolah sudah menyatu dengan tradisi turun-temurun tersebut dan larut dalam kegembiraan santri.

Pada Sabtu (6/2) mendatang Pondok Raudhatul Quran akan kembali mewisuda 16 santrinya. Berbagai acara sudah dipersiapkan, seperti khitanan massal, pengajian yang diisi oleh Ketua PBNU, Agil Sirajd dan lain-lain. Malam tersebut pula akan dipasang papan pertanda sebagai penegasan bahwa Kauman adalah Kampung Quran. (ade)

You might also like

Comments are closed.