Mengabadikan Sejarah lewat Selembar Perangko

METROSEMARANG.COM – Semakin majunya teknologi komunikasi membuat nasib prangko semakin terpinggirkan. Padahal, dahulu sebelum teknologi maju, untuk mengirim surat kita perlu membeli selembar perangko dan mengirimnya lewat pos. Lantas, bagaimana kabar perangko saat ini?

Meski banyak ditinggalkan, para pecinta perangko atau filateli tetap setia membeli setiap pengeluaran edisi terbaru. Mereka yang tergabung dalam komunitas fileteli bahkan punya agenda rutin untuk kopi darat pada hari Minggu di pekan ketiga.

Kopdar filatelis di Kantor Pos Johar,  Minggu (20/3). Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Kopdar filatelis di Kantor Pos Johar, Minggu (20/3). Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

Ketua 2 Filateli Senarang Agus Wibawanto, mengungkapkan, penggeramar perangkau sudah ada sejak zaman belanda. Untuk itu, penggemar perangko tak ingin ketinggalan setiap ada seri keluar untuk dijadikai koleksi pribadi maupun dijual nantinya.

“Jadi untuk saat ini, dimana penggunaan perangko sudah menurun drastis, yang utama saat ini kita menjaga kelestarian arsip dan seni berkoleksi, karena filateli mencatatkan sejarah secara jujur,” kata Agus di sela-sela pertemuan Filatelis di Kantor Pos Besar Johar Semarang, Minggu (20/3).

Agus mengungkapkan, ada sekitar 50 filatelis tiap kali mengadakan kopi darat. Kegiatan setiap pertemuan juga tidak jauh-jauh dari perangko. Seperti jual beli perangko, tukar menukar koleksi, diskusi, atau jual beli produk-produk pos lainnya.

“Perangko merupakan bukti yang merekam sejarah secara jujur, sejak zaman dahulu sampai sekarang berbagai rekaman sejarah tertuang, misalnya perangko jaman reformasi 98, gedung DPR MPR diduduki mahasiswa semua ada dalam perangko,” sambungnya.

Tak heran, jika para filatelis pun banyak didominasi orang dewasa. Bahkan yang sudah berumur juga banyak. Perangko bagi filatelis sudah menjadi suatu bagian dalam hidupnya. “Filatelis akan tetap ada meski peminatnya tidak terlalu banyak,” katanya. (din)

You might also like

Comments are closed.