Mengais Rezeki dengan Berjualan Selongsong Ketupat Lebaran

METROSEMARANG.COM – Seperti tahun lalu, Sutarmi dengan telaten membangunkam suami dan anaknya pagi-pagi. Ia kemudian beranjak dari rumahnya di Mranggen, Demak untuk berangkat berjualan selongsong ketupat ke Semarang.

Penjual selongsong ketupat berharap rezeki berlipat jelang Lebaran. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di Pasar Peterongan. Ia langsung menggelar tumpukan janur di trotoar pasar dan mengambil beberapa ikat janur untuk dianyam menjadi selongsong ketupat.

“Ketimbang di rumah nganggur, mendingan jualan ketupat di sini. Apalagi ini puncak pembelian ketupat karena sudah memasuki hari terakhir puasa,” akunya saat ditemui metrosemarang.com di ruas jalan Peterongan, Sabtu pagi (24/6).

Sembari sibuk menganyam ketupat, ia bercerita bahwa keuntungannya saat ini dirasa sangat mepet. Ia harus merogoh kocek dalam-dalam agar dapat kulakan beberapa ikat janur.

“Harganya sekarang mahal, Mas. Satu ikat janur sampai Rp 220 Ribu. Makanya walau saya jual ketupat dengan isi 12 seharga Rp 10 Ribu-Rp 15 Ribu, saya cuma dapat untung sedikit banget,” cetusnya.

Kondisi tahun ini memang sangat berbeda, katanya. Ketersediaan janur yang semakin langka membuatnya tak bisa leluasa berjualan. “Tahun kemarin masih murah. Yang sekarang malah mahal. Biar begitu yang penting ketupatnya tetap laku,” katanya.

Sutarmi tak sendirian berjualan selongsong ketupat di trotoar. Masih banyak pedagang lainnya yang berbondong-bondong menggelar dagangannya agar diserbu pembeli. Sejak pagi ruas jalan Peterongan pun disesaki pedagang selongsong ketupat.

Nur Sahid, seorang pedagang selongsong ketupat lainnya kemudian mengungkapkan faktor yang memicu mahalnya harga janur di pasaran. Menurutnya, tak lain karena lahan pertanian yang biasanya ditumbuhi janur, kini semakin menyempit.

“Lahannya di Salatiga semakin habis gara-gara kena proyek jalan tol dan pembangunan gedung. Saya malah ngambil barangnya sampai Kebumen, Banjarnegara dan Batang,” ungkap Nur.

Sedangkan Jumiati, pedagang ketupat asal Bangetayu juga mengeluhkan hal serupa. Sebuah ikat janur ia dapatkan dengan harga Rp 100 Ribu. Bahkan, harganya bisa melejit naik bila membeli di dalam pasar.

“Makanya saya ngambil barang dari petaninya langsung. Kalau di pasar mahal,” terangnya.

Jumiati sudah dua hari berjualan ketupat di Peterongan. Ia rela menginap pada malam hari demi menunggu pembeli yang menghampirinya.

“Allhamdullilah ketupat saya laris. Sudah laku puluhan ikat. Ya saya berharap ini jadi berkah berlipat buat saya karena berjualan ketupat momentumnya hanya setahun sekali. Uangnya mau saya pakai buat Lebaran,” katanya sembari tersenyum simpul. (far)

You might also like

Comments are closed.