Mengayuh Teh Tong Tji

WS Irawan Foto: dok rawont.blogspot
WS Irawan
Foto: dok rawont.blogspot

SEINGATKU saat melakukan perjalanan menuju Asia Tenggara. Di sepanjang jalur dari Thailand menuju Cambodia, setiap warung makan akan menyediakan teko teh. Bedanya teh di tempat-tempat ini begitu bening seperti kuah Sup. Tapi khasiatnya, teh yang kerap disajikan dengan kondisi masih panas atawa setengah panas ini membuat seluruh tubuh kita terasa segar kembali.

Bagi sejumlah negara, minum teh bukan sekadar aktivitas biasa. Mereka menjadikannya interpretasi kultur dan tradisi, sebuah ritual unik tersendiri. Banyak manfaat bisa didapat dari secangkir teh. Ia mengandung antioksidan yang mampu mencegah perkembangan sel kanker. Uji klinis juga membuktikan kalau teh mampu meningkatkan metabolisme.

Selain itu dengan meminum teh, sistem kekebalan tubuh juga meningkat, menurunkan stres dan manfaat ringan lainnya. Makanya tak heran, teh banyak dijadikan pilihan untuk rutin diminum setiap hari. Namun tahukah Anda kalau di sejumlah negara, minum teh dijadikan tradisi?

Di negara tertentu, teh bukan sekadar jenis minuman sehat. Teh memiliki kelas tersendiri. Minum teh dijadikan tradisi interpretasi kultur. Tradisi yang mencakup aspek-aspek sosial, etika, dan estetika itu kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini lebih umum dikenal sebagai upacara minum teh. Di dalam sebuah upacara minum teh, terkandung tradisi-tradisi yang mencerminkan simbolisme dan formalisme seseorang. Upacara minum teh, juga sebagai bentuk penghormatan seseorang terhadap orang lain.

Upacara minum teh di tiap negara berbeda-beda. Semua memiliki keunikannya masing-masing. Adalah budaya upacara minum teh di sejumlah negara. Tentu setiap negara punya kekhasan dalam tradisi kultural minum Teh ini. Apa itu di Inggris, India, Rusia, Korea, Jepang dan lai-lain.

Di Indonesia khususnya, Teh di bawa oleh Belanda. Tapi tradisi minum teh diperkenalkan oleh orang-orang China. Utamanya di daerah Tegal. Jika kita memasuki daerah Pekalongan atawa Tegal, kita akan mencium Teh Tong Tji yang khas beraroma Melati.

Sekarang ini di Tegal ada empat pabrik teh besar yang menguasai pasar dalam negeri, yaitu teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, dan Teh Gopek. Keempat pabrik teh itu berdiri hampir bersamaan, yaitu sekitar tahun 1940-an. Kehadiran empat pabrik teh di Tegal, menurut Eko Handoko (34), generasi ketiga pemilik teh 2 Tang, karena posisi Tegal dekat dengan Pekalongan yang menjadi daerah perkebunan. Sebagian besar teh yang diproses di Tegal adalah teh beraroma bunga Melati.

Di wilayah Tegal sendiri sekarang sudah ada perkebunan bunga melati yang dikelola oleh masyarakat, yaitu di Desa Suradadi dan Sidoharjo. Menurut tradisi orang Tegal, orang yang berkunjung ke Tegal akan dihadiahi Teh Tong Tji sebesar ukuran korek api berwarna kuning. Kekhasan itu menunjukkan penghormatan orang Tegal pada tamunya.

Di Jepang semisal begitu, minum Teh adalah satu ritus atawa laku ritual yang punya etika dan estetikanya sendiri. Tradisi minum Teh di Jepang bahkan menjadi aset wisata menarik yang laku di jual. Bagaimana dengan di Indonesia khususnya di Tegal? Meski saya kerap juga mendapati warung-warung sederhana menjual Teh Poci dengan gula batunya. Tapi sebagai aset wisata, mestinya ada semacam outlet khas tradisi minum Teh di Pekalongan dan Tegal khususnya. Jadi bisa melengkapi aset lain yang sudah lama berlangsung seperti Batik misalnya.

Bung Karno menjadi manusia biasa yang sangat menyukai seni. Kemana pun, yang tidak boleh dilupakan dalam jadwal kunjungan adalah menonton opera, melihat museum, atau mengunjungi seniman setempat. Hollywood pun dikunjunginya, ketika Ronald Reagan dan Marilyn Monroe masih menjadi bintang film berusia muda. Dan untuk seorang seniman dan goweser seperti saya, seni minum Teh Tong Tji pun adalah semacam standing aplous untuk ritualism ini. Dan begitu aku tiba di Tegal. Ketika tuan rumah menawarkan minuman khas para seniman berupa Kopi. Aku minta Teh Tong Tji. Dan mereka pun menyajikannya meski secara ritual tidak dibutuhkan norma khusus dan waktu yang lama. Sebagaimana di Jepang, semisal begitu.

“Musisi harus menciptakan musik, Pelukis harus menggoreskan lukisannya, Penyair harus menulis syairnya, Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi dirinya sendiri”. (Abraham Maslow).

Bung Karno menjadi manusia biasa yang sangat menyukai seni. Kemana pun, yang tidak boleh dilupakan dalam jadwal kunjungan adalah menonton opera, melihat museum, atau mengunjungi seniman setempat. Hollywood pun dikunjunginya, ketika Ronald Reagan dan Marilyn Monroe masih menjadi bintang film berusia muda. Dan untuk seorang seniman dan goweser seperti saya, seni minum Teh Tong Tji pun adalah semacam standing aplous untuk ritualism ini. (*)

WS Irawan

Pengamat Kebudayaan dan Lingkungan asal NTB. Penulis lepas Lombok Post/Suara NTB/Radar Bekasi.

 

 

 

 

You might also like

Comments are closed.