Mengenal Arak Terbangan, Tradisi Koja yang Mulai Dilupakan

Sejumlah anggota PMM sedang mengadakan latihan rutin memainkan kesenian Arak Terbangan. Foto: metrosemarang.com/zidni ilma
Sejumlah anggota PMM sedang mengadakan latihan rutin memainkan kesenian Arak Terbangan. Foto: metrosemarang.com/zidni ilma

METROSEMARANG.COM – Pernahkah Anda menyaksikan atau setidaknya mendengar tentang Arak Terbangan? Di Semarang, kesenian semacam musik rebana yang dibawa oleh orang-orang Koja, etnis Pakistan-Indonesia, ini dipopulerkan oleh Persatuan Majelis Muslimin (PMM) dan pernah ditanggap hingga ke Istana Negara.

Arak Terbangan memang masih asing di telinga, khususnya generasi muda masa kini. Biasanya, tradisi ini digunakan untuk acara syukuran seperti khitanan, arak manten, aqiqah, maupun mauludan. Adalah PMM yang rutin memainkan kesenian tersebut. Komunitas yang didirikan oleh keluarga dari almarhum Ali Hasin ini sudah ada sejak lebih dari 70 tahun silam.

“Awal mula berdirinya PMM yaitu ketika ada anak orang kaya yang takut disunat. Akhirnya si anak diantar dengan arak-arakan supaya berani,” cerita Ahmad Ali, salah satu pengurus PMM, saat ditemui metrosemarang.com, di kawasan Pekojan Semarang, baru-baru ini.

Ali berkisah, komunitasnya kerap mendapat undangan untuk mengisi acara-acara perayaan yang diadakan pemerintah. Bahkan, mereka juga pernah unjuk kebolehan di hadapan Presiden Soeharto di Istana Negara.

“Dulu pernah dipanggil Presiden Soeharto di Istana Negara sekitar tahun 1992 untuk mengisi acara perkumpulan kesenian dari pemerintah. Sayangnya kesenian semacam itu sekarang sudah dihentikan,” lanjut pria yang dianggap sebagai pentolan PMM ini.

Mereka juga rutin mendapat undangan dai Pemerintah Kota Semarang untuk mengisi kirab Dugderan. Tapi, karena terkendala teknis, mereka pun enggan menghadiri tradisi tahunan tersebut.

“Tiap tahun kita dipanggil untuk acara Dugderan di Balai Kota, tapi kita gak mau hadir karena disuruh pakai seragam Arabia semacam jubah dan tidak diakomodasi. Kalau mau sewa pun biayanya mahal,” ceritanya, sambil menunjukkan foto-foto lawas PMM.

Dia menambahkan, PMM memiliki kegiatan rutin ketika Maulud tiba, yaitu mengadakan sunatan massal dengan modal biaya dari donatur. “Tahun ini kita ada 60 anak yang ikut sunatan massal, tapi yang dua gagal karena takut,” ujarnya.

Komunitas yang rutin melakukan latihan pada Jumat sore di Pekojan Semarang ini memiliki lebih dari sekitar 100 anggota, namun hanya sekitar 50 orang saja yang aktif. Sampai saat ini, Ali dan kawan-kawan masih kesulitan mencari anak-anak muda yang kelak bakal menjadi penerus PMM, sekaligus melestarikan kesenian Arak Terbangan.

“Kita maunya Arak Terbangan bisa terus dilestarikan. Sayang kalau sampai hilang karena tidak ada lagi yang mau memainkan,” pungkasnya. (Mg-01)

Comments are closed.