Mengikis Eksklusivitas Musik Klasik

METROSEMARANG.COM – Musik klasik identik dengan kesan eksklusif yang hanya dinikmati oleh golongan tertentu. Tapi, anggapan itu kini mulai terkikis dengan meningkatnya animo anak-anak muda untuk belajar musik jenis ini.

Adelaide Simbolon (tengah) bersama Hendrata Prasetya (kiri) dan Shuenda Wong. Foto: metrosemarang.com

Pianis senior Adelaide Simbolon menyebut bahwa musik klasik hanya bisa dinikmati masyarakat golongan elit adalah sebuah mitos. Menurutnya musik klasik tak jauh beda dengan genre musik lainnya sebagai seni rakyat.

“Dulu memang ada anggapan seperti itu karena mungkin peminatnya masih sedikit. Sekarang sudah jauh berbeda, apalagi makin banyak EO (event organizer) yang mengadakan kompetisi musik klasik dan ini tentu saja sangat membantu memperkenalkan musik klasik kepada masyarakat,” kata dia usai menjadi juri Indonesia Piano Competition di Grand Edge Hotel Semarang, Sabtu (6/5).

Wanita berdarah Batal ini mengakui jika Indonesia punya potensi luar biasa dalam perkembangan musik klasik. “Setiap kali saya datang ke daerah, selalu ada bakat-bakat baru yang muncul. Potensi mereka sangat luar biasa. Kesadaran orangtua untuk memperkenalkan musik klasik sejak dini juga makin meningkat,” cetusnya.

Senada juga diungkapkan Hendrata Prasetya. Pianis asal Surabaya menilai kompetisi musik klasik, khususnya piano seperti yang diinisiasi oleh Veranza Music sangat membantu dalam mengasah skill para musisi muda. “Dalam musik klasik tak cukup hanya teknik, tapi juga dibutuhkan mental yang bagus. Dan itu hanya bisa diasah lewat kompetisi,” ujarnya.

Shuenda Wong, juri yang didatangkan dari Malaysia juga mengagumi potensi pianis-pianis muda Indonesia. Kompetisi serupa juga rutin diadakan di negaranya.

“Kompetisi menjadi tolok ukur kemampuan masing-masing peserta, karena di situ sudah ada kategori berdasarkan tingkatan atau usia. Dengan begitu anak-anak punya kesempatan menampilkan kebolehan mereka sesuai kemampuannya,” kata dia.

Namun, upaya memperkenalkan musik klasik hingga ke pelosok daerah juga bukan tanpa kendala. Salah satu hambatan terbesar adalah sarana dan prasarana yang masih terbatas.

“Untuk mengangkut satu set piano memang cukup mahal, belum lagi dengan biaya sewanya, terutama untuk mengadakan sebuah event kompetisi. Tapi, sekarang juga sudah banyak kompetisi piano digelar di luar Jawa, seperti Bali, Pekanbaru dan Batam,” imbuh Adelaide.

Sementara, Soetiono Iskandar, owner Veranza Music menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk menjembatani pianis-pianis muda berbakat melalui kompetisi yang diadakan secara rutin. Dia optimistis Semarang bisa bersaing dengan kota-kota lain, khususnya Surabaya yang sampai saat ini masih menjadi ‘gudangnya’ pianis.

“Jawa Tengah dan Semarang grafiknya terus meningkat. Terbukti dari kompetisi yang kami adakan, pesertanya cukup banyak. Ini tentunya juga sangat positif untuk perkembangan musik klasik di Indonesia,” katanya. (twy)

 

You might also like

Comments are closed.