Mengintip Geliat Paralegal LBH Apik Mencegah Kekerasan terhadap Perempuan

METROSEMARANG.COM – Para pegiat LBH Apik Semarang melibatkan kaum disabilitas hingga pekerja rumah tangga (PRT) dalam mengatasi berbagai pelanggaran hukum yang terjadi di wilayahnya.

Kegiatan LBH Apik di Djikstra Cafe, Senin (27/3). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto 

Nur Kasanah, Staf Divisi Informasi LBH Apik mengatakan dua kelompok masyarakat tersebut penting untuk diajak kerjasama agar dapat meningkatkan pemahaman hukum terutama saat mencegah tindak kekerasan terhadap perempuan, anak serta perlakuan diskriminasi yang sering dialami kaum disabilitas.

“Kami akhirnya memasukan mereka dalam organisasi Paralegal sehingga ke depan keberadaannya semakian diakui masyarakat luas,” terang Nur saat dikonfirmasi metrosemarang.com, Selasa (28/3).

Ia mengungkapkan selain kaum disabilitas dan PRT, lembaganya mulai bulan ini juga bekerjasama dengan para ibu yang giat mendaur ulang sampah di Kemijen, nelayan serta beberapa organisasi perempuan dari Gunungpati.

Menurutnya Paralegal LBH Apik kini diharapkan mampu memakmsimalkan kemampuannya saat terjun ditengah masyarakat.

Sementara itu, Suryati, anggota Paralegal Posko SPRT Merdeka mengaku selain pernah mengadvokasi kasus seorang lansia yang ditelantarkan oleh keluarganya, dirinya nantinya akan memfasilitasi pelatihan hukum supaya bisa terus mendampingi masyarakat. “Saya juga pernah menangani kasus KDRT,” tuturnya.

Seorang anggota Paralegal dari Posko Disabilitas, Widayati tergerak jadi anggota Paralegal lantaran banyak program pemerintah mulai PKH, BSM, Jamkesmas yang belum menyentuh warga miskin. Ketidakadilan itu membuatnya prihatin, katanya.

Walaupun punya keterbatasan fisik, tetapi dirinya tetap bersemangat keluar masuk desa demi mencari penyandang cacat yang butuh bantuan.

“Lalu, saya berinisiatif mencari alamat dan datang ke Dinas Sosial, ternyata membuahkan hasil, saya dimasukkan dalam program pemberdayaan penyandang cacat melalui program menjahit,” cetusnya.

Sedangkan menurut Rustingingsih, anggota Paralegal Posko Kompari Keluarahan Kemijen, dirinya pernah menangani kasus pemerkosaan anak SMP kelas 2 yang pelakunya orang dewasa. Kasus yang menguras energi tersebut jadi pelajaran tersendiri baginya lantaran harus mampu menahan emosi selama memberikan pendampingan hukum.

“Dan pasti menyelesaikan masalah asalkan kita tetap berusaha dan bekerja juga berdoa,” jelasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.