Mengintip Pengembangbiakan Luwak di Semarang

METROSEMARANG.COM – Sekumpulan pemuda tampak berkerumun di salah satu sudut Lapangan Pancasila, Simpang Lima Semarang saat hari bebas berkendara (car free day/CFD) digelar pada Minggu (14/5) pagi.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Mereka menenteng kotak besar berisi beberapa ekor musang atau luwak. Warga Semarang yang tengah berolahraga di CFD pun penasaran dengan pengkembangbiakan hewan bernama latin Paradoxurus Hermaphroditus itu.

Kampanye pelestarian musang yang diinisiasi oleh Komunitas Musang Regional Semarang itu dimanfaatkan oleh warga agar dapat mengenal dekat hewan tersebut.

Rifki Alam, anggota Komunitas Musang Regional Semarang mengatakan pengembangbiakan musang bisa dilakukan dengan mengawinkan pejantan dengan betina dengan jenis ras yang berbeda.

“Ini hanya sekadar hobi saja, cara memeliharanya lebih gampang ketimbang kucing. Karena musang hanya butuh makan kepala ayam tiga kali sehari. Kalau masih kurang bisa ditambah pisang,” katanya kepada metrosemarang.com.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Sepasang musang, katanya bisa punya anak hingga empat ekor. Untuk saat ini, menurutnya musang jadi primadona bagi para pecinta hewan. Selain mudah perawatannya, harga jual musang juga lumayan tinggi.

“Seekor bayi musang bisa dihargai Rp 400 ribu, kalau yang indukan harganya paling murah Rp 1,5 juta. Tapi kebanyakan buat dikawinkan, bukan untuk dimakan,” ungkapnya. (far)

You might also like

Comments are closed.