Mengintip Replika Kapal Relief Borobudur di Ranggawarsita

METROSEMARANG.COM – Sebuah replika kapal berukuran cukup besar turut serta dipamerkan dalam ajang Museum Mart 2016 di Museum Ranggawarsita Semarang. Sehari menjelang penutupan pameran tersebut, para pengunjung masih berdatangan untuk menyaksikan dari dekat sejarah kapal tersebut.

“Itu adalah kapal yang dibuat berdasarkan gambar relief yang ada di Candi Borobudur,” kata Etha Farida pemandu wisata Museum Ranggawarsita Semarang saat berbincang dengan metrosemarang.com, Senin (16/5).

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Menurutnya replika kapal dibuat sama persis dengan relief Borobudur lengkap dengan layar dan anjungannya, agar pengunjung dapat mempelajari dengan detail bagaimana sejarah kapal itu pada era perdagangan rempah-rempah.

Pengelola Museum Ranggawarsita menamai kapal itu sebagai Samudra Paksa untuk menggambarkan kemampuan masyarakat Nusantara saat mengarungi lautan samudera sejak berabad-abad silam.

Pelaut Indonesia pada masa lampau memang tidak hanya melakukan pencarian hasil laut, melainkan juga melakukan pertukaran (barter) berbagai komoditas dengan bangsa lain.

Perdagangan lintas kawasan tak hanya dilakukan oleh orang-orang asing yang datang. Namun juga masyarakat Nusantara secara aktif terlibat hingga menjelajah ke berbagai wilayah terutama di seputar Samudera Hindia.

“Makanya, kapal ini kami letakan di tengah-tengah pameran sebagai ikon tema perdagangan dalam era niaga.
Maket kapal tersebut dibuat oleh Philips Weil arsitek Inggris dan miniaturnya tersimpan di Museum Borobudur,” katanya.

Lantas, apa fungsi kapal tersebut? “Sebagai ikon untuk mengantarkan komodias niaga rempah-rempah dari pulau satu ke pulau lainnya. Untuk itulah karena banyak rempah-rempah maka banyak bangsa asing yang mengincar Indonesia,” paparnya.

Secara keseluruhan, terdapat 24 museum yang berpartisipasi dalam pameran ini. Tiga di antaranya berasal dari Serawak, Sabah dan Brunei Darussalam. Pameran juga menampilkan puluhan manik-manik yang konon pada masa lampau sering dipakai oleh tokoh agama suku Dayak. Selain itu, ada pula keramik peninggalan Dinasti Ming dan jubah perang milik suku pedalaman di Sulawesi. (far)

You might also like

Comments are closed.