Menguak Jati Diri Supeno, Kaki Tangan Bung Karno atau Warok Ponorogo?

Menteri Supeno dikenal sebagai pejuang yang gigih dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Menteri Supeno dikenal sebagai pejuang yang gigih dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

KISAH heroik para pejuang Kemerdekaan Indonesia selalu menyimpan hal unik. Pada Era pemerintahan Kabinet Hatta di tahun 1946 disebutkan duo Proklamator Soekarno-Hatta melantik tokoh pemuda asal Pekalongan Jawa Tengah sebagai Menteri Pemuda dan Pembangunan. Pemuda itu bernama Supeno, anak pegawai jawatan perkeretaapian.

Perannya menonjol tatkala ia membantu Syafrudin Prawiranegara membentuk pemerintah darurat di Bukittinggi. Tapi tak banyak yang tahu jatidiri Supeno yang sebenarnya. Orang-orang hanya mengenalnya sebagai sosok misterius yang tiba-tiba muncul menumpas Belanda.

Bahkan, sang istri, Kamsitin Wasiyatul Khakiki pun tak banyak mengenal sosoknya. Perempuan yang akrab disapa Tien Supeno ini bercerita kepada metrosemarang.com, bahwa suaminya adalah sosok low profile.

Seingatnya, suaminya merupakan tokoh pemuda berotak cermelang. “Dia kan sekolahnya di Universitas Indonesia,” kata perempuan berusia 93 tahun ini, saat ditemui di rumahnya Jalan Wonodri Baru 29 Semarang, Selasa (18/8).

Karena itulah, Supeno menjadi orang kepercayaan Presiden ke-1 RI Soekarno pada zaman pergolakan Kemerdekaan Indonesia.

Tien mengisahkan suaminya juga membantu Presiden Soekarno menggelar sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk membentuk konsep negara Indonesia. Di luar hal itu, ia mengaku mengenal pribadi suaminya sebagai gerilyawan.

Bahkan, ia rela menyembunyikan identitasnya saat bergerilya di Yogyakarta. “Waktu singgah di Yogyakarta, dia membeli pakaian mirip pemain Reog Ponorogo,” ucapnya.

Berdasarkan penuturan Rosihan Anwar dalam bukunya berjudul SOEPENO ‘Pejuang Politik dan Gerilyawan’ terbitan Jakarta 5 April 1992, juga dikisahkan bagaimana Supeno memakai pakaian mirip pemain Reog untuk menyamarkan dirinya menjadi sosok rakyat jelata.

Ceritanya dimulai pada 17 Desember 1948 di sebuah rumah sederhana Jalan Kenanga Nomor 4 Yogyakarta. Saat itu, di dalam rumah mula-mula hanya ditempati Menteri Supeno bersama istri dan anaknya.

Pagi itu, ia hendak meninjau lokasi gerilya di Jawa Timur. Menurut jadwal yang disampaikan ajudannya, peninjauan Supeno merupakan perjalanan lama dan panjang. Karena Supeno memakai pakaian Reog, aksi penyamarannya nyaris berhasil hingga akhirnya tiba di lereng Gunung Wilis.

Namun, aksi penyamarannya tercium tentara Belanda saat ia mandi di air terjun Nganjuk. Alangkah terkejutnya melihat rombongan Supeno melihat tentara Belanda. “Lho Londo,” kata Rosihan menirukan rombongan Supeno di dalam bukunya.

Saat tertangkap Belanda, Supeno berjalan tegak lurus memandang ke depan. Bersama kawan-kawannya ia didorong tenta Belanda dan disuruh berjongkok untuk ditanyai “Siapa kowe?,”.

“Rakyat sini,” sahut Supeno. Lalu ditanya lagi “Kerja apa?,”. Lantaran berulang kali tak kunjung menjawab, maka Supeno ditembak pada bagian pelipis kepalanya. Hingga ia gugur bersimbah darah, baju Reog itulah yang melekat di tubuhnya. Kini, identitas aslinya masih menjadi misteri. (far)

You might also like

Comments are closed.