Menjaga Kelangsungan Hidup Para Raja

Penangkaran Kupu-Kupu Kebun Wisata Unnes

Kalau terbang, troides helena sangat indah, layaknya raja. Karena sayapnya yang sangat lebar, kupu-kupu ini sering jadi sasaran perburuan liar

HAWA sejuk terasa saat memasuki kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) Sekaran, Gunungpati. Berjarak lima kilometer dari gerbang, kami melihat hiruk pikuk mahasiswa Fakultas MIPA. Cukup riuh.

Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya tiba juga kami di tempat tujuan, Area Kebun Wisata Pendidikan Unnes. Ada sebuah rumah berselimut kelambu raksasa, yang berdiri kokoh di depan kebun. Beberapa mahasiswa terlihat sibuk mengutak-atik sebuah kandang di halaman belakang.

Reno Yuriansyah salah satunya. Ia girang bukan kepalang tatkala melihat seekor kupu-kupu bersayap merah menembus cangkang kepompong. Ya, kupu-kupu itu baru saja meninggalkan fase sebelumnya.

kupu raja kebun unnes
Kupu-kupu Raja di Kebun Wisata Pendidikan Unnes. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

“Ini baru aja menetas. Sayapnya masih basah. Jadi dia belum bisa terbang terlalu jauh,” kata Reno yang menempuh pendidikan di jurusan Biologi, Fakultas MIPA Unnes tersebut.

Sehari-sehari Reno disibukkan mengurus penangkaran kupu-kupu di Kebun Wisata Pendidikan Unnes. Sejak Januari 2019 ia dipercaya oleh pihak fakultas menjadi Direktur Green Community. Green Community sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa pelestari satwa dan tumbuhan.

 

Penangkaran Kupu-Kupu

Kupu-kupu yang menetas itu jenisnya paktriota. Reno bilang cukup mudah menetaskan kupu bersayap merah darah tersebut. Sebab kupu-kupu jenis itu memiliki masa pengembangbiakannya yang sangat cepat jika berada dalam lingkungan dengan asupan pakan yang memadai.

Untuk mengembangbiakkan kupu-kupu, harus dibuat kandang kawin berbahan kayu dan bersekat kawat. Instalasi penangkaran itu kemudian ditanami tanaman inang di dalamnya. Tanaman tersebut berfungsi sebagai pakan kupu-kupu.

“Inangnya berasal dari pohon-pohon yang sering dihinggapi kupu-kupu. Seperti ceri hutan atau kersen,” kata Reno. Menurutnya, kupu-kupu pasti akan menaruh telur ke tanaman inangnya.

Luas penangkaran kupu-kupu yang ada di Kebun Wisata Pendidikan mencapai 10×5 meter persegi. Luasan itu sebetulnya kurang ideal. “Masih kecil. Tapi karena ada hambatan dana, ukuran segini sudah cukup. Bukan persoalan lagi,” ujer Reno.

Selama periode Januari-Februari 2019 lalu, Reno mampu mengembangbiakan 90 ekor kupu-kupu. Pada Maret, ia sedang menunggu siklus ulat menjadi kepompong. Kupu-kupu punya panjang siklus perkembangbiakan selama 28 hari.

Sayangnya umur seekor kupu-kupu hanya singkat. Cuma dua pekan saja. Penyebabnya beragam. Mulai faktor lingkungan, cahaya dan ketersediaan inang sebagai pakannya.

Di rumah penangkarannya, Reno dan rekan-rekannya kerap menangkarkan kupu-kupu paktriota dan troides helena. Nama terakhir dikenal sebagai kupu-kupu raja lantaran bentang sayapnya yang lebar dengan corak warna perpaduan hitam pekat dan kuning keemasan.

“Kalau terbang, troides helena sangat indah, layaknya raja. Karena sayapnya yang sangat lebar, kupu-kupu ini sering jadi sasaran perburuan liar. Makanya, kita tergerak untuk menjaga ekosistemnya supaya tidak musnah,” kata Reno lagi.

Dengan perubahan iklim yang ekstrem, Reno harus mengakali perkembangbiakan kupu dengan menaruh tumbuhan inang ke dalam kandangnya. Menurutnya, anomali cuaca telah membuat habitat kupu-kupu berangsur surut.

Jika medio 2011 hingga 2016 silam Green Community masih dapat menginventarisir 65 spesies yang hidup di lingkungan Unnes, kini jumlahnya kurang dari 20 spesies.

“Karena udara yang tambah panas dan perubahan cuaca ekstrem sangat mempengaruhi kehidupan kupu-kupu. Kendalanya di situ. Harus disiasati sebaik-baiknya,” akunya.

Secara keseluruhan, ada delapan jenis kupu-kupu yang sejauh ini dikembangbiakkan di Kebun Wisata Pendidikan Unnes. Kedelapan jenis kupu-kupu itu tidak termasuk jenis yang dilindungi.

Penanggungjawab Kebun Wisata, Dr Margaretha Rahayu Ningsih menyebut kupu-kupu yang dikembangkan kebun wisata itu termasuk dalam daftar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). CITES merupakan konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam.

“Jadi proses penangkaran harus dilakukan untuk kategori F2. Salah satunya kupu raja dan paktriota,” kata Margaretha. F2 merupakan generasi kedua hasil persilangan.

Ide penangkaran kupu-kupu itu sendiri terbesit sejak 2009. Kala itu beberapa mahasiswa prihatin melihat perubahan iklim yang menggerus ekosistem kupu-kupu.

“Ketika menanam pohon ceri hutan, mahasiswa menemukan banyak kupu yang hinggap,” kata Margareth. Maka sejak 2010 sampai sekarang aktivitas penangkaran terus digalakkan untuk menjaga kupu-kupu raja dan teman-temannya tetap lestari di Unnes.

“Sekarang jumlah kupu-kupu raja semakin banyak. Saya berharap, masyarakat ikut menjaga populasi kupu kupu dengan menghentikan perburuan di alam liar,” pungkas Margaretha (*)

 

Comments are closed.