Menjual Kota Lama Semarang lewat Oudetrap

Gedung Oudetrap bakal menjadi percontohan pengelolaan bangunan kuno sehingga bisa menarik investasi di Kota Lama. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono
Gedung Oudetrap bakal menjadi percontohan pengelolaan bangunan kuno sehingga bisa menarik investasi di Kota Lama Semarang. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono

SEMARANG – Akuisisi Gedung Oudetrap menjadi salah satu terobosan Pemkot Semarang untuk menghidupkan Kota Lama Semarang , sekaligus ‘menjual’ kawasan yang memiliki ratusan bangunan cagar budaya itu agar dilirik investor. Langkah ini mendapat apresiasi dari banyak kalangan, meskipun tak sedikit yang mempertanyakan nominal Rp 8,7 miliar untuk pembelian bangunan di Jalan Taman Srigunting No 3 tersebut.

Kini, sebuah gedung di belakang Gereja Blenduk, Kota lama Semarang telah menjadi milik Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Semula ada 10 bangunan nominasi untuk dibeli. Dari jumlah itu setelah dikaji dan didiskusikan bersama SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait dan BPK2L (Badan Pengelola Kawasan Kota Lama) mengerucut hanya tiga gedung, yaitu Marbah, eks BTPN, dan Gedung Oudetrap.

“Untuk harga tanahnya sendiri, secara keseluruhan adalah Rp 7.056.400.000. Sedangkan harga bangunannya adalah Rp 1.647.100.000,” ujar Kepala Bidang Aset Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kota Semarang, Satrio Imam.

Harga tersebut dirasa cocok lantaran harga sewa beberapa gedung di sekitarnya mencapai Rp 200 juta per tahun. Asisten 1 Setda Kota Semarang, Eko Cahyono menjelaskan, sebelumnya, gedung Oudetrap merupakan milik perorangan. “Ada delapan nama yang ada dalam sertifikatnya,” ungkap Eko.

Kondisi Gedung Oudetrap sendiri tidak 100% bagus, tapi banyak bagian bangunan yang masih asli, seperti tangga dan pilar tengah. Pada 2015, pemkot menyediakan anggaran perawatan Gedung Oudetrap. Sedangkan untuk pengelolaan selanjutnya menjadi wewenang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Untuk tahun ini, Pemkot sudah menyiapkan dana segar sekitar Rp 2 miliar untuk merevitalisasi gedung tua tersebut agar bisa digunakan. Namun, Pemkot akan membiarkan beberapa ornamen, terutama bagian depan tetap utuh seperti yang terlihat sekarang.

Menurut informasi yang dihimpun, bangunan yang juga dikenal dengan Gedung Gambir itu pernah dilelang sebelumnya, yakni pada Mei 2004 lalu. Harganya pada waktu itu hanya sekitar Rp 2,4 miliar. Namun, saat ini, Pemkot menebusnya dengan harga hampir empat kali lipat.

Ditanya mengenai hal tersebut, Eko mengaku tidak tahu riwayat pelelangan gedung yang memiliki luas tanah 1.196 meter tersebut. “Kami membayarnya berdasarkan penghitungan tim appraisal yang bertugas,” kata dia.

Lebih lanjut, dia menerangkan, fungsi gedung tersebut nantinya bisa berfungsi sebagai homebase ketika Pemkot mempunyai agenda di kawasan Kota Lama Semarang. Tujuan besarnya adalah untuk mempermudah pengelolaan Kota Lama. Terlebih lagi, Pemkot tengah berencana mengajukan Kota Lama sebagai kota warisan dunia ke Unesco.

“Jika ada tamu dari luar, bisa kita gunakan untuk tempat menjamu. Selain itu juga bisa digunakan untuk Tourism Information,” kata dia. Namun Pemkot belum punya rencana pasti akan difungsikan untuk apa gedung tersebut.

Pemkot bahkan berencana untuk membeli beberapa gedung lagi yang berada di kawasan Kota Lama. “Kesulitan kami saat ini adalah menemukan pemilik aslinya. Karena kebanyakan statusnya adalah disewakan,” ujar Eko. (ade)

You might also like

Comments are closed.