Menyemai Benih-Benih Karikaturis

Berjibaku di Kontes Internasional

Saat para senior seniman karikartur mulai menua, sudah saatnya melakukan regenerasi.

EDOS Yuli Aditya sedang membuat guratan-guratan di atas kertas dengan pensil warna di ruang perpustakaan SMP Negeri 17 Semarang, Senin (13/8/2018) siang. Ia dikejar waktu untuk segera merampungkan karikatur yang bakal dikirimkan ke kontes internasional di Kroasia.

“Baru dua kali ikut lomba. Bulan ini, saya diminta oleh guru untuk ikut lomba di Kroasia,” aku siswa Kelas IX itu. Edos tak sendiri. Tiga teman yang sebaya dengan dia juga tengah merampungkan karikatur untuk kontes.

karikatur semarang
Edos bersama kawan-kawannya, ditemani Suratno menyelesaikan karikatur yang akan diikutsertakan dalam kontes di Turki. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto

Karikatur bukan barang baru bagi Edos. Hobi corat-coret sudah ia tekuni sejak sekolah dasar. Semula hanya menggambar ala kadarnya. Bakat Edos terasah tatkala ia bertemu dengan seorang guru pelajaran seni dan budaya di bangku Kelas VIII, SMP Negeri 17 Semarang.

“Setelah ketemu Pak Ratno dan diajari cara menggambar yang benar, akhirnya saya ikut ekstrakulikuler karikartur. Saya ikut ekstra itu dari kelas VIII sampai kelas IX,” tutur Edos.

Pak Ratno yang ia maksud tak lain adalah Suratno, guru pelajaran seni dan budaya di sekolah tersebut. Menurut Ratno, karikatur menjadi cara paling ampuh untuk memupuk kreatifitas para siswa di bidang seni menggambar.

“Menggambar karikatur itu seni yang paling mudah. Saat anak-anak sulit melukis karena terkendala teknik dan warna, dengan kartun mereka bisa luwes menggambar apa saja. Tidak ada yang salah di karikatur. Boleh gambar kepala yang besar atau kecil. Yang penting, pesan yang dituangkan dalam gambar bisa sampai ke publik,” ungkap Suratno.

Berlatar belakang sebagai seorang karikaturis, Suratno tak segan menularkan ilmunya. Kala senggang di waktu istrahat sekolah, ia ikut menggambar bersama muridnya. Baginya, itu penting. Sebab bisa saling tukar pengalaman dengan murid-muridnya, demi memunculkan ide-ide baru nan segar.

“Biasanya saya menggambar di dekat mereka. Saya tunjukan cara mewarnai yang menarik. Mengambil tema yang memikat para juri. Itu cara yang bagus agar mereka mengasah kemampuannya menggambar karikartur. Itu pula yang saya lakukan ketika pertama kali belajar membuat karikartur,” ujar Suratno.

 

Segudang Prestasi

Ketertarikan siswa-siswi SMP 17 pada karya seni karikatur itu dipicu oleh prestasi Suratno sendiri tahun lalu. Pada September 2017, Suratno memenangkan kontes karikatur yang dihelat di Serbia. Para siswa seperti tertular, memiliki mimpi pencapaian seperti pencapaian Suratno.

Tahun 2017, Suratno memenangi 19th Antiwar Cartoon Saloon 2017, di Serbia. Tahun itu, Suratno juga menyabet Gold Prize The 6th Sejong International Cartoon Contest (SICACO) Korea Selatan.

“Pas saya menang lomba di Serbia, anak-anak di SMP 17 senang luar biasa. Mereka enggak mengira kalau gurunya bisa dapat medali perak di Serbia. Dari situ, mereka pelan-pelan mulai mengasah bakatnya. Dari seorang, jadi dua orang hingga saat ini ada puluhan yang menekuni karikartur,” urai Suratno.

Beragam kontes karikatur internasional terus diikuti para murid-murid Suratno. Mulai kontes di Serbia, Argentina, Brasil, Cina, Rusia hingga Turki. Suratno berpendapat, dengan mengikuti kontes karikatur internasional, karya para siswa dapat dikenal luas di seantero dunia. Alhasil, hanya dalam setengah tahun sejak mereka mulai menggeluti karikatur, 54 piala dan piagam kontes karikartur yang memenuhi almari pajang SMP 17.

Yang menjadi catatan tak kalah penting bagi Suratno adalah, karikatur buah karya anak didiknya dilirik oleh para pemimpin mancanegara. “Karena ketika sedang berkompetisi, pasti karya mereka (murid Suratno –red) dilihat oleh para pemimpin negara. Padahal pemimpin negara ini menjadi obyek yang dikritik atau figur yang dipilih sebagai temanya,” terang Suratno.

 

Tema Kemanusiaan

Sebentar lagi, selain kontes karikatur di Kroasia, siswa-siswi SMP 17 juga bakal mengikuti kontes karikatur di Turki dan Rumania. Ada 84 siswa yang akan mengirimkan karya ke Kroasia. Menurut Suratno, murid-muridnya itu ulet. Mereka kerap mengungguli ratusan peserta dari negara lain dalam setiap perlombaan.

Negara yang ikut kontes mencapai 90 sampai 112 negara. Jumah terbanyak adalah dari Iran. Mereka rutin ikut lomba dengan 300 peserta. Kemudian ada juga Rusia, Cina, Brasil, Argentina, dan Turki. Dikatakan Suratno, Iran adalah pesaing terberat karya karikatur dari Indonesia. Namun tak ada kegentaran, sebab karikatur hasil karya murid-murid Suratno memiliki keunggulan.

Karikatur buatan murid-murid Suratno selalu unggul pada tema perdamaian dan lingkungan. Menurut Suratno, murid-muridnya menjadi unggul karena memegang kuat nilai-nilai kemanusiaan sebagai pegangan hidup. Itu tak lepas dari nilai-nilai Pancasila yang sudah mendarah daging.

Suratno memberitaukan jurus-jurus jitu untuk memenangi kontes, kepada murid-muridnya. Pertama, pembuat karya harus konsisten. Kedua, temanya sebisa mungkin dikaitkan dengan isu lingkungan, perdamaian dan aksi kemanusiaan. Ketiga tema itu, kata Suratno, paling disukai masyarakat luar negeri.

“Orang Barat suka sekali lihat karikatur dari Indonesia dengan tema kemanusiaan dan perdamaian. Contohnya ketika menang di Serbia, saya diminta bicara tentang sisi kemanusiaan. Sebab, orang barat pingin belajar perdamaian dari Indonesia,” paparnya.

 

Jadi Ekstrakurikuler Sekolah

Karikaturis senior asal Semarang, Jitet Koestana, adalah orang yang mendorong Suratno untuk mengajak murid-muridnya mengikuti lomba kartun internasional. Berkat Jitet, kini capaian SMP Negeri 17 Semarang dalam seni karikatur di bawah asuhan Suratno, mulai diperhatikan tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Kota Semarang.

Jitet Koestana memegang rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 1998, sebagai peraih penghargaan internasional terbanyak, 36 buah. Karya karikaturnya mendapat Grand Prize dan Golden Prize pada beberapa kontes di Korea Selatan, Spanyol, Suriah, hingga Jepang. Ia pernah mengisi kolom humor di koran Jawa Pos, tabloid Gaya dan tabloid Senior. Jitet kemudian mengisi kolom kartin di harian Kompas menggantikan G.M Sudarta.

Tahun ini, tim MGMP telah memasukan ekstrakulikuler karikartur dalam berbagai agenda lomba kesenian tingkat kotamadya. Hasilnya akan dikirim ke lomba internasional. Kepala SMP Negeri 17, Hariyanto, mengakui potensi besar siswa-siswinya di bidang seni karikatur. “Kami memberi dukungan penuh untuk karikatur masuk ekstrakulikuler. Kami harus menggali potensi lebih dalam lagi. Kami punya guru yang sungguh-sungguh mengajari karikatur. Semoga jiwa seni siswa-siswi di sini bisa lebih berkembang lagi,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri terus mendorong bakat-bakat di bidang karikartur dengan menyelenggarakan lomba tingkat kota. Sehingga di kemudian hari menjadi keahlian bagi mereka.

“Potensi yang dimiliki sekolah di Semarang banyak sekali. Kami harapkan mereka yang sering ikut lomba karikatur, selanjutnya mereka bisa menyalurkan bakatnya supaya kemampuannya lebih terasah lagi,” pungkasnya.

 

Regenerasi

Geliat semangat siswa-siswi SMP Negeri 17 Semarang itu menumbuhkan harapan di kalangan seniman karikatur. Ketua Gold Pencil Indonesia, Abdul Arif menyebut pencapaian siswa-siswi SMP 17 itu dapat menghidupkan semangat menggambar karikatur sejak dini. Hal itu sangat dibutuhkan, karena saat ini banyak seniman karikatur yang sudah tak muda lagi usianya.

Sebut saja, Jitet Koestana yang kini berusia 51 tahun, dan Suratno yang sudah berusia 55 tahun. “Sudah saatnya dunia seni karikartur melakukan regenerasi. Di saat para senior seniman karikartur mulai menua, kami berupaya menghidupkan semangat anak-anak muda supaya mau menekuni bidang ini,” kata Arif.

karikatur semarang
Suratno (kanan) selalu menyempatkan diri untuk menggambar bersama murid-muridnya, demi dapat bertikar ide. (foto: metrosemarang/Faris Fardianto)

Untuk saat ini, upaya itu mulai menampakkan hasil. Arif kerap menggelar kegiatan menggambar bareng seniman karikartur dari kalangan pelajar SMP. Sejak berdiri setahun terakhir, Gold Pencil telah memiliki sedikitnya 250 anggota. “Kebanyakan anak SMP,” terangnya.

Bagi siswa SMP seperti Edos, bertemu dengan Suratno sebagai gurunya, merupakan keberuntungan. Dengan itu ia beroleh ruang untuk menekuni bakat dan mengaktualisasikan ide-ide di kepalanya. Edos bilang apa yang dilakukan gurunya sangat menginspirasi.

“Untungnya, kedua orangtua saya juga mendukung. Mereka membelikan banyak buku gambar dan mengizinkan ikut ekstrakulikuler di sini,” kata Edos.

Tak jauh beda dengan Edos, kawannya bernama Wahyu Hermawan bergairah mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai kontes karikatur tingkat internasional. Di depannya ada gambar sebuah mobil derek dengan planet bumi dan benda-benda angkasa, yang sedang dirampungkan.

“Saya ingin menampilkan pesan pesan lingkungan. Minimal, karya saya bisa bersaing dengan kontestan dari berbagai negara lainnya. Saya berharap dapat menang lomba di Kroasia bulan ini,” katanya. (*)

 

Reporter: Fariz Fardianto 
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.