Menyeruput Kopi Arab, kala Senja Tiba di Masjid Layur

METROSEMARANG.COM – Setiap seruputan kopi pasti punya daya pikat tersendiri. Di Semarang, terdapat kopi yang begitu melegenda di mata komunitas warga Arab setempat.

Ya, kopi Arab merupakan sebuah sajian khas warga Arab saat berbuka puasa di Masjid Menara Jalan Layur, Semarang Utara. Rasanya lain dari yang lain. Justru, yang terasa di ujung lidah adalah rasa pedas bercampur pahit dan ini tentunya sangat bertolak belakang dengan seduhan kopi pada umumnya.

Kopi Arab yang hanya ada di Masjid Layur Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Kopi Arab yang hanya ada di Masjid Layur Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Adalah Ali Mahsum, si peracik kopi Arab tersebut. Ia yang masih keturunan Arab itu senantiasa meracik delapan ramuan kopi warisan moyangnya untuk berbuka puasa di Masjid Layur.

Saat ditemui di dapur Masjid Layur, Ali bilang “Ada delapan rempah-rempah yang saya campur ke dalam kopi. Ini tidak ditemukan di daerah manapun,” katanya kepada metrosemarang.com, Minggu (26/6).

Mulai kapulaga, serai, jahe, butiran merica, beberapa daun pandan wangi dan kayu manis ia tumbuk halus lalu dimasukan ke dalam air mendidih. Langkah selanjutnya, ramuan istimewa warisan saudagar Yaman inipun siap diseduh kala beduk Magrib ditabuh.

Cuma butuh setengah jam untuk menyajikan kopi Arab yang kaya tradisi tersebut. Ia begitu suka bila dapat menyeruput bersama puluhan jemaah yang hadir di Masjid Layur.

Menyeruput kopi Arab saat berbuka puasa seolah membuat pikirannya kembali menyusuri jejak-jejak saudagar Yaman yang singgah di Semarang pada masa lampau. Ali berkisah jika rombongan saudagar Yaman awalnya singgah di Semarang pada 1802 silam. Dan mereka mengenalkan kopi Arab selain untuk berbuka puasa, juga jadi ramuan pereda masuk angin.

“Yang membuat awalnya orang-orang Yaman yang tinggal di Kampung Melayu. Kopi ini memang spesial. Kalau orang demam atau masuk angin, menyeruput sedikit pasti badan terasa segar. Mungkin karena ada campuran jahe dan kapulaga di dalamnya,” lanjutnya.

Kopi Arab hanya dibuat kala puasa. Masjid Layur juga peninggalan saudagar Yaman. Posisinya di tepi Sungai Semarang dan terdapat menara yang menjulang tinggi, membuat masjid itu dulu dipakai sebagai patokan kapal-kapal yang menepi di Semarang.

“Dulu saat awal berdirinya masjid memang banyak orang Yaman yang tinggal di sini. Kemudian, mereka mengenalkan kopi Arab saat disajikan saat acara hajatan perkawinan maupun pas Ramadan,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.