Menyibak Rahasia Semaan Quran di Kauman Semarang

METROSEMARANG.COM – Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar bersautan usai azan Dzuhur berkumandang di Masjid Kauman Semarang, pada Selasa siang (21/6). Seorang kyai sepuh mula-mula tampak berjalan perlahan, menyapa orang-orang yang duduk berderet di depannya.

Haji Achmad Naqib, nama kyai tersebut lalu menuntun ratusan orang yang duduk di depannya itu untuk melafazkan ayat demi ayat yang terkandung dalam kitab suci Alquran dengan lancar.

Semaan Quran menjadi tradisi di Masjid Agung Semarang saat bulan puasa. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Semaan Quran menjadi tradisi di Masjid Agung Semarang saat bulan puasa. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Kita tidak hanya melihat dari kelihaian melafazkannya saja. Tapi juga wajib mewujudkan semua tuntunan yang terkandung dalam ayat-ayatnya pada kehidupan bermasyarakat,” aku Haji Naqib usai mengaji bersama jemaahnya di Masjid Kauman.

Ia mengatakan ngaji bareng saat bulan puasa di Kauman memang telah mahsyur sebagai kegiatan Semaan Quran. Tempo dulu, kata dia, Semaan diperkenalkan pertama kali oleh Kyai Abdullah Umar, seorang ulama besar sekaligus keturunan Sunan Kudus.

Kyai Abdullah menggelar semaan di tengah kota untuk mengajak orang-orang beribadah dengan khusyuk sambil menunggu waktu berbuka puasa. Lalu, tafsir-tafsir Alquran dilantunkan memakai logat Jawa kental di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Lambat laun warga sekitar ikut mengaji, hingga sekarang.

“Nyimak Quran di sini sudah mentradisi sejak tahun 1960. Makanya di masjid ini selalu ada ngaji bareng setiap puasa dan kebanyakan yang datang dari orang pesisir pantai utara Jawa dan warga lokal,” ujarnya.

Semaan Quran, lanjutnya, hanya diadakan tiap 1 Ramadan-25 Ramadan. Jemaah Masjid Kauman diberi batas waktu untuk mengatamkan 30 juz hingga tanggal 26 Ramadan.

“Semaan Quran saya kira bisa memperkuat keimanan umat Muslim agar lebih taat beribadah kepada Allah SWT. Ini baik juga ditunjukan pada kehidupan setiap hari agar perilaku kita bisa seimbang antara melaksanakan salat lima waktu, ngaji sehingga akhlaqnya semakin baik,” jelasnya.

Haji Naqib yang meneruskan Semaan hingga kini merupakan satu-satunya keturunan Kyai Abdullah yang masih eksis di Masjid Kauman. (far)

You might also like

Comments are closed.