Menyingkap Jejak Raden Patah, Raja Pertama Kerajaan Demak Bintoro

PENYEBARAN agama Islam di Tanah Jawa tidak lepas dari sejarah Kerajaan Demak Bintoro yang didirikan sekaligus raja pertama Raden Patah. Dia adalah seorang ulama muda keturunan Jawa dan Cina kelahiran Palembang pada tahun 1455.

Makam Raden Patah di Komplek Masjid Agung Demak. Foto: metrojateng.com

Raden Patah sendiri merupakan anak dari Raja Brawijaya V dengan putri Kerajaan Campa bernama Siu Ban Ci. Di usia kehamilan tujuh bulan, Siu Ban Ci dititipkan suaminya kepada Aryo Damar, seorang Bupati Palembang. Hal itu lantaran hubungan antara Raja Brawijaya dengan selirnya ini membuat Ratu Dwarawati, istri Brawijaya cemburu. Hingga akhirnya, Raden Patah dilahirkan di Palembang.

Sejak kecil dia sudah dikenal dengan berbagai nama. Oleh ibunya, dia dipanggil Jin Bun, namun Aryo Damar lebih suka menyebutnya Raden Hasan. Sedangkan seorang resi memanggilnya dengan Raden Tan Eng Hwa, dan seorang alim di Palembang menamai Raden Zaenal Abidin. Lalu, nama Raden Patah sendiri adalah pemberian dari Walisongo, yang berasal dari bahasa Arab dengan memiliki arti kemenangan.

Memasuki usia 14 tahun, Raden Patah memilih kembali ke tanah Jawa untuk mendalami agama Islam kepada Sunan Ampel di Surabaya. Padahal, saat itu dia diminta menggantikan Aryo Damar, sebagai Bupati Palembang. Dalam perjalanan ke Jawa, dia bersama Hong Bin Ang (pengasuhnya), Kiai Jebat, dan Raden Husen (putra Aryo Damar).

Selama sekitar empat tahun, ilmu kegamaannya ditempa di pondok pesantren yang diasuh Sunan Ampel. Raden Patah memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata santri lainnya. Ini yang membuat sang guru menyuruhnya untuk mendirikan pondok pesantren ke arah barat (dari Surabaya).

Pengembaraannya ke arah barat, Raden Patah menemukan hutan dengan banyak ditumbuhi tanaman glagah, di antaranya menyeruak aroma wangi. Tempat itulah yang kemudian menjadi daerah Glagah Wangi, tempat kali pertama dia mendirikan pondok pesantren. Glagah Wangi, saat ini lebih dikenal dengan Demak.

“Raden Patah itu putra mahkota Kerajaan Majapahit ke 11 dengan seorang putri Kerajaan Campa. Konon, Kerajaan Campa sendiri sudah memeluk Islam karena masih ada garis keturunan dari Siti Fatimah Azzahra Binti Muhammad,” ujar Bagian Sejarah Takmir Masjid Agung Demak, Suwagiyo, Minggu (11/6)

Hanya dalam kurun waktu dua tahun, pondok pesantren yang didirikannya memiliki sekitar 2.000 santri. Padahal, saat itu daerah Glagah Wangi dihuni pemeluk Hindu, Budha bahkan dinamisme dan animisme.

“Raden Patah orangnya amanah. Dia berbekal kalimat Laa Ilaha Illa Allah, beliau mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat saat itu, dan perkembangan Islam sangat pesat. Keberhasilan Raden Patah inilah yang kemudian mendapat apresiasi para Walisongo. Apresiasi yang diberikan para Walisongo adalah dengan diresmikannya masjid Pondok Pesantren Glagah Wangi pada tahun 1466 atau 1388 tahun Saka. Bersamaam dengan itu, Raden Patah dinobatkan sebagai mubalig muda,” ungkap dia.

Ditambahkannya, Raden Patah dinobatkan sebagai Bupati Glagah Wangi pada tahun 1475. Dua tahun kemudian, perkembangan Islam semakin pesat hingga akhirnya masjid pondok pesantren miliknya dipugar dan menjadi masjid kadipaten tahun 1477.

“Sementara, Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Demak atau raja Islam Demak oleh Walisongo pada 1478. Sejak itu, beliau membuat tata pemerintahan dari kadipetan jadi kesultanan, membuat opini bala tentara atau militer,” tuturnya.

Era kepemimpinan Raden Patah, Kerajaan Demak pernah terlibat peperangan dengan Kerajaan Majapahit, yang tak lain masih ada garis darah dengannya. Secara terpaksa Raden Patah pun memberontak pada Kerajaan Majapahit, dan Raja Brawijaya meninggal dalam pemberontakan itu. Sejak pemberontakan itu, Kerajaan Demak semakin berkembang pesat.

“Pemberontakan Raden Patah itu berdasar atas pemerintahan Kerajaan Majapahit yang mempersempit penyebaran agama Islam. Namun, akhirnya dimenangkan Kerajaan Demak. Bukti kemenangan itu adalah dibawa pulang delapan soko ukir penopang pendopo kerajaan Majapahit yang saat ini menjadi tiang luar masjid Agung Demak. Selain itu, dampar kencono atau tempat duduk Raja Majapahit, yang saat ini menjadi mimbar khotbah Masjid Agung Demak,” ungkap Suwagiyo.

Ajaran Toleransi 

Dikisahkannya, Raden Patah merupakan pemimpin yang arif dan bijaksana. Di puncak kejayaannya, dia masih menjaga toleransi beragama. Buktinya, banyak situs peninggalan agama lain masih terjaga hingga saat ini.

“Sampai saat ini kita masih melihat Candi Prambanan, Borobudur, klenteng dan pura. Situs non muslim masih ada, itu bukti bahwa Raden Patah menghormati kepercayan dan keyakinan lain,” ucapnya.

Raden Patah menikah dengan Dewi Murthosimah (putri Sunan Ampel) dan memiliki enam keturunan yakni Ratu Panembahan Banten yang diperisitri Sunan Gunung Jati, Putra Raden Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor Sultan Demak II, Pangeran Sido Lepen atau Pangeran Sekar, Raden Trenggono, Pangeran Kanduruwaman Madura dan Pangeran Pamekas Bupati Madiun.

Dia meninggal pada usia 63 tahun karena sakit yang dideritanya. Ia dimakamkan tidak jauh dari masjid Agung Demak dan hingga saat ini makam Raden Patah tersebut masih tetap terawat dengan baik dan ramai dikunjungi para peziarah.

Syahir Alhasani, seorang peziarah mengaku ingin mengenang jasa para penyebar agama Islam, salah satunya dengan melakukan ziarah.

“Kebetulan saya mampir ke Masjid Agung Demak, jadi sekalian berziarah ke makam Raden Patah. Bagaimanapun beliau adalah penyebar agama Islam di tanah Jawa bahkan nusantara,” tandasnya. (metrojateng.com/MJ-23)

You might also like

Comments are closed.