Menyingkap Rekam Jejak Gedung Pers Tertua di Semarang

Bangunan De Locomotief dilihat dari Jalan Kepodang Kota Lama, Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Bangunan De Locomotief dilihat dari Jalan Kepodang Kota Lama, Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Kota Lama yang ada di jantung Kota Semarang memang istimewa. Selain menyimpan sejuta kisah masa lampau, puluhan gedung yang bercokol di sana punya historis tinggi.

Tapi, tahukah Anda dari sekian banyak gedung tua di Kota Lama, terdapat sebuah bangunan yang jadi tonggak perjuangan pers di zaman kolonial Belanda. Ya, De Locomotief, nama koran yang tersohor di zaman kolonial Belanda mendirikan kantornya di Jalan Kepodang. Tepatnya di belakang gedung putih Jiwaswaraya.

Markas De Locomotief yang berdiri diatas lahan ratusan meter persegi ini pada masa Hindia Belanda jadi saksi bisu bagaimana para pemuda di Kota Lumpia menggelorakan semangat kaum pribumi untuk melepaskan diri dari kekangan pemerintah kolonial Belanda. De Locomotief pun memulai roda bisnis medianya di tahun 1845 silam.

Uniknya, seiring berjalannya waktu gerbong bisnis De Locomotief sempat dipimpin oleh ekspatriat asal Negeri Tulip, Pieter Brooshooft. Usut punya usut, dari berbagai literatur disebutkan Pieter merupakan aktivis Belanda yang jatuh cinta kepada Semarang.

Sebelum bernama De Locomotief, koran ini dahulu dikenal dengan Semarangsch Nieuws en Advertentieblad. Perubahan nama ini terjadi kisaran tahun 1863. Ini adalah koran pertama yang memberitakan perkembangan industri perkeretaapian di Semarang.

Sri Yanto, warga Kampung Karangwulan Sari Prubungan Semarang Tengah mengaku masih mengingat jelas sisa-sisa perjuangan pers di gedung De Locomotief. “Terakhir kali bangunannya dipakai untuk usaha percetakan koran lokal. Habis itu ditutup dan terbengkalai sampai sekarang,” kata lelaki tua yang mendiami kawasan Kota Lama sejak puluhan tahun silam tersebut, kepada metrosemarang.com, di depan gedung De Locomotief, Sabtu (2/1).

Ia berkata, kini gedung tersebut sudah dikosongkan oleh pemiliknya. Tak ada lagi sisa sejarah yang tertinggal di situ, katanya. “Sudah enggak terurus,” sambungnya.

De Locomotief di era globalisasi, lanjutnya, tak ubahnya tempat kumuh yang ditumbuhi ilalang dan genangan air hujan. Atap bangunannya pun, telah runtuh setengah tahun terakhir. Kini, halaman gedung De Locomotief dipakai berjualan ayam oleh warga Jalan Kepodang. “Sekarang dipakai jualan ayam dan perkakas bekas,” katanya.

Terpisah, Ketua Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Rukardi Ahmad, menyebut gedung peninggalan De Locomotief sarat nilai sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sehingga layak direnovasi agar bisa dilestarikan seperti gedung tua lainnya macam Gereja Immanuel ‘Blenduk’, gedung seribu pintu alias Lawang Sewu, dan bangunan bersejarah lainnya.

“De Locomotief jadi pioner munculnya media pertama di Semarang. Namun kami sangat miris melihat kondisi sekarang ini,” akunya.

Parahnya lagi, hingga kini gedung itu bahkan luput dari identifikasi dokumentasi gedung tua bersejarah oleh pemerintah. Sehingga seiring sejalan gedung ini menjadi roboh dan tak terawat sama sekali. (far)

You might also like

Comments are closed.