Merak-Merak dari Kampung Nelayan Tambakrejo

Berbahan Limbah di Laut

Jika cuaca tidak mendukung, Salamun pasti mengurungkan niatnya melaut. Pada saat seperti itu ia tak beroleh penghasilan sama sekali dari laut.

SALAMUN sedang sibuk memotong lempengan kaleng bekas, saat kami datang ke rumahnya. Rumah berdinding anyaman bambu itu berada di RT 03/RW XVI, Kampung Tambakrejo Semarang Utara.

merak tambakrejo
Pengerjaan hiasan burung oleh Salamun. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

“Saya mau buat burung-burungan merak,” kata Salamun yang tangannya menuding ke arah kaleng bekas yang sudah terpotong kecil-kecil.

Lantai kayunya tidak rapat. Deburan air laut di bawah rumah dapat dilihat dari sela-sela jajaran lantai. Lantai itu berderit-derit jika kami menggeser posisi duduk.

Sudah 10 tahun Salamun bersama istrinya menempati rumah itu. Ia berasal dari Kabupaten Demak. Sehari-hari Salamun menghidupi keluarganya dengan mencari ikan di laut. Membuat hiasan berbentuk burung merak itu adalah kegiatannya jika ia tak melaut.

“Saya biasanya setengah hari melaut, dari jam enam pagi sampai dua belas siang. Sisa waktu saya pakai untuk mengolah barang-barang kerajinan. Kebetulan banyak sampah kaleng di sini, jadi saya ambil,” tutur Salamun.

 

Alternatif Matapencaharian

Jika cuaca tidak mendukung, Salamun pasti mengurungkan niatnya melaut. Pada saat seperti itu ia tak beroleh penghasilan sama sekali dari laut.

“Kalau pas cuaca normal, saya bisa dapat lima kilo kerang hijau. Kalau dijual ke TPI ya bisa dapat lima puluh ribu sampai seratus ribu. Tapi kalau cuacanya lagi ekstrem, saya jadi banyak nganggurnya. Ketimbang nganggur, maka habis melaut saya nyambi membuat kerajinan ini,” ujar Salamun.

Salamun menekuni kreasi hiasan dari kaleng bekas tersebut sejak lebaran lalu. “Awalnya saya lihat banyak kaleng dibuang di pinggir laut. Daripada mengotori kampung, saya pungut saja. Saya bersihkan, lalu saya bikin kerajinan seperti ini,” lanjut Salamun.

merak tambakrejo
Merak buatan Salamun. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Ia butuh tiga hingga empat minggu untuk membuat satu hiasan burung merak, tergantung tingkat kerumitannya. Mula-mula kaleng bekas dipotong sedemikian rupa untuk kemudian dipola menyerupai burung. Kemudian ia memolesnya menggunakan cat minyak agar tampilannya tambah menarik.

Keuletannya sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Para tetangganya banyak yang tertarik. Tak jarang mereka memesan kreasi burung merak maupun naga. Bank sampah yang ada di kampungnya, menambah mudah baginya untuk mendapatkan bahan baku pembuat kerajinan.

“Orang-orang kampung sini banyak yang beli. Mereka paling tertarik dengan kerajinan merak, murai sama garuda. Ya semoga dengan pendapatan melaut yang tidak menentu, hasil dari membuat kerajinan ini bisa menopang kebutuhan hidup keluarga saya,” ujar pria 40 tahun tersebut.

Salamun melihat peluang baru di tengah penghasilannya sebagai nelayan yang tidak bisa dibilang besar. Sebuah hiasan burung merak ukuran 30×70 sentimeter ia jual seharga Rp 150 ribu. Untuk ukuran yang sedikit lebih besar ia jual degan harga Rp 350 ribu.

Belum lama, kreasi Salamun diborong oleh rombongan dari Petronas. Hal itu membuat Lurah Tanjung Emas, Margo Riyadi mendukung sekaligus berharap agar hasta karya buatan Salamun dapat menginspirasi masyarakat setempat untuk tergerak mengolah limbah, agar tidak mengotori laut.

“Sehingga ini jadi cara meningkatkan pamor Tambakrejo sebagai kampung bahari. Harapan kita biar turis yang kelak mampir kemari bisa tertarik dan kita bisa memasarkan ke luar negeri,” ujar Margo Riyadi.

Sejauh ini, dukungan yang diberikan pihak kelurahan adalah dengan membekali Salamun dengan program pelatihan kerajinan tangan. Karya Salamun juga dipajang dalam ruang pamer yang ada di Kantor Kelurahan Tanjung Emas, Semarang Utara. (*)

 

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.