Mereka yang Gembira Menyantap Gulai di Hari Raya

Aksi Cepat Tanggap Jawa Tengah

Tak cuma mendapatkan daging segar, mereka juga bisa merasakan suasana gembira menyantap gulai bersama-sama.

LAPANGAN bola di belakang stasiun pengisian bahan bakar dekat Masjid Agung Jawa Tengah, dipenuhi ratusan orang. Kamis, 23 Agustus 2018, siang, mereka datang setelah mendapat kabar akan ada penyembelihan dan pembagian daging hewan kurban di tempat itu.

 

Terus terang saya selalu berdoa. Ya Allah kalau punya rezeki kepingin makan daging kambing. Karena hidup saya susah.

-Suminah, warga Kampung Tambak Dalam

Ada tenda yang ditandai sepanduk bertulis “Dapur Qurban” di tengah lapangan. Rupanya, daging kurban tak hanya dibagikan mentah, tapi ada juga yang dimasak. Gulai kambing dipilih menjadi resep untuk memasak sebagian dari 14 kambing yang disembelih.

Di antara orang-orang yang datang berduyun-duyun, ada Suminah. Rumahnya ada di RT 08/ RW II Kampung Tambak Dalam, Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, berjarak 200 meter dari tenda “Dapur Qurban”. Suminah terlihat sumringah.

“Terus terang saya selalu berdoa. Ya Allah kalau punya rezeki kepingin makan daging kambing. Karena hidup saya susah. Paling mentok lauk setiap hari ya tahu sama tempe,” kata Suminah berlogat Jawa yang kental.

Saban hari Suminah bekerja sebagai tukang cuci piring. Ia sering tidur larut malam karena mendapat permintaan mencuci piring pada beberapa hajatan di berbagai tempat. Setiap mendapat pekerjaan, ia berangkat pukul 21.00 dan baru pulang pukul 02.00 dini hari.

“Saya ikut isah-isah (mencuci piring – red) di mana saja. Kadang di acara ulang tahun, kadang di hajatan,” katanya, sembari menempatkan diri dalam antrean di depan tenda.

Sekali merampungkan pekerjaan mencuci piring, Suminah mendapat upah Rp 15 ribu. Uang sesedikit itu tak mampu menutup lubang kebutuhan hidup Suminah sehari-hari. Untuk bisa makan, Suminah harus putar otak. “Apapun dijual untuk bisa makan,” ujarnya.

idul adha tambak dalam
Suminah menunjukan kupon pembagian gulai kambing. (Foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Karenanya, begitu mendapat kupon pembagian daging kambing sekaligus makan gulai kambing, ia berniat menebusnya. “Jangan sampai terlewat,” begitu katanya. Kupon itu dibagikan oleh relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Tak cuma Suminah, Seneng tetangganya juga mendapat kupon “Makan Bersama Sajian Qurban 1439 H” yang dibagikan ACT. “Kami bertetangga. Begitu tahu ada makan bersama di sini, langsung kemari,” kata Seneng.

Perempuan berumur 80 tahun itu mengantre di depan Suminah. Ia bilang, baru kali ini bisa makan gulai kambing bersama-sama dengan tetangga-tetangganya pada Hari Raya Idul Adha. “Rasanya enak,” kata Seneng setelah menyuapkan sesendok gulai kambing ke mulutnya.

Baik Seneng maupun Suminah memang telah menanti-nanti hari raya ini. Idul Adha 1439 Hijriah kali ini menjadi semacam berkah bagi penduduk Kampung Tambak Dalam. Tak cuma mendapatkan daging segar, mereka juga bisa merasakan suasana gembira menyantap gulai bersama-sama.

Kepada Cabang ACT Jawa Tengah, Sri Suroto menyebut tak kurang dari 600 porsi gulai disiapkan oleh relawan ACT. “Yang 500 porsi dibagikan kepada warga pra-sejahtera di Tambak Dalam dan sekitarnya. Sedangkan 100 porsi sisanya untuk kebutuhan cadangan,” kata Sri.

Di Tambak Dalam sendiri, beberapa penduduk menempati rumah papan kayu yang ada di atas saluran irigasi. Jika saluran penuh, air dengan gampang menggenangi lantai rumah. Seperti rumah Suminah dan Seneng, yang ditinggali bersama anak-anak dan cucu mereka.

 

Perhatian Kepada Fakir Miskin

Melihat kondisi kampung itu, Sri Suroto menyetujui jika Idul Adha kali ini timnya menggelar aksi di Tambak Dalam. “Idul Adha ini dimaknai sebagai hari berkurban untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Sekaligus memperhatikan nasib para fakir miskin yang jarang mengonsumsi daging,” urai Sri.

aksi cepat tanggap kurban
Suminah dan gulai kambing dari “Dapur Qurban” Aksi Cepat Tanggap di lapangan belakang SPBU Masjid Agung Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Tambak Dalam bukan satu-satunya. Selain di Tambak Dalam, relawan ACT secara nasional mengirimkan 32 ribu ekor hewan kurban ke berbagai tempat. Jumlah itu lebih banyak ketimbang tahun lalu yang hanya 21 ribu ekor. Sejumlah hewan itu dikirim berdasar pembagian.

“Persentasenya, 60 persen untuk bantuan kurban tingkat nasional. Sedangkan 40 persen untuk korban kelaparan di berbagai negara,” kata Sri.

Masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah mendapat jatah 25 ekor hewan kurban. Kota Semarang sendiri mendapat 160 ekor hewan kurban. Jumlah itu dibagi lagi untuk tiap-tiap kecamatan. Masing-masing mendapat tiga hingga empat ekor.

Menurut Sri, kini sudah saatnya rakyat Indonesia saling mengulurkan tangan untuk membantu warga kurang mampu. Aksi “Dapur Qurban” itu juga digunakan untuk mengantisipasi penjualan kembali daging kurban, seperti yang kerap terjadi dan di dengar oleh Sri.

“Kami berharap, dengan Dapur Qurban ini tidak ada lagi kejadian tersebut. Di sisi lain, masyarakat bisa merasakan nikmatnya makan bersama-sama,” ujar Sri. (Fariz Fardianto)

You might also like

Comments are closed.