Mereka yang Membunuh Rasa Takut

Cerita dari Dalam Barongsai

Menonton “barongsai telanjang” tanpa kepala barongsai dan selubung badan, ternyata lebih mendebarkan.

HAMPIR empat pekan lalu Sigit Hermansyah jatuh saat berlatih barongsai tonggak. Sigit, sang pemain kepala barongsai dari ketinggian dua meter bersama Candra Irawan, pasangan bermainnya. Tangan kanan mereka retak.

Tapi Sigit dan Candra tak betah berlama-lama diam. Pada pekan ketiga, mereka sudah kembali berlatih, bahkan menerima tawaran pementasan. Jadwal latihan berikutnya terus dijalankan. Sebab, delapan barongsai dari Sasana Koi Suci Semarang dijadwalkan tampil pada saat perayaan Imlek 2570, Selasa 5 Februari 2019, di Mal Ambarukmo Yogyakarta. Sehari sebelumnya, mereka menyepakati tampil di empat tempat berbeda di Semarang.

Sigit membalut tangan kanan yang semula retak, dengan perban elastis berwarna cokelat. Ia menanti Candra di pinggir Kali Semarang di Jalan Petudungan, Purwodinatan, Kota Semarang. Orang-orang Semarang biasa menyebut tempat itu dan sekitarnya sebagai Kawasan Pecinan.

“Kalau mau main barongsai, khususnya barongsai tonggak seperti ini, justru rasa takut itulah yang harus dihilangkan.”

-Aditya Tirta Wijaya, Pemain Barongsai Tonggak-

Sore itu Sigit dan Candra memajukan jadwal latihan. Oleh sebab mereka harus melakukan hal lain malam hari, tepat pada jadwal latihan yang sesungguhnya. Jadwal pertunjukan kian dekat, asal cuaca bagus maka latihan tak boleh bolong.

Keduanya segera bersiap, tak lama setelah Candra tiba. Perlengkapan latihan dikeluarkan dari dalam tempat penyimpanan di sasana pinggir kali itu. Masing-masing menenteng sepasang sepatu berlapis kain payet, ada bulu kuning merah di ujungnya. Solnya tipis, namun berbahan karet yang kuat.

Sigit memakai celana berbahan kain prada dengan aksen bulu-bulu, tampak seperti celana bersisik. Sabuk kain berwarna kuning ia lilitkan di pinggang, mengunci celana bersisik. Sabuk itu sekaligus menjadi satu-satunya penghubung Sigit, sang kepala barongsai dengan Candra, sang ekor barongsai.

Tonggak -tonggak dari pipa besi yang kira-kira bergaris tengah 15 cm telah disusun. Piringan-piringan besi di bagian atas tonggak berlapis bagian kasar lembaran ampelas. Gunawan, sang pelatih, memeriksa semuanya untuk memastikan keamanan. Ia memasang kasur-kasur bekas di sekitar kaki tonggak sebagai pengaman.

Latihan dimulai. Setelah meregangkan tubuhnya, Sigit berdiri berimpitan dengan Candra. Tangan Candra mencengkeram kuat sabuk kain kuning di pinggang Sigit. Candra menggoyangkan sabuk, itulah tanda Candra sudah siap mengangkat Sigit. Begitu Sigit merespon dengan anggukan, keduanya lantas melesat-lesat cepat di atas tonggak berpiringan.

Tak habis pikir, bagaimana tubuh Sigit bisa tampak begitu ringan dan mudah sekali naik turun, bahkan menggelayut pada tubuh Candra di ketinggian. Jarak rapat antar tonggak dengan mulus mereka lalui. Berikutnya adalah tali antar tonggak. Lalu lompatan ke tonggak paling tinggi (2 meter) dengan jarak 180 sentimeter.

Jantung berdegup lebih kencang melihat dua kaki Sigit bertumpu di dua paha Candra pada tonggak tertinggi. Ketika tubuh Sigit tiba-tiba meliuk ke depan kemudian ke bawah, darah terasa berdesir-desir menyaksikannya. Menonton “barongsai telanjang” tanpa kepala barongsai dan selubung badan, ternyata lebih mendebarkan.

 

Membunuh Rasa Takut

Kata Sigit, menjadi pemain barongsai harus kuat mental. Ia sudah lebih dari enam tahun memainkan kepala barongsai. Ia memulainya sejak duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar. Pada usianya yang saat ini masih 17 tahun, ia sudah enam kali jatuh saat berlatih maupun pentas barongsai.

“Paling parah ya jatuh yang terakhir ini. Dulu pernah jatuh juga dari tonggak saat latihan. Waktu (tubuh) diangkat, nggak kuat, lalu jatuh kena tonggak sampai susah nafas. Tapi kemudian sudah bisa (nafas) lagi, dan naik (tonggak) lagi. Sewaktu main (pentas), pernah juga jatuh, tapi tidak parah,” cerita Sigit.

Baginya, saat pentas barongsai dimulai, maka ia bertanggungjawab memberikan pertunjukan yang terbaik. “Pemain barongsai harus memiliki jiwa seorang atlet. Kalau jatuh mau menangis, tidak apa-apa. Tapi kalau kapok sih jangan,” kata Sigit.

Bagi pemain barongsai tonggak, “takut jatuh” tidak seharusnya ada dalam benak dan pikiran mereka. Terjatuh merupakan risiko dari pilihan mereka sebagai pemain barongsai. Setidaknya itulah yang dikatakan Aditya Tirta Wijaya, pemain barongsai sejak 13 tahun lalu.

“Kalau mau main barongsai, khususnya barongsai tonggak seperti ini, justru rasa takut itulah yang harus dihilangkan,” kata Aditya. Ia kini berumur 20 tahun dan sudah keluar masuk beberapa sasana barongsai di Kota Semarang. Ada sekitar 20-an sasana barongsai di Semarang saat ini. Angka itu bisa dibilang bagus, tapi tak mengherankan.

Setelah tahun 1965 (pascameletusnya Gerakan 30 Semptember), barongsai dilarang dimainkan di Indonesia lewat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Satu-satunya tempat dimana barongsai bisa dipentaskan adalah di panggung besar Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Hingga Presiden Abdurrahman Wahid pada mencabut larangan itu pada tahun 2000.

Tak hanya kepala, Aditya juga piawai memainkan ekor barongsai. Tak hanya permainan barongsai lantai, teknik permainan barongsai tonggak juga ia kuasai. Saat berlatih barongsai tonggak, Adityapun pernah jatuh sampai kepalanya berdarah parah. Bekas lukanya terlihat, tepat di atas alis.

“Karena sudah memilih barongsai, dan tahu kalau risikonya adalah jatuh, ya harus berani terima risiko. Tidak boleh takut,” kata Aditya.

barongsai semarang
Infografik: Rifka Dian Y (magang)

 

Menghidupkan Kepercayaan

Barongsai merupakan legenda berabad-abad bagi warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Beberapa sumber menyebut barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi.

Kala itu pasukan dari Raja Song Wen Di, kuwalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que mengusirnya dengan barongsai. Kemudian barongsai diyakini dapat mengusir hal-hal buruk pada Tahun Baru Imlek, pada saat dewa-dewa meninggalkan bumi untuk menghadap Tuhan.

Barongsai adalah hewan rekaan. Bukan satu nyawa yang ada di dalamnya, melainkan dua nyawa manusia. Dua orang yang memainkannya memiliki dua isi kepala yang berbeda. Tapi jika dilihat dari luar selubung barongsai, gerakan mereka seperti gerakan yang dihasilkan satu jiwa.

Bagaimana mereka melakukannya?

“Harus saling percaya. Pemain kepala dengan pemain ekor, harus saling percaya,” Sigit menjawab pertanyaan itu. Jika rasa takut harus dibunuh, maka rasa saling percayalah yang harus dihidupkan setiap pemain barongsai.

Pada latihan sore itu, sebelum melesat-lesat di atas tonggak, Sigit bicara dulu dengan Candra. Soal tonggak mana saja yang akan mereka lewati dan gerakan apa saja yang akan mereka lakukan. Meski kesepakatan dicapai hanya lewat pembicaraan singkat, tapi mereka setia pada kesepakatan tersebut selama permainan.

Sigit percaya Candra mampu menahan dan mendorong berat tubuhnya. Sigit tinggal memusatkan perhatian pada piringan tonggak di depannya yang akan ia pijak, sembari mengatur ekpresi gerakan. Sedangkan Candra, percaya jika kaki Sigit tidak akan meleset dari piringan tonggak. Sigit pun tak ragu jika gerak kaki Candra di belakangnya selalu mengikuti berpijak pada piringan dengan tepat.

Di dalam selubung barongsai yang berhawa panas, komunikasi dua pemain ini tak ada putusnya. Selain kode gerakan, lisan mereka tak berhenti untuk mengonfirmasi kesiapan setiap manuver.

Pada suatu manuver, pemain kepala bertugas menentukan kapan siap diangkat, kapan siap diayun. Pemain ekor akan lebih dulu memberi kode goyangan sabuk di pinggang pemain kepala. Pemain ekor tidak akan mengangkat dan mengayun, sebelum mendapat konfirmasi kesiapan dari pemain kepala. Itu dilakukan dalam waktu yang sangat cepat.

“Maka itu menjadi pemain kepala, risikonya lebih besar,” Aditya memberi catatan. Namun ia juga menggarisbawahi, pemain ekor tak kalah besar tanggung jawabnya, terutama jika ada masalah di atas tonggak.

 

Kendala

Hujan dan angin adalah dua hal kendala utama. Air hujan akan membuat tonggak dan piringan licin. Sedangkan angin besar akan mempengaruhi keseimbangan barongsai. Jika angin besar dan hujan turun sebelum barongsai naik tonggak, Gunawan sang pelatih, tidak akan mengizinkan barongsai “terbang”.

Tapi jika hujan atau angin terjadi pada saat barongsai sudah di atas tonggak, maka inilah bagian tanggung jawab pemain ekor. Ia akan memutuskan melanjutkan pertunjukan atau tidak. Biasanya, jika hujan ringan dan angin tak begitu kencang, pemain ekor tidak akan berhenti. The show must go on.

Jika sudah begitu, maka tugas kru di lantai menyeka piringan dengan lap kain terus-menerus. “Kalau ada angin atau hujan biasanya saya kasih kode, ‘tahan dulu’. Kalau mau lanjut, (kru) yang di bawah harus kontrol (siaga – red). Kalau sudah tidak kuat, pemain ekor akan menurunkan pemain kepala ke samping tonggak. Trik seperti itu sudah dipahami oleh semua pemain,” papar Gunawan.

Sebagai pelatih, Gunawan selalu memperhatikan ikatan emosi setiap pasang pemain barongsai Koi Suci. Tidak hanya pada saat permainan berlangsung, tapi juga ikatan antara mereka di luar permainan. “Antara pemain kepala dengan pemain ekor, harus ada chemistry. Mereka harus punya ikatan kuat. Supaya kepercayaan antara mereka terbangun,” kata Gunawan.

barongsai koi suci
foto: metrosemarang/Efendi

Ekspresi

Ekspresi pada barongsai yang kerap disebut lion dance atau tarian singa, tentu saja tak boleh ketinggalan. Jika dipertandingkan, baik dalam nomor kecepatan, halang rintang, maupun taolu bebas, ekspresi merupakan salah satu faktor penilaian.

Pada tahun 2012 dimana Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) dibentuk, barongsai diakui sebagai olahraga. Sejak itu pemain barongsai disebut sebagai atlet. Sejak itu pula gelanggang-gelanggang kejuaraan digelar, dari tingkat daerah hingga nasional. Beberapa sasana barongsai di Indonesia bahkan telah mengikuti pertandingan internasional.

Setiap permainan barongsai biasanya memiliki alur cerita. Singa menerkam burung, singa melompati gunung dan singa memutari gunung adalah beberapa alur yang pernah dimainkan barongsai-barongsai Koi Suci. Alur cerita berisi jurus-jurus. Jurus terdiri dari gerakan-gerakan.

Sasana Barongsai Koi Suci mengenal beberapa gerakan, diantaranya gerakan U, gerakan angka 8, gerakan segi silang, dan gerakan segi lurus. Supaya tampak luwes, setiap gerakan itu harus dibarengi dengan ekspresi kedipan mata, tolehan kepala yang patah-patah, hingga getaran kaki.

Di dalam selubung barongsai bagian depan, tangan kanan Sigit harus menyangga kayu kerangka utama. Tangan itu harus kuat menahan berat kepala barongsai yang bobotnya berkisar antara dua hingga tiga kilogram. Kayu utama inilah yang dipakai untuk mengatur kemana kepala barongsai harus menoleh dengan gerakan patah-patah.

Sigit menggerakkan mulut barongsai dengan tangan kirinya. Terkadang, ada penonton yang memberi angpao. Sigit hanya akan mengambilnya setelah permainan selesai, dengan tangan kiri, lalu dengan cepat memasukkannya ke dalam kaus.

“Karena kalau dipegang terus kan mengganggu,” kata dia. Sesekali tangan kirinya menggapai tuas pengedip mata barongsai untuk membumbui ekspresi wajah barongsai.

Pada saat tertentu, Sigit dan Candra sama-sama menekuk lutut dan menggetarkan kaki. Jika diselubungi kostum barongsai, gerakan itu akan tampak seperti ekspresi singa yang sedang memasang kuda-kuda untuk menerkam mangsa.

 

Latihan

Instalasi tonggak Sasana Barongsai Koi Suci selalu terpasang di tengah gang Petudungan pinggir kali, meski tak ada jadwal latihan. Siapa saja personel Koi Suci yang ingin mengasah ketangkasan barongsai tonggak, bisa memakainya asal diawasi pelatih.

Tampaknya orang-orang sekitar yang melintas di gang itu mahfum. Mereka melewati gang dengan melipir di tepi tonggak-tonggak, baik berjalan kaki maupun menunggangi sepeda motor, dengan senyum, sapa dan ucapan kata permisi.

Jadwal latihan akan dikeluarkan setelah rapat, jika akan menghadapi pertunjukan atau pertandingan. Pada hari-hari biasa, jika tidak ada agenda pertunjukan atau pertandingan, para pemain barongsai Koi Suci menjalani kesibukan mereka masing-masing. Ada yang sekolah, ada yang berjualan. Tapi mereka tak pernah melupakan latihan.

Bagi Aditya, latihan sangat dibutuhkannya untuk menguasai gerakan yang berisiko tinggi. Seperti kuda-kuda satu kaki dan ngamblong. Ngamblong merupakan gerakan dimana pemain kepala diayun ke depan dengan kaki berada di tepi tiang tonggak, bukan pada piringan di atas tonggak, sedangkan tubuhnya ditahan oleh pemain ekor.

Latihan fisik dilakukan setiap hari. Lari, push up, scotch jump. “Kalau minggu saya lari ke lapangan. Jaga mental, jaga fisik juga,” kata Sigit. Aditya menyebut, daya tahan tubuh yang penting bagi pemain barongsai, dapat dibentuk dari latihan fisik. Latihan fisik juga berfungsi untuk menjaga berat badan.

Sigit dan Aditya memiliki kebanggaan atas pilihan menjadi pemain barongsai. Meski mereka hanya tersenyum saat ditanya soal banyaknya uang yang mereka dapat dari satu permainan.

Sigit memulai karir barongsai dari sekadar melihat, tertarik, lalu suka. Ia lantas menempa ketangkasannya bermain barongsai tonggak, mulai dengan latihan fisik, latihan dasar, bermain barongsai lantai, menjajal tonggak, dan berkali ulang jatuh.

Aditya masuk sasana barongsai sejak umur tujuh tahun. Aditya pernah menjadi pemain kepala, pemain ekor hingga pemain musik barongsai. Ia tak tahu sampai kapan akan bermain barongsai. Tidak ada batasan umur untuk dapat melompat-lompat di atas tonggak.

“Masalahnya ini adalah hobi saya. Selama masih kuat, akan terus main,” kata Aditya.

 

Reporter: Eka Handriana, Efendi
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.