Mesin Pemahat Waktu, Sebuah Karya Pengingat Kehidupan

Rilisnya Video Klip "Mesin Pemahat Waktu"

Distorsi Akustik merupakan band asli Semarang yang lahir di tahun 2007. Kali ini mereka merilis video klip “Mesin Pemahat Waktu” untuk mengingatkan bahwa tidak ada pesta yang tidak berakhir dan juga sebagai selebrasi  11 tahun Distrosi Akustik berdiri.

Foto Istimewa

Setelah usai meliris mini album Pu7i Utomo pada tahun 2016, kali ini band asal Semarang Distorsi Akustik merilis video klip baru yang berjudul Mesin Pemahat Waktu yang masih berada dalam deretan mini album Pu7i Utomo.

Video yang klip yang sudah bisa dilihat di akun Youtube Distorsi Akustik ini menceritakan sebuah perjalanan seseorang hingga jiwa yang terlepas dari raga menuju ke nirwana. Ragil Pamungkas sebagai penabuh drum mengatakan bahwa lagu “Mesin Pemahat Waktu” sengaja dipilih untuk mengingatkan meraka bahwa tidak ada pesta yang tidak berakhir dan juga sebagai selebrasi 11 tahun Distrosi Akustik berdiri.

“Dalam hidup sangat terbiasa jika kita melalui senang dan sedih, itu adalah sebuah sinergi apik yang disuguhkan Semesta. Namun yang sedikit membuat saya kecewa adalah dalam kurun waktu itu hanya sebuah mini album dan beberapa single saja yang kami hasilkan, sungguh kami benar – benar kurang produktif, sibuk memburu panggung dan lalai dalam berkontemplasi untuk berkarya, maafkan kami” lanjut Ragil yang diungkapkan saat rilis.

Video klip yang melibatkan beberapa pekerja kreatif seperti Nonadeca Film sebagai videographer, Fajar Kajabu yang berkolaborasi dengan fotografer Imam Supriono dan make up artis Kartika Rona, digarap di beberapa tempat di Semarang, seperti Tempat Pemakaman Umum Kedungmundu, Pantai Marina dan Hutan Wisata Tinjomoyo. Dengan turut mengundang Adheniar Juliane Maeda, untuk ambil bagian sebagai talen model dan olah gerak.

“Mesin Pemahat Waktu” sendiri lahir untuk mengenang Puji Utomo,  gitaris mereka yang terlebih dulu berpulang.  Dengan musik yang ramah ditelinga namun berisikan petuah yang dapat mengorek kegelisahan.

“Apa yang tersisa dari manusia jika kemanusiaan itu hilang? Bagi kami hidup bukan hanya sekedar mengerucut pada persoalan lamanya durasi hidup semata, namun apakah hidup itu sendiri bisa berfaedah bagi manusia lain dan Semesta dalam laku tindakan kita manakala diberi anugrah kehidupan. Apa yang terjadi sekarang adalah akibat yang ditimbulkan dari masa lalu, dan apa yang terjadi hari ini akan berpengaruh pada kehidupan kita esok hari dan berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” Cerita Taufik Adi basis yang mengutip dari Novel Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis yang menginspirasi karya – karya Distorsi Akustik.

Pramoedya Ananta Toer salah satu pengarang yang dianggap paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya sejak tahun 1940an telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing yang sebagian besar dari karyanya banyak berasal dari kenyataan sosial di masa revolusi.
Tak ada yang berubah dalam formasi sindikat pengusung Post Grunge dengan balutan nuansa ambient dan indie pop asal Semarang ini. Terakhir bergabung Muhammad Fajar Pandu Dewanata yang juga adalah gitaris dari unit pop punk New Face New Wave dan Pyong Pyong, didaulat pada posisi squencer dan keyboard.

 

You might also like

Leave A Reply