Meski Harga BBM Turun, Tarif Angkutan Tak akan Ikut Turun

METROSEMARANG.COM – Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2016 tidak akan berdampak pada penurunan tarif angkutan umum. Hal itu dijelaskan oleh Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno dalam rilisnya yang menyatakan bahwa besaran Biaya Operasi Kendaraan (BOK) menjadi dasar dalam penetapan tarif.

Menurut dia, untuk menghitung BOK, formula yang digunakan berdasar Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 89 Tahun 2002 tentang Mekanisme Penetapan Tarif dan Formula Perhitungan Biaya Pokok Angkutan Penumpang dengan Mobil Bus Umum Antar Kota Kelas Ekonomi.

Selain itu, keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat No. SK. 687/AJ.206/DRJD/2002 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan dalam Trayek Tetap dan Teratur.

Ilustrasi Foto: metrosemarang.com/dok
Ilustrasi
Foto: metrosemarang.com/dok

“Formula yang lama harus segera direvisi, karena tidak mengakomodir kondisi terkini, seperti belum memasukkan perhitungan kilometer kosong layanan kendaraan dari terminal ke garasi (pool), penetapan gaji awak bus sesuai dengan angka hidup layak dan dibedakan besarannya sesuai dengan tingkat kompetensinya & UMK daerah,” kata Djoko, Jumat (1/4).

Untuk penetapan tarif angkutan, kata dia, perlu memasukkan komponen biaya pengelolaan berbadan hukum yang terdapat beban pajak yang belum dimasukkan dalam perhitungan dan biaya lain- lain yang besarannya tidak lebih dari 15 persen. “Selain itu, tingkat okupansi yang digunakan dalam perhitungan sebesar 70 persen dan beberapa hasil survei didapatkan okupansi rata-rata saat ini kurang dari 70 persen,” paparnya.

Dia menambahkan, dengan menggunakan formula lama, BOK untuk bus besar Rp 147,61 per seat kilometer. Namun, apabila hitungan dengan usulan revisi sudah mencapai Rp 352,97 per seat kilometer. Naik dua kali lipat lebih di atas 100%.

Oleh karena itu, lanjut Djoko, dengan turunnya BBM dan menghitungnya dengan formula lama sangat tidak menguntungkan operasional transportasi umum. Meski komponen BBM kisaran 30 persen hingga 40 persen.

“Revisi terhadap formula BOK harus dilakukan untuk memberikan besaran tarif manusiawi yang berujung pada peningkatan layanan. Jika masih dengan formula lama, jangan harap tarif angkutan umum akan turun,” tutupnya.

Pemerintah memutuskan menurunkan harga premium dan solar bersubsidi, masing-masing Rp 500 per liter. Harga premium yang semula Rp 6.950, sejak 1 April 2016 menjadi Rp 6.450. Kemudian, solar yang sebelumnya Rp 5.650, kini Rp 5.150 per liter. (ade)

You might also like

Comments are closed.