Misteri Kali Kripik yang Renggut Dua Nyawa Warga Kalialang

Warga menunjukkan lokasi dimana Endang dan dua anaknya terseret banjir. Saat banjir menerjang, air Kali Kreo bisa meluber sampai batas pohon pisang. Foto: metrosemarang.com
Warga menunjukkan lokasi dimana Endang dan dua anaknya terseret banjir. Saat banjir menerjang, air Kali Kreo bisa meluber sampai batas pohon pisang. Foto: metrosemarang.com

METROSEMARANG.COM – Kali Kripik mendadak menjadi sorotan di penghujung tahun 2015. Aliran sungai yang membelah Kelurahan Sadeng dan Kelurahan Sukorejo di Kecamatan Gunungpati itu meminta ‘tumbal’ nyawa dua warga Kampung Kalialang Baru.

Selasa (29/12) petang, warga di sekitar Kali Kripik dikejutkan dengan kabar hanyutnya seorang ibu muda dan dua anaknya yang tengah mencuci di bibir sungai tersebut. Ibu muda yang diketahui bernama Endang Prihatiningsih (35) terseret arus sungai yang memisahkan Perumahan Grand Greenwood dengan Kampung Kalialang.

Endang, warga Kalialang Baru RT 2 RW 7 dan anak ketiganya, Bella (10) berhasil diselamatkan warga setelah sempat terseret derasnya arus sungai sejauh 500 meter. Namun, anak bungsunya, Frisa (2) terlepas dari dekapannya dan akhirny ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di perairan Kendal, Kamis (31/12) sore.

Nyawa ibu empat anak itu akhirnya tak bisa diselamatkan setelah berjuang melawan maut selama beberapa jam. Endang meninggal saat menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi, Rabu (30/12) dinihari sekitar pukul 02.00.

Kali Kripik memang sudah menjadi ‘sahabat’ bagi warga Kalialang dan sekitarnya. Selain menambang pasir dan batu, anak Kali Kreo itu juga dimanfaatkan warga untuk keperluan MCK, salah satunya Endang.

Dalam kondisi normal, Kali Kripik tidak terlihat berbahaya. Ketinggian airnya rata-rata hanya sebetis orang dewasa. Tak heran, warga pun tak khawatir saat melintasi sungai ini untuk menuju ke Greenwood atau sebaliknya.

Tapi, sungai ini bisa berubah menyeramkan saat hujan mengguyur di bagian hulu. Debit air bisa meningkat dalam sekejap, disertai material lumpur yang terbawa dari hulu sungai. Inilah yang terjadi saat Endang dan dua anaknya mencuci di bibir sungai.

Menurut Afif (23), warga sebenarnya sudah memeringatkan Endang agar menjauh dari sungai, sebelum banjir bandang menyapunya. “Dia memang biasa mencuci di sungai. Saat itu juga sudah diperingatkan, tapi dia malah bilang ‘Aku meh nyekel setan nang kono (aku mau nangkap setan di sana)’,” kata Afif menirukan ucapan Endang saat diperingatkan tetangganya.

Bagi Afif dan warga Kalialang, banjir yang terjadi di Kali Kripik bukanlah pemandangan baru. Mereka pun sudah memunyai alarm alami saat banjir akan tiba, sekalipun di bagian hilir dalam kondisi terang benderang.

“Warga di sini tidak ada yang berani mendekat ke sungai jika langit di bagian hulu sudah gelap (mendung), karena biasanya akan banjir,” tuturnya.

Fathudin (50) warga Kalialang menambahkan, sebenarnya tidak ada istilah ‘wingit’ atau seram di Kali Kripik. Warga sekitar hanya berusaha membaca gelagat alam. Pengecualian bagi Endang, yang menurut Fathudin memang kerap bertingkah aneh sejak kematian suaminya, beberapa tahun silam.

“Sebenarnya kalau dia (Endang) mau nurut saja, kejadiannya tidak akan seperti ini,” ujarnya.

Tapi, takdir Endang memang di Kali Kripik. Baju-baju bekas cucian janda asli Pemalang itu masih tergantung di seutas tali yang ditambatkan di pohon, tak jauh dari titik dimana dia dan kedua anaknya terseret arus sungai. Ketiga anaknya yang belum beranjak remaja, kini harus tumbuh tanpa didampingi orang-orang yang mereka kasihi. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.