Modal Urin Kelinci, Pengoplos Pupuk Ini Hasilkan Rp 65 Juta Sebulan

Pengoplos pupuk ilegal yang diamankan di Welahan Jepara. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Pengoplos pupuk ilegal yang diamankan di Welahan Jepara. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

SEMARANG – Direktorat Kriminal Khusus Polda Jateng membongkar praktik pupuk ilegal di Kabupaten Jepara. Pabrik tersebut bisa memproduksi 40 sak pupuk per hari, dengan omzet sebulan mencapai Rp 65 juta.

Polisi mengamankan pria bernama Ahmad Slamet Jayadi asal Kalipucang Wetan , RT 1 RW 2, Welahan, Jepara. Tersangka mengaku sudah enam tahun melakoni bisnis ilegal tersebut. Keterampilan meramu pupuk tersebut didapat dari pengalamannya bekerja di sebuah pabrik pupuk.

Dalam sekali produksi pembuatan pupuk, Ahmad mengaku mencampur bahan garam lokal 9 kuintal, garam impor 7 kuintal, kalium 4 kuintal, zat pewarna 1,5 kg, dan air kencing kelinci 20 liter.

“Sehari produksi itu hasilnya bisa 40 karung, dipasarkan ke patani bawang di Demak dan Jepara,” akunya saat digelandang ke Ditreskrimsus Polda Jateng, Senin (4/5).

Pemakaian kencing kelinci, lanjut Ahmad, sebagai pengganti natrium dan menimbulkan aroma menyengat layaknya natrium sehingga semakin mirip pupuk NKCL ber-SNI. Harganya pun jauh lebih murah yaitu 16 ribu per liter, sedangkan natrium bisa jauh lebih mahal.

“Beli dari peternak di Jepara. Kelinci itu tidak minum tapi makannya wortel dan tanaman basah, kencingnya lebih manjur,” tandas Ahmad.

Sementara, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Edhy Moestofa mengatakan pelaku sudah mulai berproduksi sejak enam tahun lalu. Omzet mencapai Rp 65 juta per bulan dengan keuntungan kotor Rp 20 juta.

“Harganya jauh lebih murah dari yang sudah SNI. Dia jual per sak 50 kg seharga Rp 80 ribu, yang sudah SNI Rp 300 ribu. Daerah pemasaran di Demak dan Sragen,” terang Edhy.

Bersama tersangka petugas juga menyita 110 karung 50 kg pupuk Fortan siap edar, dua mesin oven, satu mesin penggiling garam, satu mesin blower, dan bahan baku pupuk lainnya beserta karung kemasan.

Ia terancam dijerat Pasal 120 ayat 1 jo pasal 53 ayat 1 UU RI nomor 3 Tahun 2014 tentang perindustrian dengan ancaman hukuman 5 tahun dan denda maksimal Rp 3 miliar. Kemudian pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf A dan atau e UU RU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar.

“Pasal 60 ayat 1 huruf f juncto pasal 37 ayat 1 Undang-undang RI nomor 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman dengan ancaman pidana 5 tahun dan atau denda Rp 250 juta,” tandasnya. (yas)

Comments are closed.