MUI Jateng: Hukum Haji Tak Wajib bagi Orang Berisiko Tinggi

Ratusan jemaah haji sujud syukur saat tiba di Islamic Center Semarang, Kamis (22/10) sore. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Ratusan jemaah haji sujud syukur saat tiba di Islamic Center Semarang, Kamis (22/10). MUI Jateng tidak merekomendasikan orang berisiko tinggi tidak wajib menunaikan ibadah haji. Foto: metrosemarang.com/dok

 

METROSEMARANG.COM – Hukum melaksanakan ibadah haji bagi orang berisiko tinggi tidak wajib. Demikian rekomendasi dari para ulama anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Jateng.  Rekomendasi tersebut diputuskan pada Kamis (5/11) kemarin. Selanjutnya akan disampaikan  kepada Kementerian Agama RI.

Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Daroji menjelaskan, syarat melaksanakan ibadah haji yaitu istitho’ah. Istitho’ah merupakan kemampuan jemaah baik finansial maupun fisik untuk melaksanakan ibadah haji. “Jika ada hal yang menghambat istitho’ah, maka haji hukumnya menjadi tidak wajib,” katanya, Sabtu (7/11).

Di antara faktor penghambat itu adalah calon jemaah tidak memiliki biaya ongkos naik haji (ONH), memakai kursi roda, gagal ginjal, tidak mampu naik kendaraan jarak jauh atau lama, serta dalam kondisi hamil.

Menurut Darodji, kesehatan seorang calon jemaah harus menjadi prioritas. Kondisi kesehatan dinyatakan oleh tiga tim dokter ahli. Adapun pernyataan dokter dilakukan sebelum manasik di daerah.

Jemaah yang mengalami gejala psikis seperti gila dan hilang ingatan atau pikun juga tidak wajib. Juga orang yang tidak mendapat transportasi, tidak mendapatkan kuota dan tidak mendapat visa. (arf)

You might also like

Comments are closed.