Museum Mandala Bhakti yang Sepi

METROSEMARANG.COM – Hari ini, Kamis (18/5) adalah Hari Museum Internasional. Peringatan itu ditujukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan peran museum dalam skala internasional. Namun seperti umumnya museum di Indonesia, Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang tetap sepi pengunjung. Termasuk pada hari ini.

Salah satu sudut ruangan Museum Mandala Bhakti. Foto: metrosemarang.com/eka handriana

Pantauan metrosemarang.com, menjelang tengah hari, terdapat beberapa bus dari luar kota dan mobil yang diparkir halaman parkir Museum
Mandala Bhakti. Namun penumpang bus tersebut tidak memasuki gedungnya,
melainkan menuju Lawang Sewu yang letaknya di seberang jalan.

Sementara di dalam Museum Mandala Bhakti tidak ada pengunjung sama
sekali, kecuali kami. Petugas pun tidak tampak di dalam gedung. Sempat
ada enam remaja pria yang memasuki gedung, namun hanya berfoto-foto di
tangga dan segera keluar lagi.

Museum ini memiliki banyak koleksi persenjataan yang pernah digunakan
Tentara Nasional Indonesia dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan, hingga menumpas pemberontakan-pemberontakan.

Koleksi senjata di Museum Mandala Bhakti. Foto: metrosemarang.com/eka handriana

Selain itu juga ada koleksi alat komunikasi, alat transportasi, alat
medis, seragam tentara, hingga foto-foto dan diorama yang mengisahkan
peristiwa perjuangan. Seluruh koleksi dibagi dalam ruang-ruang
tersendiri. Total ada 30 ruangan dalam dua lantai gedung, termasuk
laboratorium dan perpustakaan.

Ruangan lain adalah ruang peristiwa yang berisi foto-foto, diorama
terdapat di ruang laswi atau laskar wanita, ruang perkembangan senjata
dan amunisi, ruang seragam angkatan darat, ruang pelestarian kerja
panglima kodam, dan ruang cacat veteran.

Foto: metrosemarang.com/eka handriana

Sayangnya keadaan museum juga kurang terawat. Lantai dan benda koleksi yang berdebu, toilet pun rusak. Kamipun hanya dapat melihat ruang
peristiwa, ruang senjata, dan ruang laskar wanita. Selain itu alat-alat komunikasi, patung Jenderal Sudirman dan kendi besar yang
sangat ikonik.

Hal itu disebabkan karena beberapa pintu ruang lainnya tertutup.
Bahkan kami nyaris terkunci di dalam gedung saat akan keluar. Gembok
pintu depan sudah menggantung dan mengaitkan dua pintu, siap mengunci.
Beruntung tidak ada yang usil mengunci gembok tersebut sehingga kami
bisa keluar. (han)

You might also like

Comments are closed.