Nasib Bus Lelayu yang Kian Tak Laku

MATI

segan, hidup pun tak mampu. Ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan sebuah pabrik bus yang ada di samping SMA Sedes.

Nur Arif di antara bus lelayu yang kini makin tak laku. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Berada di pinggir Jalan Dr Cipto Semarang, PO Perak Jaya, begitulah nama pabrik yang tertera di pagar depannya tampak kusam. Masuk halaman pabrik, terdapat dua bus berkapasitas 50 kursi yang terparkir rapi.

Dari dalam pabrik, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki Nur Arif yang diseret diatas tegel. Arif mengatakan hari ini, Kamis (18/1), orderan kebetulan sedang sepi. “Orderan untuk carteran bus ramai-ramainya paling cuma hari Selasa dan Minggu,” kata Arif kepada metrosemarang.com.

Sembari menarik napas dalam-dalam, pria yang menjadi kondektur Bus Perak Jaya sejak 30 tahun silam itu mengatakan armadanya saat ini semakin sepi peminat.

Banyaknya perusahaan bus baru dengan fasilitas penunjang lebih lengkap membuat Bus Perak kalah saingan.

“Peminatnya sedikit sekali sekarang, sebab saya akui dengan jumlah armada yang minim, Bus Perak saat ini kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan bus yang lebih modern,” kata Arif.

Terlebih lagi, katanya, Bus Perak sejak berdiri 1975 silam hanya fokus melayani para rombongan pelayat. Dengan segmen pasar tersebut, Hendro Wibowo, sang pemilik bus sempat menggapai masa kejayaannya pada awal dekade 80’an.

“Ketika jaya-jayanya dulu, kita punya delapan bus besar. Itu bisa mengangkut puluhan pelayat dari Semarang sampai Wonogiri, Klaten, Solo, Pati. Kitalah pemain tunggal di sektor jasa bus lelayu karena sama sekali tidak ada yang menandingi,” terangnya.

Saat itu, Bus Perak punya banyak sopir handal yang mengangkut rombongan pelayat saban hari. Bahkan, Arif bilang sejumlah pensiunan tentara kerap kepincut menjadi sopir Bus Perak untuk mengisi waktu.

“Sekarang sopirnya banyak yang meninggal, lainnya sudah tua-tua. Kalau dulu, sopir Bus Perak kebanyakan dari pensiunan TNI. Ketimbang nganggur, mereka pilih nyopir,” katanya.

Sekali jalan, tarif Bus Perak dipatok Rp 450 ribu. Lambat-laun, jumlah busnya pun berkurang seiring sulitnya mencari onderdil di pasaran. Pun dengan sopirnya, kini hanya tersisa dua orang.

“Sekarang paling banter dua tiga kali carteran seminggu. Mentok nganter pelayat ke pekuburan Cina Kedumgmundu, TPU Trunojoyo, Karangroto atau Bergota. Mau gimana lagi, lha wong armadanya sudah tua semua, kecepatannya hanya 80 kilo perjam,” Nur Arif menambahkan.

Sebagai kondektur, pria asli Jepara ini dibayar 60 ribu sekali jalan. Dengan kondisi roda perusahaan yang kembang kempis, nasibnya kini diujung tanduk. “Saya upahnya harian. Kalau enggak ada yang nyarter ya enggak dibayar,”.

Kondisinya dilematis karena eksistensi Bus Perak kian meredup. Alih-alih meneruskan bisnis ayahnya, anak kandung Hendro justru memilih bekerja di sebuah toko lampu.

“Sudah sopirnya tua, anaknya Pak Hendro juga tidak tertarik meneruskan bisnis Bus Perak. Salah satu faktornya karena proses perawatannya sangat sulit. Mesin bus keluaran 1987-1988 sudah tidak dijual di pasaran. Akhirnya, agar tetap bertahan, kita bekerjasama dengan sejumlah yayasan lelayu di Semarang. Biar dapat uang tambahan,” ujar Arif. (far)

You might also like

Comments are closed.