Nasib Rental Komik yang Tak Lagi Dilirik di Era Digital

METROSEMARANG.COM – Era digital kian hari makin merajalela. Banyak pedagang maupun penawar jasa konvensional harus gulung tikar akibat serbuan digitalisasi. Salah satunya bisnis persewaan buku yang terus berkurang.

Bisnis rental komik tak lagi menarik di tengah era digital. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Wahyu Roso, salah seorang pengelola persewaan buku di Jalan S. Parman Semarang harus menutup penyewaannya. Bernama Indra 2, kiosnya tak lagi menyewakan buku sejak satu bulan terakhir lantaran penghasilan kian menipis.

“Sebelum tutup, sehari bisa dapat Rp 50 ribu itu sudah bagus, sebelumnya per hari bisa dapat Rp 150 ribu,” ujarnya saat ditemui metrosemarang.com, belum lama ini.

Wahyu mulai membuka persewaan buku sejak 2005 lalu. Namun kini harus tutup lantaran penghasilannya tak mampu menutup biaya untuk pembelian update komik.

“Setidaknya, satu buku seharga Rp 15.000. Dulu setiap minggu membeli di agen Rp 200 ribu dapat sekitar 15 judul, sekarang sudah tidak bisa lagi,” terang Wahyu.

Selain penghasilan, membernya pun makin menurun. Terakhir tercatat ada sekitar 100 orang namun yang aktif tak lebih dari 30 persen. Saat ini, dia mulai menjual koleksinya yang berjumlah sekitar 5.000 buku dengan cara per paket judul melalui online.

Wahyu mengungkapkan, penurunan penghasilan terjadi karena pesatnya perkembangan bacaan secara online. “Di sini kan yang disewakan kebanyakan komik ya, terus sekarang kan kalah dengan komik online yang bisa diunduh melalui gadget dan pembaca bisa memilih bacaan dengan lebih cepat dan murah,” ucapnya.

Kondisi serupa juga dialami Budi Santoso, pengelola persewaan buku di komplek Stadion Diponegoro Semarang. Pengadaan buku pun tak selancar dulu karena sepinya peminjam buku.

“Saat ini hanya ada 100 member, tapi itu tidak aktif semua, padahal koleksi buku saya lebih dari 10 ribu,” jelasnya Budi.

Budi mengatakan saat ini minat baca anak cenderung menurun karena lebih menyukai permainan dalam gawai maupun lainnya. Ia juga menyesalkan, lantaran menurutnya membaca buku akan sangat melatih daya ingat pembaca. “Padahal membaca buku itu lebih banyak manfaatnya daripada mengakses melalui internet,” paparnya.

Sementara itu, Eko Winaryanto, warga Tambakaji, mengatakan meminjam buku untuk bernostalgia. Pria 37 tahun ini menggemari komik berjudul Kungfu Boy. “Saya membaca komik sejak SMP, karena langganan tutup, saya pindah rental buku,” ujarnya.

Ia mengakui lebih suka membaca komik konvensional dibandingkan dengan komik online. “Ya ada keasyikan tersendiri lah Mas,” pungkasnya. (fen)

You might also like

Comments are closed.