‘Ngelem’, Tradisi Anak Jalanan Semarang yang Sulit Dihilangkan

Bowo menunjukkan lem yang biasa digunakan untuk 'ngelem' bersama sesama pengamen jalanan. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Bowo menunjukkan lem yang biasa digunakan untuk ‘ngelem’ bersama sesama pengamen jalanan. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

SEMARANG – Anak jalanan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kota-kota besar. Seperti cendawan di musim penghujan, mereka tumbuh subur dengan beragam aspek negatif. Tak hanya sekadar berkeliling mencari makan dengan mengemis atau mengamen, beberapa di antaranya justru menjadi pecandu lem.

Perilaku menyimpang dengan istilah ‘ngelem’ tersebut memang bukanlah hal baru. Dengan menghirup bau lem jenis tertentu, seseorang perlahan akan kehilangan tingkat kesadarannya. Hal inilah yang dimanfaatkan pelaku ‘ngelem’ untuk mencari sensasi memabukkan.

Seperti halnya yang dilakukan Bowo (17), seorang pengamen jalanan yang biasa mengkal di sekitar komplek Universitas Diponegoro Jalan Pleburan Semarang. Selain kesehariannya ngamen kesana-kemari bersama temannya, Bowo juga termasuk salah satu remaja yang gemar ‘ngelem’.

“Sudah lama ‘ngelem’, awalnya ikut-ikut temen, sekarang malah ketagihan. Kalau sudah ngelem rasanya enteng dan males ngapa-ngapain,” kata dia kepada metrosemarang.com, Minggu (5/4).

Lem yang digunakannya juga tergolong murah dan mudah didapat. Bahkan, Bowo sendiri mengaku mendapatkan lem dari beberapa kios fotokopi yang ia kunjungi. Namun, bukannya membeli, dia justru meminta lem tersebut dengan alasan untuk menambal gitarnya yang rusak.

“Awalnya nyoba minta, malah dikasih satu botol. Terus minta ke kios lain juga dikasih satu botol. Tapi kadang juga beli yang kecil, harganya lima ribu,” imbuh Bowo yang biasa tinggal di masjid daerah Wonodri Semarang itu.

Kendati demikian, saat ditanya soal perasaan takut akibat bahaya lem tersebut, Bowo mengaku juga sempat memiliki perasaan was-was akan tetapi tidak dihiraukannya. Menurutnya, selama tidak terlalu sering mengkonsumsi lem tersebut ia akan tetap sehat untuk terus mengamen tiap harinya.

“Selama ini tidak apa-apa, biasanya saya memakainya di malam hari, rame-rame sama teman-teman sesama pengamen. Seminggu bisa 4 sampai 5 kali,” tuturnya.

Sama seperti narkoba pada umumnya, efek ngelem akan menyerang susunan saraf di otak sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan otak sementara dalam jangka pendek risikonya adalah kematian mendadak (Sudden Sniffing Death).

Salah satu komponen dalam inhalant yang berbahaya adalah pelarut solvent, yakni cairan yang dalam suhu ruangan mudah sekali menguap. Cairan ini umumnya dipakai sebagai pelarut dalam pengencer cat minyak (thinner), bensin, lem dan liquid papper. Dalam kondisi tertentu, uap solven yang terhirup bisa mengakibatkan halusinasi hingga memicu seseorang untuk bunuh diri. (yas)

Comments are closed.