Ngemil Kopi di Ketinggian Sunyi Mesastila

Biji kopi robusta yang sudah digoreng dan gula aren yang siap dicemil. (metrosemarang.com/Eka Handriana)
Biji kopi robusta yang sudah digoreng dan gula aren yang siap dicemil. (metrosemarang.com/Eka Handriana)

Tak hanya bisa minum kopi. Di House of Coffee, Mesastila Resort, biji kopi bisa dicemil laiknya nyemil kacang. Pahit? Tentu saja. Namun bukan masalah bagi penyuka pahit. Untuk yang tak suka pahit bisa menjumput gula aren yang tersedia di piring kecil. Rasanya seperti makan permen kopi.

Biji kopi itu adalah jenis robusta yang telah digoreng tanpa minyak, selama dua jam. Robusta merupakan jenis kopi yang mendominasi perkebunan kopi milik Mesastila Resort. Dari 11 hektare luasan kebun kopi, 90 persennya adalah jenis robusta. Sisanya, jenis kopi arabika, kopi jawa dan kopi ekselsa.

“Tempat ini berada di ketinggian 687 mdpl. Paling cocok ditanami kopi robusta,” kata Yoyok, salah seorang pemandu tur kopi di Mesastila Resort Desa Losari, Grabag, Magelang, Jawa Tengah itu.

Setelah digoreng, biji kopi siap digiling untuk diseduh menjadi minuman kopi tubruk atau kopi saring dengan tambahan krimer. (metrosemarang.com/Eka Handriana)
Setelah digoreng, biji kopi siap digiling untuk diseduh menjadi minuman kopi tubruk atau kopi saring dengan tambahan krimer. (metrosemarang.com/Eka Handriana)

Jika dicemil saja enak, bagaimana rasa kopi Mesastila jika diseduh? Kabarnya kopi dari Mesastila rasanya terkenal kuat. “Menurut beberapa orang yang  berkunjung kemari, kopi kami rasanya lebih nendang,” kata General Manager Mesastila, Isa Ismail Rauf kepada metosemarang.com, Sabtu (19/12).

Kopi robusta, sebetulnya bisa didapat dimana saja di Indonesia. Jangan lupa, negara ini adalah penghasil kopi terbesar ketiga di dunia. Bahkan tak jauh dari Mesastila, ada kebun kopi Banaran yang dikelola oleh PTPN IX. Hamparan tanaman kopi jenis robusta di kebun kopi Banaran berkali-kali lipat.

Lalu apa yang membuat kopi robusta dari Mesastila berbeda?

Petik Merah

Menurut Yoyok, kopi Mesastila sudah disortir sejak proses pemananen. Pemanenan dilakukan dengan memilih buah kopi yang benar-benar sudah matang, warnanya benar-benar merah. Disebut petik merah.

Kalau belum merah, masih oranye, kuning apalagi hijau, tidak akan dipetik. Dengan petik merah, maka fermentasi yang terjadi pada biji kopi sudah hampir maksimal. Fermentasi menurunkan tingkat keasaman kopi.

The Mayong Station Reception menjadi gerbang Mesastila Resort. (metrosemarang.com/Eka Handriana)
The Mayong Station Reception menjadi gerbang Mesastila Resort. (metrosemarang.com/Eka Handriana)

Dengan hanya memetik buah kopi yang masak merah, Mesastila tak bisa sering panen kopi. Dalam setahun, hanya sekali panen, yakni pada bulan Juni. Jika di satu titik sudah habis buah yang masak merahnya, maka harus bergeser ke titik lain. Karenanya panen kopi berlangsung lama, selama tiga bulan.

Tak hanya itu, untuk mencapai kenikmatan kopi yang maksimal, kopi Mesastila juga mengalami proses panjang. Panen biasa berlangsung pada musim kemarau, langsung dijemur dan disimpan di gudang kering. Tak tanggung-tanggung, penyimpanan berlangsung selama dua tahun untuk untuk menyempurnakan fermentasi. Barulah kopi bisa digoreng dan digiling untuk diseuh.

Proses penggorengan biji kopi setelah dua tahun disimpan di gudang yang kering (metrosemarang.com/Eka Handriana)
Proses penggorengan biji kopi setelah dua tahun disimpan di gudang yang kering (metrosemarang.com/Eka Handriana)

Sunyi

Mesastila dulunya merupakan perkebunan kopi Losari milik seorang Italia, Gabriella Teggia. Pemilik pertama adalah Gustav Van Der Swan yang berkebangsaan Belanda. Van Der Swan-lah yang membangun perkebunan kopi tersebut tahun 1920.

Delapan tahun kemudian ia membangun The Club House, sebuah rumah tinggal dengan beranda mengelilingi bangunan. Suasanya sunyi di tempat tersebut membuat The Club House saat ini dikenal sebagai tempat untuk menyepi.

Tahun 2001, Gabriella menambah bangunan di tempat tersebut. The Mayong Station Reception adalah bangunan dari stasiun Mayong, Jepara (sejak 1873) yang dipindahkan ke Losari bersama hangar kereta api, menggunakan 40 truk.

Tahun 2004, tempat ini baru resmi sebagai resort. Gabriella sendiri meninggal di Eropa tahun 2012, setelah menjual asetnya di Losari. Setelah berganti kepemilikan kompleks perkebunan kopi Losaripun berganti nama menjadi Mesastila, yang artinya ketinggian yang sunyi. (han)

You might also like

Comments are closed.