Nyadran Kali Kandri, Syukur Atas Tanah Subur

Bersih Sendang Hingga Berebut Gunungan

Sementara bersih sendang berlangsung, warga desa yang ada di luar area sendang berebut gunungan hasil bumi

SEBUAH gunungan yang tersusun dari kacang panjang, sawi putih, cabe merah, rambutan, belimbing dan durian, telah disiapkan di perempatan Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati. Secara administratif, tempat yang tak jauh dari Goa Kreo ini disebut kelurahan, oleh sebab masih berada di bawah wilayah Kota Semarang.

Sekitar pukul 08.00 pagi, orang-orang desa menyusul berkumpul di perempatan. Tua, muda, anak-anak, lelaki dan perempuan. Bukan pakaian sehari-hari yang mereka kenakan, melainkan pakaian spesial.

Kirab warga Desa Kandri menuju Sendang Gede, Kamis (14/2/2019). (foto: metrosemarang/Jessica Cellia)

Para perempuan mengenakan kebaya dengan bawahan jarik atau kain batik, serta caping di kepala. Sedangkan para lelaki mengenakan surjan, juga dengan bawahan jarik batik, dilengkapi blangkon. Beberapa di antara mereka ada yang menggantinya dengan ikat kepala.

Mereka lantas membentuk barisan panjang, dan memulai arak-arakan menuju Sendang Gede, sumber mata air desa. Arak-arakan ini disebut kirab, mengawali prosesi Nyadran Kali Kandri. Nyadran seperti ini merupakan ritual rutin tahunan yang dilaksanakan tepat pada Hari Kamis Kliwon, bulan Rajab dalam penanggalan Jawa.

Arak-arakan berjalan diiringi gong. Ada barongsai yang turut menari-nari mengikuti arak-arakan. Ada satu yang menarik perhatian, kepala sapi yang dipikul bersama-sama menuju sendang.

Gunungan berisi berbagai macam hasil bumi dan penganan olahan. Inilah diperebutkan warga pada prosesi NYadran Kali Kandri. (foto: metrosemarang/

Sampai di gapura muka sendang, rombongan orang-orang desa itu disambut oleh juru kunci. Remaja-remaja Kandri, putra dan putri, mempersembahkan tarian asli Desa Kandri yang disebut Matirto Suci Dewi. Mereka berpakaian serba putih dan membawa kendil (tembikar tanah liat) berisi kembang setaman, atau bunga mawar merah putih.

Setelah tarian tuntas, perwakilan warga desa yang berdandan seperti wayang, menyerahkan batok kelapa berisi uba rampe atau perlengkapan sesajian kepada juru kunci. Juru kunci lalu mempersilakan para penari dan beberapa perwakilan warga membawa untuk melewati gerbang masuk ke area sendang, kepala sapi dibawa serta.

Di hadapan Sendang Gede, juru kunci merapal doa-doa. Proses ini disebut bersih sendang. Selanjutnya, kendil berisi kembang setaman diberi air sendang lalu disiramkan ke persawahan di dekatnya.

Juru Kunci Sendang Gede, Supriyadi menyebut, ritual itu sebagai bentuk syukur atas kesuburan yang diberikan penguasa alam lewat mata air Sendang Gede. Ritual itu juga sekaligus menjadi pengharapan agar kelestarian sendang terjaga, sehingga kehidupan sekitar terus berlangsung.

Tak hanya ada satu sendang di Desa Kandri. Penduduk setempat juga mengenal Sendang Jamu, yang kerap disebut sebagai Sendang Jambu. Sejak dulu, air Sendang Jamu dipercaya penduduk dapat menjadi obat. Bila ada penyakit yang ingin disembuhkan, biasanya warga mandi dan berendam di dalam Sendang Jamu.

“Dengan adanya acara adat seperti ini setiap tahun, saya harap yang belum tahu soal sendang di sini, menjadi tahu. Yang sudah tahu, supaya bersedia menjaga kelestarian sebagaimana mestinya,” kata Supriyadi.

Memakan perbekalan yang dibawa dari rumah warga, secara bersama-sama, mengakhiri rangkaian prosesi Nyadran Kali Kandri. (foto: metrosemarang/Jesica Cellia)

Sementara bersih sendang berlangsung, warga desa yang ada di luar area sendang berebut gunungan hasil bumi. Ternyata bukan hanya bahan makanan segar yang ada di gunungan. Makanan olahan juga ada di sana. Seperti jadah, penganan berbahan dasar ketan yang diolah menggunakan kelapa berbumbu garam.

Setelah seluruh prosesi selesai, warga menggelar daun pisang untuk dijadikan ajang makan bersama. Nasi putih, tahu dan tempe goreng, telur rebus, mi goreng hingga oseng-oseng (tumis sayuran) yang dibawa warga dari rumah masing-masing ditumpahkan di alas daun pisang.

“Semua makan sama-sama. Senang rasanya bisa seperti ini,” kata Salim, salah satu warga. Selain warga setempat, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari kelurahan dan kecamatan setempat, serta Dinas Pariwisata Kota Semarang. Pemerintah Kota Semarang telah menahbiskan Kandri sebagai Desa Wisata. Salah satunya karena adat yang masih dijaga kuat oleh penduduknya. (*)

Penulis: Zahra Saraswati (magang), Jessica Celia (Magang)
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.