Omah Alas dan Pelajaran Kehidupan

SORE hari saat mendatangi Omah Alas, saya disambut lantunan gitar dan kajon. Sanggar seni dan budaya di Dusun Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Sanggar seni dan budaya itu dikelilingi pepohonan besar. Secara berkala, suara angin menerpa dedaunan pada pohon-pohon itu terdengar, ditingkahi kicauan burung.

Beberapa gubug berdiri  berdiri di area seluas lebih dari satu hektare tersebut. Bahan penyusunnya adalah limbah organik, kayu dan jerami. Tenang sekali rasanya di sana. Saya merasakan sensasi kedekatan dengan alam.

Omah Alas didirikan tahun 2005. Menurut Muhamad Imron, salah satu pengurus Omah Alas yang akrab disapa Pak De, Omah Alas didirikan dengan keinginan untuk merubah kebiasaan buruk pemuda setempat. Berbagai kegiatan yang memuat pelajaran kehidupan digelar rutin di Omah Alas. Mulai dari diskusi ringan, kesenian lintas disiplin, hingga berbagai macam pertunjukan.

“Daerah sini secara budaya bisa dibilang nanggung. Mau di bilang kota kok ya nggak kota-kota banget, mau dibilang desa juga tidak desa-desa banget. Kemudian kami membuat sanggar ini dengan harapan merubah perilaku yang nggak jelas yang dulunya dilakukan oleh masyarakat sini,” kata Pak De.

Pak De adalah lulusan pondok pesantren. Ia mendirikan gubug-gubug omah alas di atas tanah milik keluarganya. Awalnya, sekali dalam sebulan digelar kumpulan religi. Yang dibicarakan adalah berbagai hal tentang kerohanian. Ada pula topik pembicaraan yang lain, lewat bermacam-macam media. Diantaranya, tokoh pewayangan sebagai contoh pengaplikasian ajaran-ajaran kehidupan.

“Saya suka membahas berbagai pelajaran yang ada hubungannya dengan alam, kami membahasnya melalui berbagai media biasanya kayak wayang jawa, selawat jawa, biasanya ke arah situ. Dilaksanakan sebulan sekali setiap Kamis Pahing,” kata Pak De.

Kata dia, pembahasan dalam setiap diskusi tak melulu soal Islam. Bahkan pada beberapa kegiatan melibatkan tokoh lintas agama. Sehingga komunikasi sesama manusia terjalin di luar perbedaan keyakinan yang mereka anut. Pada akhirnya, interaksi di Omah Alas bukan saja antar sesama manusia. Melainkan juga antara makhluk hidup lain, hewan dan tumbuhan.

“Ramadan lalu kami mengadakan buka bersama, kami mengundang teman teman lintas agama untuk datang ke sini. Mereka datang dan menjalin komunikasi baik dengan kami,” cerita Pak De.

Setiap hari, dalam mengurus Omah Alas, Pak De dibantu oleh adiknya bernama Muhamad Nur Husaini serta beberapa orang lainnya. Beberapa mahasiswa dari sejumlah universitas di Semarang tak jarang yang membaur dan belajar bersama di tempat tersebut. Secara kolektif mereka menghidupi sanggar termasuk logistik untuk melangsungkan kehidupan. (Efendi)