Omzet Terus Merosot, Sri Ratu Terpaksa PHK Karyawan

METROSEMARANG.COM – Beberapa tahun ke belakang, pusat perbelanjaan di beberapa wilayah mengalami penurunan jumlah pengunjung. Hal itu berdampak pada omzet yang juga akan mengalami penurunan sehingga mengakibatkan pemasukan tidak sesuai dengan biaya operasional.

Para pekerja Sri Ratu dan Anggota KSPN Kota Semarang Semarang melakukan aksi demo menuntut pesangon, Kamis (29/3). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Hal tersebut juga dirasakan Pasaraya Sri Ratu sejak satu dekade silam. Penurunan jumlah pengunjung di Sri Ratu berdampak pada penurunan revenue yang didapat.

Bahkan lima tahun lalu, Pasaraya Sri Ratu terpaksa menutup sejumlah cabangnya yang berada di Purwokerto, Pekalongan, Tegal, dan Madiun. Hal itu dilakukan karena melihat efektivitas operasional dan jumlah pengunjung yang tidak sepadan.

“Memang kami rasakan penurunan secara drastis dari jumlah pengunjung. Munculnya toko retail kecil dan Mal baru juga berpengaruh pada kami,” kata perwakilan manajemen Sri Ratu Hendro Ari Wibowo saat audiensi dengan para perwakilan karyawan di Gedung DPRD Kota Semarang, Selasa (3/4).

Hendro menyebutkan, untuk tagihan listrik Sri Ratu Pemuda saja bisa menghabiskan Rp 1,2 Miliar perbulan. Sementara biaya untuk gaji seluruh karyawan mencapai lebih dari Rp 1 Miliar setiap bulannya.

Hendro menambahkan, agar Sri Ratu tetap hidup, dibutuhkan omzet Rp 10 Miliar setiap bulannya. Dengan keadaan sepinya pengunjung, jumlah tersebut dirasa tidak memungkinkan untuk mempertahankan seluruh karyawan.

Langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akhirnya diambil Sri Ratu agar operasional tetap berjalan. Tidak hanya karyawan, di bagian manajerial Sri Ratu juga dilakukan perampingan agar biaya operasional bisa ditekan.

“Pembayaran pesangon karyawan memang tidak bisa kami lakukan sekaligus karena masalah finansial yang kami alami. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak bank,” paparnya. (ade)

You might also like

Comments are closed.