“Orang Gila” yang Menjaga Akal Sehat dalam 14 Karya

Ruang Kontemplasi Rudy Murdock

Keinginannya untuk bercerita itulah yang membuat Rudy tidak terlalu mementingkan teknik atau aliran. Baginya itu justru akan membelenggu seseorang dalam berkarya

KARYA-karya Rudy Murdock merupakan catatan perjalanan dan proses hidup. Karya yang lahir selalu berasal perasaan mendalam mengenai diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Gambaran itu terlihat dari 14 lukisan yang dipajang dalam pameran tunggal Contemplore: Diary of Madman II, tanggal 9-19 Maret 2019, di Gerobak Art Kos, Jalan Stonen nomor 29, Semarang.
Penikmat seni melihat karya-karya Rudy Murdock dalam pameran tunggal Contemplore: Diary of Madman II di Grobak Art Kos, Jalan Stonen 29, Semarang. (metrojateng.com/Ahmad Khoirul Asyhar)
Melalui belasan karya itu, Rudy seakan mengajak para penikmat seni memasuki ruang kontemplasi, membaca catatan perjalanan, dan bermain-main dalam ceritanya selama lima tahun terakhir. Mulai dari enam lukisan ukuran besar hingga lukisan-lukisan lain yang berukuran lebih kecil. Setiap lukisan itu memiliki ceritanya sendiri dan bagi Rudy semua lukisan mempunyai kedalaman sendiri.
“Ini catatan selama lima tahun. Cerita personal dan tentang orang di sekitarku. Setiap lukisan punya kedalaman sendiri,” katanya saat ditemui usai pembukaan pameran, Sabtu (9/3/2019) malam.
pameran seni semarang
Rudy Murdock berfoto di depan karyanya dalam pameran Contemplore: Diary of Madman II. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)
Rudy mengatakan pameran tunggal Contemplore: Diary of Madman II yang digelar selama 10 hari, yakni tanggal 9-19 Maret 2019, ini merupakan upayanya untuk bercerita. Menyampaikan perasaannya melalui lukisan. Sebenarnya ada ratusan karya yang tercipta selama 1,5 tahun terakhir yang berisi cerita dan catatan perjalanan hidup selama lima tahun.
Keinginannya untuk bercerita itulah yang membuat Rudy tidak terlalu mementingkan teknik atau aliran. Baginya teknik atau aliran justru akan membelenggu dan membatasi seseorang untuk berkarya. Ia bahkan menyebut prosesnya sebagai bercerita dan bermain-main.
 
Aku lebih bermain-main. Seniman besar juga dari bermain, tidak ada yang memikirkan makna saat menggambar. Pelukis kontemporer menggambarkan apa yang ia rasakan. Ini yang aku lakukan,” ungkapnya.
Terkait pameran tunggal ini, Rudy sebenarnya sudah merencanakan pada tahun 2018. Rencana awal di Surabaya tetapi ia kemudian menunda dan memilih mencari ruang di Semarang. Satu hal yang ingin diceritakannya melalui pameran itu adalah upaya memantik seniman kontemporer muda di Semarang.
“Hysteria dipilih sebagai tempat pameran karena memang aku bertolak pada gerakan indie. Ini juga untuk memantik seniman muda lain untuk melakukan gerakan yang sama,” papar pria yang juga dedengkot band metal Radical Corps itu.
Sementara itu, Adin selaku kurator pameran melihat karya Rudy Murdock sepintas lalu nampak lucu. Namun jika diamati lebih dalam banyak ditemukan warna yang kusam dan suram. Adin melihat itu sebagai sisa prosesnya dahulu yang ditampilkan dalam Diary of Madman I pada tahun 2009 silam.
“Kali ini berbeda. Lebih berwarna meski berangkat dari rasa kecewa tetapi masih bisa ditemukan cercah-cercah cinta. Kita juga belajar bagaimana ‘orang gila’ ini menjaga akal sehat, menghidupi keluarga, dan retakan masa lalu yang keras tersalurkan dengan baik dalam pameran ini,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Hetty Palestina Yunani. Menurutnya, meski Contemplore menampilkan karakter lebih berwarna tapi tetap masih naif, lucu, sekaligus rumit. Warna kusam masih tersisa.
“Kalaupun ada kegilaan itu pada mimpi dan keinginan yang diwujudkan untuk orang yang dicintai dalam hal yang lebih baik. Merujuk kata Contemplore adalah bahasa Latin dari kontemplatif yang bermakna merenung, pameran ini semacam cara Rudy meraih sebuah kondisi hidup yang lebih baik,” ungkapnya. (Ahmad Khoirul Asyhar)
Artikel ini telah dipublikasikan metrojateng.com
You might also like

Comments are closed.