Orangtualogy dan Gerobak Batja Ajak Anak Berkelana di Dunia Kuman

METROSEMARANG.COM – Anak usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Ketika misalnya orang tua mengingatkan mereka untuk mandi, cuci tangan, gosok gigi, dan kegiatan bersih-bersih lainnya untuk menghindari kuman, mereka akan bertanya banyak soal kuman.

Anak-anak didampingi orang tuanya mengikuti kegiatan Playdate bertajuk ‘Little Scientist: Berkelana di Dunia Kuman’ di Taman Tirto Agung Banyumanik, baru-baru ini. Foto: istimewa

‘Kuman itu apa sih bu?’, ‘Memangnya kuman jahat?’ dan berbagai pertanyaan polos lainnya seperti itu sering mereka lontarkan. Hal itulah, yang membuat Komunitas Orangtualogy menggelar Playdate bertajuk ‘Little Scientist: Berkelana di Dunia Kuman’ di Taman Tirto Agung Banyumanik, baru-baru ini.

Salah satu komunitas parenting di Kota Semarang ini menggaet Komunitas Gerobak Batja untuk berkolaborasi. Gerobak Batja merupakan gerakan sosial yang menyediakan perpustakaan terbuka bagi masyarakat yang diinisiasi sejumlah aktivis dari alumni SMA Negeri 3 Semarang angkatan 1999.

Dalam kegiatan playdate itu, Gerobak Batja mengisi sesi telling story tentang kuman sebagai pengantar. Kemudian dilanjutkan dengan sesi workshop melihat lebih dekat kuman-kuman yang ada di sekitar oleh salah satu member yang juga Dosen Bio Kimia UIN Walisongo, Anita Fibonacci.

Dalam workshop tersebut, fasilitator mengajarkan bagaimana cara membuat media tumbuh kuman dari bahan-bahan yang ada di dapur. Salah satunya adalah kentang yang dikupas lalu direbus untuk dijadikan kaldu kentang. ”Inilah yang dijadikan media tempat mengembangbiakkan kuman,” ujar Anita Fibonacci.

Anita menjelaskan bahwa media APDA (acidified potato dextrose agar) tersebut merupakan jenis media biakan yang memiliki bentuk atau konsistensi padat. Potato extract dan  dextrose merupakan sumber nutrisi bagi biakan, sedangkan agar-agar merupakan media tempat tumbuh bagi biakan yang baik karena mengandung cukup air.

“Kita cukup mencampurkan bahan penumbuh khusus seperti agar-agar, kentang, gula, sedikit sitrun dan membiarkannya menjadi padat.  Kemudian kita tinggal mengoleskan sumber bakteri dari handphone, remote TV, kaki, uang kertas, wastafel yang ingin kita identifikasi. Setelahnya kita tinggal amati sesuatu yang tumbuh dalam media tersebut,” jelasnya.

Setelah mengupas dan memotong-motong kentang dengan bantuan orangtua masing-masing, anak-anak lalu memasukkan potongan kentang mereka untuk direbus, bersama agar-agar, gula, dan sitrun. Kemudian diberikan sampel kuman dari pinggiran westafel dan ujung kuku yang kotor.

Anak-anak dengan rentang usia 3-7 tahun itupun merasa penasaran dan berhamburan ke depan untuk melihat seperti apa bentuk kuman di media yang sudah jadi, dengan bantuan kaca pembesar. Dengan mata berbinar-binar anak-anak pun mengamati dan membedakan media yang berkuman dan tidak. Tidak sedikit pula anak-anak yang bertanya kepada narasumber.

Dewie Nur, salah satu member mengungkapkan, bahwa ini moment perdananya bergabung dalam acara playdate. “Anak-anak terlihat sangat antusias, sepertinya saya bakal ketagihan ikutan playdate semacam ini dan gak sabar ikut acara serupa di bulan depan,” ujarnya. (duh)

Comments are closed.