Ormas Radikal Cari Panggung saat Tolak Cap Go Meh di MAJT

METROSEMARANG.COM – Aksi penolakan perayaan Cap Go Meh di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) oleh segelintir kelompok radikal, langsung memantik reaksi keras dari masyarakat setempat. Bahkan, Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSa) menyebut upaya tersebut sebagai bentuk eksistensi kelompok ekstremis Islam untuk menebar sensasi di Semarang.

Persiapan perayaan Cap Go Meh di Balai Kota Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Peristiwa penolakan perayaan Cap Go Meh di halaman MAJT semakin meneguhkan Kota Semarang menjadi panggung baru bagi kelompok-kelompok intoleran,” kata Tedi Kholiludin, Ketua eLSa Semarang, dalam keterangan resmi yang diterima metrosemarang.com, Minggu (19/2).

Hal tersebut cukup beralasan, kata Tedi. Sebab, sejak dua tahun belakangan ini setidaknya terjadi empat kali penolakan terhadap kegiatan-kegiatan yang melibatkan komponen lintas iman.

Ia mengungkapkan upaya penolakan dimulai dari acara buka puasa yang dihadiri Ibu Negara Indonesia, Sinta Nuriyah Wahid di Gereja Kristus Raja Ungaran, lalu merembet ke kasus lainnya yakni Perayaan Hari Asyuro di Jalan Layur, pesta makanan babi bertajuk Pork Festival saat Imlek Januari 2017 kemarin dan kini Perayaan Cap Go Meh di MAJT.

Meski begitu, ia menyatakan kerja-kerja mediasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang, Polrestabes Semarang dan Polda Jawa Tengah patut diapresiasi.

“Untuk mencegah konflik horisontal, aparat pemerintah, sejauh yang saya amati cukup tegak berdiri secara netral,” jelas Tedi lagi.

“Toh demikian, di sudut lain, gelombang intoleransi terus bermunculan. Halaman rumah ibadah, yang sejatinya menjadi ruang publik yang terbuka, menjadi sangat eksklusif. Perjumpaan yang mestinya terbangun disana, semakin sulit dilakukan,” kata Tedi melanjutkan.

Tak ayal, menurutnya sekat-sekat atas nama identitas agama justru semakin dipertebal.

Untuk kasus penolakan Cap Go Meh di MAJT, yang patut disayangkan adalah sikap pengelola masjid terbesar di Jateng itu. Selain karena acaranya bernapas budaya dan bahkan juga ada pengajian di dalamnya, dipindahkannya kegiatan dari MAJT malah kontraproduktif dengan tujuannya sebagai destinasi wisata religi.

“Hemat kami, tak ada sedikit pun penodaan terhadap masjid yg di halamannya menyelenggarakan ritus kebudayaan. Tidak akan berkurang kesakralan sebuah masjid yang halamannya menjadi ruang terbuka untuk perjumpaan semua elemen agama,” paparnya.

Ia justru mempertanyakan mengapa acaranya harus dipindah ke Balai Kota. “Bukankah pengajian-pengajian Emha Ainun Najib di halaman Masjid Simpang Lima juga kerap diselingi paduan musik-musik gerejawi? Dan apakah ketika itu dilakukan jemaah masjid menjadi berkurang?” tuturnya.

Jika aparat sudah bekerja sesuai dengan fungsi dan kewenangannya, berarti ada masalah lain yang menjadi akar dari menggejalanya tindakan-tindakan intoleransi, khususnya di Kota Semarang.

Pertama, bisa jadi ada individu atau kelompok yang sedang mencari panggung dan memanfaatkan momentum ‘ziarah spiritual lintas iman’ itu sebagai objek penolakan.

Kedua, cara pertama sekaligus sebagai sarana untuk membangkitkan sentimen primordial yang memang sedang diuji. Sembari berharap ada rembesan ‘energi’ dari kota lain yang tengah menebalkan sentimen tersebut.

Ketiga, terputusnya jembatan pemahaman di kalangan umat Islam yang terwadahi dalam pelbagai kelompok. Jika kita cermati, mereka yang melakukan penolakan demi penolakan juga ada yang berasal dari kalangan arus utama.

“Jika secara organisatoris mainline groups ini mewartakan tentang semangat moderatisme, tapi beberapa kader mereka di bawah justru bersikap dan bertindak sebaliknya. Ini yang juga penting menjadi catatan bagi kelompok muslim arus utama,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.