Otak Pembunuhan Dokter Nanik Masih Buron

METROSEMARANG.COM – Dua dari tiga tersangka pembunuhan Dokter Nanik Tri Mulyani yang terjadi beberapa waktu lalu berhasil diamankan oleh jajaran gabungan Reserse Mobile (Resmob) Polrestabes Semarang dan Polres Wonosobo. Kedua tersangka berinisial SP dan RD ditangkap pada akhir April silam.

Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Salah satu tersangka berinisial SP ditangkap di Krangean Wetan, Kelurahan Banyukembar, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo.

Mereka melakukan tindak kejahatan pada 23 April 2017, namun baru diketahui setelah salah satu dari pihak keluarga korban melaporkan hilangnya Nanik pada 27 April lalu.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, kemudian jajaran Polrestabes Semarang membentuk tim dan kemudian melakukan penangkapan terhadap tersangka.

“Jadi ini yang melakukan salah satunya office boy (SP) yang sudah bekerja sekitar 1 tahun, satu lagi orang yang ngekos (PN) di tempat dokter Nanik, yang kurang lebih baru setengah bulan,” ujar Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji saat gelar perkara, Jumat (12/5).

Tindak kejahatan tersebut bermula ketika Nanik seusai pulang dari Jakarta pada waktu itu. Dan ternyata tersangka (PN) sudah terlebih dahulu membobol kamar Nanik.

Saat Nanik bersama SP hendak memasuki kamar, ternyata di dalam sudah ada PN dan langsung mencekik korban. Melihat hal tersebut SP juga ikut membantu menelungkupkan korban di lantai dan mengikat kedua tangannya di belakang.

“Sesudah Dokter Nanik ini tidak bernafas lalu mereka mencari mobil yang ternyata disimpan di Rumah Sakit Tlogorejo, dan mereka langsung mengambilnya. Usai mengambil mobil tersebut mereka kembali ke rumah dan mengangkut Dokter Nanik,” tambah Abi.

Namun sayang, gerakan mereka terintai oleh CCTV di Rumah Sakit Tlogorejo sehingga membantu pihak kepolisian dalam menemukan tersangka. Tak hanya mobil, mereka juga menggasak beberapa barang elektronik seperti handphone dan led tv.

Selanjutnya mobil diserahkan kepada tersangka lainnya yakni RD, yang diminta untuk membantu menjual mobil hasil tindak kejahatan tersebut. Rencananya mobil tersebut akan dijual seharga Rp 30 juta, dan RD mendapatkan bagian sebesar Rp 500 ribu. Namun belum sampai terjual, mereka justru tertangkap oleh polisi. Sedangkan PN masih buron.

Sementara dari pengakuan SP, sebelumnya ia dipaksa memberi tahu PN dimana sisi kamar yang bisa dobobol. “Saya diancam disuruh ngasih tahu, dia mengancam saya pakai parang dan saya mau pergi nggak bisa soalnya pagar juga sudah dikunci dan kuncinya dikuasai sama PN,” ujarnya.

Atas perbuatannya, kini kedua tersangka dijerat dengan pasal 365 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (fen)

You might also like

Comments are closed.