Padangrani “Menjual” Semarang dari Barang Antik

Pengunjung mengamati koleksi barang-barang antik di Kota Lama. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Pengunjung mengamati koleksi barang-barang antik di Kota Lama. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Berawal dari hobi mengoleksi benda-benda antik dan jadul, Paguyuban Pedagang Pasar Seni (Padangrani) Semarang kini sudah berkembang menjadi sebuah komunitas yang cukup eksis di Ibukota Jawa Tengah. Gaungnya bahkan sudah terdengar sampai mancanegara.

Ketua Padangrani Semarang Teguh Gunawan (42) menceritakan, awalnya mereka hanya membuka lapak di sekitar Taman Srigunting Kota Lama pada 2014 silam. Jika semula hanya ‘dasaran’ sebulan sekali, mereka pun akhirnya bisa lebih kontinyu beraktivitas dan membuka lapak seminggu sekali.

“Setelah itu kita mulai buka setiap hari, dan hebat juga respons dari masyarakat. Kalau ramai sampai jam 1 dinihari juga asih banyak yang datang,” kata Teguh yang sudah 17 tahun mengoleksi uang-uang kuno.

Teguh menerangkan, Padangrani bahkan sudah mulai dikenal di luar negeri. Banyak bule-bule yang mampir. Mereka datang dari Rusia Cina, hingga Belanda.

Sejak saat itu, Teguh dan 50 pedagang lainnya ingin ikut berperan dalam pengembangam pariwisata Kota Semarang melalui pasar seni. “Kita  memiliki dan ingin menunjukkan jiwa yang besar untuk ikut membangun pariwisata Kota Semarang dengan pasar seni,” katanya.

Padangrani memang menyediakan berbagai macam barang yang tidak dapat Anda jumpai di toko elektronik ataupun mal. Kebanyakan barang yang dijual adalah barang kuno, seperti aneka mata uang sejak zaman VOC, maupun peralatan peninggalan perang.

Teguh berharap, Padangrani yang mulai dikenal masyarakat tidak dipindah atau digusur. Menurut dia, tempatnya yang strategis di kawasan Kota Lama sehingga banyak wisatawan yang menuju ke Semarang bisa mampir. “Kami berharap tidak digusur, syukur-syukur malah bisa diresmikan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) sempat mewacanakan untuk menata pedagang barang antik yang berjualan di sekitar Taman Srigunting. Alasannya, mereka menggelar dagangan di jalan, sehingga mengganggu kenyamanan pengguna kendaraan. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.