Padasan, Geliat Emka Kembali ke Khittah

Pementasan Padasan, Minggu (5/4), bisa dibaca sebagai geliat Emka untuk bangun dari tidur panjangnya. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Pementasan Padasan, Minggu (5/4), bisa dibaca sebagai geliat Emka untuk bangun dari tidur panjangnya. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

TEATER Emper Kampus memiliki sejarah panjang di jagat perteateran Kota Semarang. Kelompok yang berbasis di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) ini dikenal lewat pementasannya yang mengusung visi Teater untuk Rakyat.

Visi teater yang berdiri sejak 1981 ini bagai pagar api untuk kerja dan pentas produksi. Tak bakal ditemui Emka mementaskan kisah percintaan tanpa dibumbui relasi tajam antara penindasan penguasa dan rakyat jelata.

Jika ada teater yang masuk catatan intel kepolisian dan tentara sebagai kelompok yang harus diperhatikan, maka Emka adalah satu diantaranya. Sebab tak hanya pentas, kelompok ini aktif dalam kerja-kerja di jaringan pergerakan mahasiswa, buruh, dan LSM sejak era Soeharto berkuasa.

Tapi Emka sudah lama tertidur. Sejak generasi 90-an dan 2000-an awal mencelat dari kampus, teater ini terkesan mundur dari garis pergerakan. Kampus FIB Pleburan yang diboyong ke Tembalang, seperti mengisolasi Emka dari realita sosial yang seharusnya mereka perjuangkan.

Dalam kurun lima tahun terakhir, hanya satu pentas mereka yang mencuri perhatian: “Yang Tersimpan dan Mungkin Terbuang”. Pentas besar tahun 2012 itu terasa unik karena dipentaskan di Museum Ronggowarsito. Sebelum main, Emka mengajak penonton tour berkeliling museum yang mempunyai jumlah koleksi terbanyak di Indonesia itu.

Menilik kondisi ini, munculnya Padasan bisa dibaca sebagai geliat Emka untuk bangun dari tidur panjangnya. Melalui Laboratorium Naskah, Emka seperti kembali ke khittah. Bahkan proses yang dilakukan lebih dari sekadar memilih naskah bertema relasi kuasa vs rakyat. Emka turun langsung ke sumber konflik di Desa Rowosari.

Data lapangan itu dibawa ke sanggar untuk diolah, didiskusikan, hingga jadilah berlembar-lembar naskah. Di bawah arahan sutradara Untung Kustoro, 10 anggota Emka berlatih beberapa bulan kemudian berpentas pada Minggu 5 April pukul 20.00.

Sekitar 200 penonton menyesaki Ruang Teater FIB Undip Tembalang dan 50 lainnya terpaksa kecewa karena terlambat datang dan tak bisa masuk ruangan. Yah, melihat luar biasanya animo penonton, Padasan memang seharusnya dipentaskan dua kali. Sekali khusus mahasiswa Undip, lainnya untuk komunitas teater Semarang dan luar kota.

Tapi apakah dengan membeludaknya penonton bisa menjadi stempel bahwa Padasan sukses? Kalau kelompok teater lain bisa mengatakan ya, Emka jelas akan menggeleng. Tak pernah dalam sejarah Emka memasukkan jumlah penonton sebagai indikator kesuksesan pementasan.

Jika tak percaya, buka kembali anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Di bawah tulisan visi “Teater Untuk Rakyat”, tercantum misi Teater Emka yakni “Penawaran wacana kepada masyarakat melalui Penyadaran media seni, khususnya teater”.

Sebaris kalimat itu mengharuskan Emka untuk senantiasa menyuntikkan wacana-wacana kritis tentang realita sosial hari ini kepada masyarakat penontonnya. Pada konteks Padasan, targetnya adalah penonton yang tidak tahu seluk beluk Brown Canyon minimal menjadi tahu bahwa objek wisata dadakan nan eksotis itu sebenarnya tak lain adalah potret nyata kerusakan alam. Padasan juga diharapkan membuka mata pemangku kebijakan bahwa penutupan galian c berdampak komplek. Tak hanya menyusahkan warga yang puluhan tahun hidup dari menambang, tapi juga pemilik truk, pedagang warungan, pemilik bengkel, toko onderdil truk, toko bangunan dan pada akhirnya mempengaruhi naik turunnya harga sembako di sekitar Rowosari.

Bagaimana setelah pentas kemarin. Apakah target-target itu sudah tercapai? Sejarah banyak menandai munculnya karya-karya seni yang berdampak luas pada masyarakat penikmatnya. Ambil contoh di dalam negeri saja bagaimana serial Lupus membawa trend rambut jambul dan membuat permen kerat sedemikian hits. Atau film Ada Apa dengan Cinta yang tiba-tiba saja membuat setiap mahasiswa Fakultas Sastra Undip menenteng buku Aku-nya Syumanjaya.

Atau bisa jadi karya itu tidak langsung berdampak. Dedengkot Sanggar Macarita Solo, Bureg Umar La Sandeq, pernah mengatakan bahwa bisa jadi setelah menonton pentas, sebagian atau keseluruhan penonton tidak langsung terpantik. Tapi pertunjukan itu pasti tersimpan dalam memorinya dan pada suatu ketika karena sebuah peristiwa lain akan menyeruak kembali, dengan dampak yang lebih dahsyat.

Padasan menjadi potret permasalahan penambangan yang terjadi di hampir seluruh Indonesia. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Padasan menjadi potret permasalahan penambangan yang terjadi di hampir seluruh Indonesia. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

Tapi tentu saja butuh sebuah karya benar-benar dahsyat untuk membuat dampak besar pula. Maka pertanyaannya apakah Padasan sudah sekuat itu?

Untuk tidak berpanjang-panjang yang malah menjadikan tulisan ini mengarah ke skripsi, cukup mengambil beberapa sampel yang mencolok dalam pementasan.

Dari sisi naskah, Padasan seharusnya cukup kuat karena dilatari riset yang cukup lengkap. Penambangan galian c terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Pemanfaatan bahan galian ini sebagai material dasar sangat penting untuk mendukung pembangunan fisik di wilayah Kabupaten/Kota. Tapi penambangan yang sembarangan dan tingkat kecepatan eksploitasi telah mengakibatkan kerusakan lingkungan parah. Pertambangan yang mayoritas illegal tersebut merusak ekosistem dan bentang alam, pencemaran air, polusi udara, dan mengakibatkan longsor serta banjir. Belum lagi aktifitas pengangkutan bahan galian yang menyebabkan rusaknya jalan. Tak jarang, cara menambang yang tidak sesuai aturan meminta tumbal jiwa para penambang.

Untuk memotret persoalan tersebut, Emka mengambil sampel galian C di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang. Mereka mengusung seluruh data dari hasil wawancara dengan penduduk setempat. Bagaimana ratusan warga menggantungkan hidupnya pada aktifitas tambang. Dari pekerja biasa, pemecah batu, pemilik truk dump, operator alat berat hingga pemilik warung. Sekaligus mendengarkan keluhan dan kekhawatiran atas berita penutupan tambang.

Mereka juga mendapat laporan bagaimana bos pelaksana pertambangan kongkalikong  dengan aparat dan pejabat setempat. Tak cukup itu, Emka juga mencatat kerusakan alam yang timbul dari aktifitas tambang, menggali sumber media tentang penutupan galian c, dan mewawancarai pejabat Dinas ESDM Provinsi Jateng.

Tapi bekal data dan riset saja tidak cukup untuk menggubah sebuah naskah yang dahsyat. Tidak mudah mencipta naskah dengan penokohan kuat, alur penuh suspence yang mengombang-ambingkan emosi penonton, mengandung data dengan proporsi dan letak yang tak berkesan tempelan, serta ending yang memaksa penonton terus melanjutkan lakon itu di kepala mereka hingga pulang.

Ya, harus diakui bahwa Padasan masih lemah dalam penyusunan alur cerita. Konflik baru terasa di sepertiga akhir pertunjukan sehingga lakon ini sangat terasa datar di awal-awal. Penonton dipaksa menyaksikan dialog berisi keluh kesah antartetangga tentang kehidupan susah mereka. Memang sejatinya bukan dialog biasa karena di sana sini terdapat informasi soal ketergantungan warga pada padasan, bagaimana Ratih dan Sugeng bisa menyekolahkan anaknya, Sarah, hingga lulus kuliah, soal lumbung desa, becking aparat, dan lainnya.

Tapi informasi itu seperti dibiarkan begitu saja bertebaran sebagai perbincangan biasa di sebuah warung makan. Sutradara Untung Kustoro juga Nampak belum memiliki perbendaharaan blocking yang cukup untuk tidak membiarkan pemainnya melakukan sebagian besar dialognya dengan duduk.

Akan lebih menggigit jika sejak mula sudah dimasukkan keresahan penduduk akan wacana penutupan galian. Maka begitu pertunjukan dibuka, penonton akan langsung melihat bahwa masalah krusial yang membutuhkan perhatian. Penonton langsung dipaksa terlibat ke dalam ancaman hidup matinya warga Rowosari.

Masalah berikutnya pada dialog. Setidaknya ada dua bagian yang sangat mengganggu dalam pementasan. Pertama pada Sarah yang tak mampu berbahasa Jawa secara luwes. Pendapat Untung pada sesi diskusi bahwa Sarah sudah empat tahun kuliah di Jogja sehingga terbawa berbahasa Indonesia, jelas hanya sebuah apologi. Lucunya, para pekerja teater yang mempertanyakan hal ini pada diskusi tak berani menyoroti kelemahan ini secara blak-blakan. Kenapa tidak dikatakan saja bahwa pemeran Sarah memang bukan orang Jawa sehingga sulit mengucapkannya secara enak di telinga.

Kalimat-kalimat dari Ratih dan Rita sang wartawati soal peraturan menteri ESDM adalah dialog tidak enak kedua. Sutradara pun pasti menyadari bahwa dialog itu terdengar sebagai hafalan yang justru melemahkan karakter keduanya. Bagaimana bisa seorang wartawan dan sarjana hukum yang sedang magang di pengadilan bisa terbata-bata memperbincangkan undang-undang.

Pada bagian ini, sutradara jelas yang bertanggung jawab. Pada tugas penyutradaraannya yang pertama, Untung harus lebih banyak belajar. Tapi mengingat perjalanannya sebagai pekerja teater kampus masih awal, apa yang dibangunnya melalui Padasan menunjukkan ia punya potensi besar.

Pementasan Padasan masih menyisakan kekurangan di sana sini, meski sebenarnya punya kekuatan untuk menyadarkan penguasa agar secepatnya menangani permasalahan galian c. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Pementasan Padasan masih menyisakan kekurangan di sana sini, meski sebenarnya punya kekuatan untuk menyadarkan penguasa agar secepatnya menangani permasalahan galian c. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

Tapi jangan salah, kelemahan yang tertulis di atas adalah contoh saja untuk menunjuk beberapa yang mencolok. Karena terlalu banyak jika harus diungkap semuanya. Termasuk musik yang masih butuh banyak perbaikan untuk mendukung suasana dan mempengaruhi emosi penonton.

Namun Emka tak perlu berkecil hati atau merasa gagal. Sebab Padasan versi 5 April kemarin baru dalam tahap percobaan. Ya, lebih baik memperlakukan pentas pertama itu sebagai latihan dalam proses berteater dengan mekanisme baru yang selama ini belum pernah dilakukan.

Itu jika Emka mau setia untuk mulai saat ini hanya memainkan naskah karya sendiri dengan dasar riset lapangan. Jika komitmen ini terus terjaga, Emka akan menjadi satu-satunya teater kampus yang berada di garis depan dalam mengusung persoalan aktual Semarang. Sebab mayoritas teater lain masih terus berkutat pada naskah-naskah klasik, membahas narasi besar yang tak berpijak pada kondisi riil masyarakat, atau malah mengangkat persoalan cinta yang tak lain hanyalah curhat colongan pembuat naskahnya.

Jangan lupa, persoalan galian c belum selesai. Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemkot Semarang masih belum jelas mau membawa kemana masyarakat Rowosari dan warga lain yang tinggal di sekitar tambang. Apakah pemerintah akan menyediakan pekerjaan lain? Tapi semudah itukah warga beralih profesi dari pekerjaan yang sekian belas tahun mereka lakukan?

Artinya, masih terbuka sangat banyak kemungkinan untuk meneruskan project Padasan. Emka bisa riset lagi, menggali persoalan yang lebih maju dari yang sudah digarap kemarin. Hasilnya bisa digunakan untuk memperbaharui naskah atau malah mencipta sekuelnya.

Padasan extended atau Padasan 2, sepertinya menjadi opsi menarik. Sangat jarang teater kampus yang berani memproduksi ulang pentasnya dari nol. Produksi berikutnya ini bisa pentas di Rowosari langsung, atau di kota lain yang memiliki persoalan tambang galian c serupa. Sebab hanya dengan pentas yang dahsyat dan jangkauan penonton lebih luas, dampak lakon ini akan lebih terasa kuat. (Anton Sudibyo)

 

You might also like

Comments are closed.