Pakai Kaos Mazu, Pedagang Ini Masih Ragu Coblos Marmo

Soemarmo didampingi istrinya saat memasuki arena kampanye terbuka di Gor Tri Lomba Juang, Senin (30/11). Foto: metrosemarang.com/Khoiruddin
Soemarmo didampingi istrinya saat memasuki arena kampanye terbuka di Gor Tri Lomba Juang, Senin (30/11). Foto: metrosemarang.com/Khoiruddin

METROSEMARANG.COM-Meskipun ikut hadir di kampanye terbuka pasangan calon Wali Kota nomor urut 1 Marmo-Zuber (Mazu), Endang Sugiartini, warga Semarang Timur mengaku masih ragu untuk mencoblos  paslon yang diusung PKB dan PKS ini.  Endang yang memakai atribut kampanye berupa kaos bergambar pasangan Mazu, selain meramaikan acara kampanye juga memanfaatkan momen ini untuk mendulang rupiah dengan berjualan es teh.

Bermodal lapak yang bisa dibongkar pasang, sebuah meja dan sebuah payung, Endang melayani peserta kampanye yang kehausan di GOR Tri Lomba Juang, Senin (30/11). Ia mengaku sudah empat tahun berjualan seperti ini dengan berpindah-pindah tempat seperti di Simpang Lima, Jalan Pahlawan dan tempat keramaian lainnya.

Soal siapa yang akan menajdi walikota Semarang nantinya, Endang berharap mereka adalah figur yang bijaksana.  “Saya pilih yang bijaksana. Saya dulu pilih Pak Marmo. Sekarang ya nggak tahu,” ungkap Endang sambil meladeni pembeli yang mampir di lapaknya.

Dia bahkan menantang para calon walikota, khususnya Marmo yang dulu pernah dia pilih agar bisa memberi jaminan kepada para pedagang kecil seperti dirinya. “Pokoknya saya milih yang bisa PKL jualan terus, kan makan saya sehari-hari lewat berdagang,” tantangnya pada calon walikota.

Dia bercerita sering di kejar-kejar Satpol PP saat berjualan, dia merasa tidak tenang kalau sewaktu-waktu disuruh pindah-pindah berdagangnya. “Kalau pak Marmo bisa melindungi orang miskin-miskin gitu ya, pastinya milih yang begitu to mas. Soalnya kita kan rakyat kecil.”, ujar Endang berkeluh kesah.

Sementara simpatisan lain, Muhammad Rifa’I warga kampung Kledung 377  Semarang Timur merasa mantap memilih pasangan nomer 1 karena merasa kinerjanya sudah terbukti dan pernah merasakannya. “Dulu saya pernah mendapatkan bantuan seperti kematian, jadi kita nggak perlu yang lain-lain lah,” katanya dengan yakin. (cr-08)

You might also like

Comments are closed.