Pakai Limbah, Sayuran Awet Tanpa Pengawet

3 Minggu Tetap Segar

Ada teknologi yang dapat menyediakan produk dengan kriteria tersebut. Teknlogi ramah lingkungan dan ramah kantong

Tampilan sayur mayur yang segar dan bersih memang menarik untuk dibeli. Tapi biasanya baik di pasar tradisional maupun di supermarket, sayuran dengan tampilan seperti itu, kurang ramah di kantong alias mahal harganya.

Di samping itu, ada pula kekhawatiran jika sayuran yang tampak segar justru terkontaminasi bahan pengawet, ataupun bahan-bahan kimia pertanian. Sebab, lahan pertanian sangat memungkinkan tercemar bahan kontaminan seperti pestisida dan logam berat.

sayuran segar biochar
Sayuran hasil panen dari penanaman dengan tenologi remediasi biochar. (foto: dokumen penulis)

Seiringi dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memilih produk pertanian yang sehat sebagai bahan konsumsi sehari-hari, kini telah ada teknologi yang dapat menyediakan produk dengan kriteria tersebut. Teknlogi ramah lingkungan dan ramah kantong. Teknologi tersebut adalah remediasi melalui pemanfaatan limbah pertanian.

Remediasi adalah kegiatan membersihkan permukaan tanah/lahan yang tercemar. Limbah yang digunakan adalah biochar atau arang aktif yang dikombinasikan dengan kompos. Teknologi ini telah diterapkan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Pati, Jawa Tengah.

Tongkol jagung dan pupuk kandang dari kotoran sapi maupun ayam, adalah kombinasi pembenah tanah yang efektif untuk remediasi tanah sawah tercemar residu insektisida endosulfan.

Aplikasi biochar yang dikombinasikan dengan kompos pupuk kandang ayam atau sapi mampu mempercepat penurunan α-endosulfan sekitar 66,5 % pada biochar: pukan ayam (1:4) dan 70,9% pada biochar:pukan sapi (1:4).

Hasil penelitian yang dilakukan di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Pati-Jawa Tengah

Dengan kombisansi tersebut, hasil panen tanaman padi. Pada musim tanam I, terjadi peningkatan hasil antara 4,3% hingga 8,5%. Pada musim tanam II ada peningkatan hasil antara 9,7% hingga 13,1%. Pemberian biochar dikombinasikan kompos pupuk kandang juga meningkatkan hasil biomassa sawi sekitar 5,5% hingga 26,2 %.

Teknologi remediasi juga telah dijajal penerapannya pada bayam, selada, sawi, kubis, bunga kol, tomat dan lain-lain. Kombinasi biochar dan pupuk kandang pun telah dikenalkan pada salah satu kelompok wanita tani perkotaan di Pati. Teknologi itu diterapkan untuk bertanam sayuran seperti cabai, tomat, terong, bayam, dan seledri, tanpa pestisida kimia.

Bunga kol yang ditanam dengan remediasi awet segar disimpan di kulkas selama tiga minggu. Jauh lebih menguntungkan jika dibandingkan bunga kol yang ditanam tanpa remediasi, biasanya hanya bertahan sekitar enam hari di kulkas sebelum kusam dan busuk.

Hal tersebut menunjukkan bahwa produk pertanian yang ramah lingkungan, dapat memberikan penampilan yang baik, awet, serta sehat dikonsumsi. Teknologi remediasi dengan biochar dapat meminimalkan dampak kontaminan pertanian terhadap kesehatan.

Inovasi teknologi ramah lingkungan ini dapat diadopsi oleh petani serta masyarakat umum secara luas. Adopsi teknologi ini akan mencukupi kebutuhan produk pertanian sehat secara luas sehingga masyarakat dan generasi Indonesia akan sehat, cerdas, dan hebat.

 

Penulis: Elizabeth Srihayu Harsanti *)
Peneliti Balai Penelitian Lingkungan Pertanian

 

You might also like

Comments are closed.