Pantura Jateng Alami Musim Hujan Terpendek

METROSEMARANG.COM – Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Semarang menyatakan sepanjang jalur pantai utara Pulau Jawa bagian tengah mengalami musim penghujan terpendek dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Zauyik, analis cuaca di Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Semarang menyatakan musim hujan terpendek di Jawa Tengah dipicu badai El Nino yang masih terjadi sejak awal tahun ini.

Foto: ilustrasi El Nino
Foto: ilustrasi El Nino

“El Nino sangat mempengaruhi tinggi rendahnya curah hujan yang mengguyur Jawa Tengah,” ujar Zauyik saat dikonfirmasi, Senin (21/3).

Zauyik menjelaskan berdasarkan pengamatan citra satelit BMKG diketahui curah hujan di jalur Pantura hanya berkisar 80-100 milimeter per 10 hari terakhir.

Menurut Zauyik dengan intensitas curah hujan yang rendah membuat massa udara yang ada di semua daerah Pantura menjadi menurun. Hal inilah yang akhirnya memicu kelembaban udara turun drastis dari kondisi semula.

Seperti diketahui kabupaten/kota yang berada di jalur Pantura Jateng antara lain Brebes, Pemalang, Pekalongan, Tegal, Slawi, Batang, Kendal, Semarang, Demak hingga Blora.

“Dengan massa udara yang rendah otomatis curah hujan jadi berkurang. Dan hal ini membuat cuacanya sering berubah-ubah. Untuk hari ini cuaca diprediksi panas tapi masih ada peluang diguyur hujan dengan intensitas sedang,” sambungnya.

“Citra satelit kami memantau sejauh ini peluang hujannya masih ada meski tidak lagi deras seperti yang terjadi di Jawa bagian selatan,” lanjut Zauyik.

Zauyik menambahkan musim penghujan yang terjadi sejak akhir Desember 2015 diperkirakan akan usai pada pertengahan April 2016 nanti. BMKG menyebut curah hujan paling tinggi terjadi pada awal medio Februari kemarin.

“Kami mengimbau warga Pantura agar mewaspadai anomali ini dan diharapkan memperbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.