Pantura Terendam Banjir, Salah Paham RUU Kekerasan Seksual, dan Provinsi Juara Korupsi

Salah satunya dengan menyasar kampus. Pasalnya, tidak sedikit kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus namun seringkali menguap demi nama baik perguruan tinggi

SENIN malam (8/4/2019), Kota Semarang diguyur hujan lebat yang memicu banjir di kawasan Jalan Pantura Kaligawe hingga mencapai ketinggian 60 sentimeter. Genangan masih tampak pada keesokan harinya.

Banjir diperparah karena matinya semua pompa air yang terpasang di Kali Sringin dan Tenggang. Padahal ada lima pompa di Kali Sringin dan enam pompa di Kali Tenggang. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana menyebut, pompa memang sedang dalam keadaan mati lantaran sedang ada pengerjaan pengecoran kolam.

Kondisi banjir memburuk, sebab salah satu anak sungai di Gebanganom mengalami kebocoran. Jalan Kaligawe masih rawan banjir lantaran proyek rumah pompa yang belum rampung. Sementara rumah pompa belum jadi, BBWS Pemali Juwana bakal mengakalinya dengan mengoperasikan pompa dari truk, agar banjir Kaligawe surut.

banjir kaligawe
Banjir menggenangi jalan Kaligawe karena pompa mati (foto: matrojateng.com)

 

Salah Paham RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Sebuah seminar berkaitan dengan Kekerasan Seksual digelar di Kampus III UIN Walisongo Semarang, Senin, 8 April 2019. Dalam seminar dibahas tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) yang tak kunjung disahkan. Padahal RUU tersebut telah diajukan sejak 2012 silam.

Molornya pengesahan itu salah satunya karena sejumlah penolakan yang terjadi karena kesalahpahaman atas isi RUU PKS itu. Ada kekhawatiran jika RUU PKS disahkan maka akan melegalkan zina dan LGBT. Padahal di dalamnya sama sekali tidak menyebutkan hal yang yang demikian.

Karenanya, Komnas Perempuan gencar melakukan sosialisasi RUU tersebut. Salah satunya dengan menyasar kampus. Pasalnya, tidak sedikit kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus namun seringkali menguap demi nama baik perguruan tinggi.

Salah satu perilaku yang tidak banyak dipahami sebagai pelecehan seksual yang menjurus pada kekerasan seksual adalah catcalling. Panggilan “cantik, ssstttt, manis” untuk menggoda wanita disebut catcalling. Ini adalah bentuk pelecehan seksual.

Jika ini terus dibiarkan, bentuk pelecehan seksual ini bisa berkembang menjadi tindakan yang lebih buruk, mulai kekerasan seksual hingga pembunuhan. Sayangnya catcalling seperti ini sudah dianggap hal biasa, bahkan dijadikan candaan.

 

Provinsi Juara Korupsi

Rabu, 10 April 2019, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhammad Syarif menghadiri seminar bertajuk “Optimalisasi Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi”, di Fakultas Hukum Universitas Semarang. Dalam seminar terbut, ia menyebut enam daerah juara korupsi.

Keenamnya adalah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, Papua dan Papua Barat. Data tersebut didapat dari penelitian yang dilakukan KPK, di mana ada kepala-kepala daerah dari enam daerah tersebut masuk bui karena korupsi.

Berdasar hasil penelitian, Laode menyebut, kerawanan Korupsi di Indonesia berada di lembaga penegakan hukum, lembaga minyak gas (migas) dan sumber daya alam, serta lembaga keuangan. Sementara, pemeberantasan korupsi sendiri bagi KPK masih menemui kendala yang beragam (*)

 

Leave A Reply