Uniknya Papringan, Pasar Bambu dengan Mata Uang Koin Pring

KAWASAN rumpun bambu di desa acapkali dianggap tempat tinggal segala jenis makhluk halus yang menakutkan. Namun oleh Singgih Susilo Kartono (48), papringan itu diubah menjadi pasar tradisional yang menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Itulah Pasar Papringan yang terletak di Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Sejak dibuka kali pertama pada 11 Januari 2016, pasar yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota Temanggung itu sudah tiga kali digelar. Kawasan yang semula rungkut, kotor, dan dihindari itu kini malah mendatangkan kesejahteraan bagi warga desa.

Pasar Papringan buka 35 hari sekali pada setiap  Minggu Wage. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai selapanan. Seratus persen pedagangnya warga Caruban. Mereka menjual aneka makanan khas desa. Dari makanan ringan seperti glanggem, srowol, lentheng, mendut, gemblong, grubi, jenang, kimpul kukus, kacang, hingga nasi pecel dan bubur. Ada pula es kelapa muda, aneka macam kopi, dan kefir atau minuman dari fermentasi susu murni.

Pasar Papringan di Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Pasar Papringan di Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

Uniknya, pengunjung yang ingin membeli tidak bisa menggunakan uang biasa. Uang rupiah harus ditukarkan dahulu dengan mata uang khusus yang disebut “Pring”. Yang dimaksud adalah koin dari kayu dengan satu sisinya bercap Pasar Papringan dan satunya lagi bertuliskan nilai mata uang. Nominal uangnya dari 1 pring, 2 pring, sepuluh pring, dan lima puluh pring. Jika dikurskan, satu pring sama dengan Rp 1.000.

Pada Minggu (20/3), pasar yang buka dari pagi hingga siang itu dikunjungi ribuan pengunjung. Kebetulan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang sedang gowes Bandungan-Temanggung menyempatkan mampir ke Pasar Papringan. Kehadiran Ganjar pun membuat keramaian pasar semakin riuh.

“Sebetulnya yang berjualan itu bukan pedagang, mereka semua produsen. Pada hari biasa mereka memproduksi kemudian didistribusikan ke agen. Di sini saya ajarkan produsen ketemu pembeli langsung, jadi mereka dapat nilai tambah,” tutur Singgih.

Diakuinya tidak mudah mewujudkan pasar yang sudah digagasnya sejak sepuluh tahun silam. Kegelisahan muncul ketika Singgih yang aktif bersepeda kala pagi berkeliling desa. Ia sedih melihat desanya yang miskin dan warganya yang produktif banyak mengadu nasib ke kota. Menurutnya hal itu salah. Seharusnya desa menjadi pusat kegiatan ekonomi bagi warganya. Pembangunan desa harus dilakukan tidak berperspektif kota yang hanya menekankan pada fisik bangunan semata.

Sarjana desain produk Institut Teknologi Bandung itu kemudian mencoba membuat barang-barang dari kayu dan bambu. Lahirlah radio kayu bermerk “Magno”, furniture dengan desain tradisional-inovatif, dan beberapa produk lain. Sampai akhirnya ia membuat sepeda dari bahan bambu pada 2013.

“Sepeda bambu sudah dibuat di Eropa sejak 1800-an, padahal di sana tidak ada bambu. Saya berfikir mengapa di sini yang kaya bambu tidak bisa membuat sesuatu,” kata dia.

Sepeda bambu yang diberi merk “Spedagi” (dari kata sepeda pagi) itu kemudian terkenal. Warga luar daerah, baik pakar lingkungan, penyuka sepeda, dan mahasiswa mulai berdatangan ke tempat tinggal Singgih di Dusun Kelingan  RT 02 RW 04 Desa Caruban, Kandangan. Ia mulai diundang ke berbagai negara untuk memperkenalkan konsep revitalisasi desa. Hingga menggelar Internasional Converence on Village Revitalization (ICVR).

“Konferensinya ya di Papringan, untuk menginap tamu saya buat homestay dari bambu,” cerita suami dari Sri Wahyuni itu.

Namun semuanya itu menurut Singgih belum menjawab kegelisahannya tentang pembangunan desa berdasarkan potensi lingkungan. Dari sharing ide dengan teman-temannya, lahirlah Pasar Papringan.

Karena tak punya lahan, Singgih harus menyewa kawasan papringan di Caruban dari warga. Lahan seluas 1000 meter persegi itu kemudian dibersihkan, dibuat jalan dari susunan batu, hingga nampak seperti taman yang indah.

Selanjutnya Singgih mencari pedagang pengisi pasar. Ia menemui warga dari rumah ke rumah, menawari mereka untuk berjualan. Tapi siapa mau berjualan di bawah bambu yang meski sudah indah namun sepi itu? Apalagi ada syarat lain. Masakan tak boleh menggunakan vetsin atau MSG dan bungkusnya tak boleh pakai plastik.

“Di situlah sulitnya, saya harus meyakinkan warga. gelaran pertama yang berjualan hanya 15 orang. Tapi saya berhasil mendatangkan pembeli. Ternyata ramai, meski promosi hanya lewat media sosial,” kata ayah dua putra itu.

Ramainya Pasar Papringan menarik warga lain untuk berjualan. Untuk menambah variasi, Singgih juga mengajak produsen makanan dan minuman dari daerah lain. Ada juga mahasiswa desain dari India yang memamerkan karya kerajinan bambunya. “Biar warga kami terinspirasi dan belajar kreatif,” ujarnya.

Menurut Urip (37), kini seluruh warga desa mendukung ide Singgih. Sehari sebelum gelaran pasar, warga desa bergotong royong membersihkan papringan. Urip mengaku sehari-hari menjadi buruh tani dengan pendapatan tak seberapa. Dengan berjualan jamu di papringan, urip dapat mengantongi Rp 300 ribu sehari.

“Suami saya kerja di Jakarta, pulang tujuh bulan sekali. Alhamdulillah jualan di pasar ini selalu laris, bisa bantu bayar sekolah anak,” tutur ibu dua anak itu.

Cerita Singgih mengenai konsep revitalisasi desa dan perjalanan Pasar Papringan membuat Ganjar kagum. Ia pun mengiyakan ketika Singgih meminta bantuan Pemprov Jateng agar Desa Caruban dijadikan desa mandiri berdikari.

“Syarat desa mandiri berdikari itu dua. Desa harus dapat swasembada pangan dan swasembada energi. Saya kira Caruban memiliki potensi besar. Bahkan model ini bisa diterapkan di daerah lain. (Anton Sudibyo)

You might also like

Comments are closed.